Halloween party ideas 2015

Its. Fb kenangkan sa



Oleh: Lince Kegou



Aku mencintaimu

Kawanku kekasihku

Aku tak pernah tauh

Seperti apa kisah kita nantinya

Apakah kita akan tetap sebagai kekasih dan kawan

Ataukah berakhir perpisahan 


Kekasihkun 

Biarkan aku berjalan di medan juang

Sebagai kawan bukan sebagai pelengkapmu saja

Biarkan aku tetap ikut belajar dan berjuang bersamamu

Sebagai kawan dan kekasih


Kekasihku tauhkah kau

Bahagiaku bukan ketika aku

Diberikan bunga atau puisi romantis darimu

Bahagiaku adalah saat kita bercumbu mesra

Dengan diskusi panjang kita tentang pembebasan dan revolusi


Kekasihku 

Aku sebenarnya berharap

Kita selalu bersama sebagai kawan ataupun kekasih

Bergandeng sambil berorasi tentang pembebasan

Kita akan tetap berpelukan mesra

Dikala timah panas menghujani kita

Bahkan jika itu adalah akhir dari waktu kita


Kekasihku 

Aku pun pernah berangan 

Untuk memiliki manusia mungil bersamamu

Walaupun aku tak tauh

Kelak dia akan menjadi penindas ataukah pembebas bangsanya


Kawanku Kekasihku

Bahkan jika esok 

Jadi akhir dari kebersamaan kita sebagai kekasih

Maka biarlah lusa menjadi hari kita tetap

Bersama  sebagai kawan


 Biarlah jalan tua sunyi 

Syair syair pemberontakan itu

Menjadi saksi

Bahwa walau tak bersama sebagai kekasih

Kita masih tetap bersama sebagai kawan

Dan selalu menjadi mimpi buruk bagi penguasa dan negara ini.


Medan Juang, 01 Juli 2023





 

Ist.


Oleh: R Wonda


Awan itu tempat hujan bersembunyi, bumi ini untuk tumbuh-tumbuhan. Kita selalu merawat tumbuh-tumbuhan untuk kehidupan yang Abadi.


Namun, kehidupan yang Abadi ini masih terletak pada imajinasi yang kita yakini.

kita menginginkan imajinasi itu terwujud.


Kita merindukan Kehidupan itu, kita sudah sejak lama mati dirumah kita sendiri. 


Kita melakukan sesuatu untuk mewujudkan cita-cita Kehidupan yang Abadi, itu berdasarkan Kebenaran leluhur yang akan terus diperjuangkan oleh Generasi hari ini.


Kami dibesarkan bersama duka.

Berpuluh tahun penjajahan Indonesia atas Bangsa Papua.


Hidup dalam paksaan di negeri sendiri

Terjual muka melarat tak terperih.


Melarat dihutan-hutan hingga ditelan bumi setelah bersembunyi dari jahatnya serigala berseragam.


Lupa makan dan minum, tidurpun tidak bisa karena dihantui oleh moncong senjata.


Disana West Papua terdengar suara tangisan, suara yang tak pernah berhenti sejak kita di kandung hingga dilahirkan.


hoo Air mata Mama Papua tak henti-henti saat menatap mayat-mayat yang terletak diatas tanah. Mereka telah lenyap ditelan bumi.


Mereka dilenyapkan atas Nama investasi.

Mereka dilenyapkan atas Nama infrastruktur.


Mereka dilenyapkan atas Nama Nasionalisme sempit (NKRI harga Mati).


Sebagian dari mereka masih tersesat dalam ancaman Pembunuhan. Kebingungan makin menjauhkan mereka dari kehidupan.


Kita mengalami banyak hal yang mengarah pada kematian. Kita dibutakan oleh kepercayaan, kemunafikan, keuangan, kenafsuan, kemanja-manjaan, kesejahteraan palsu, dan ketidaktahuan.


Kita tersenyum didepan mereka tapi tidak melihat tangisan kita sendiri. Kita berpesta dalam perayaan mereka tapi kesenangan itu diatas darah kita sendiri.


Kita adalah darah yang mengalir seperti Air dan daging yang terpotong untuk disantap.


Kita adalah produk yang dibentuk dan diperjualbelikan oleh Negara dan perusahaan.


Kematian menjadi Aktifitas sehari-hari untuk kita, dan Pembunuhan Menjadi kebiasaan bagi NKRI.


Ini bukan surga kecil yang jatuh ke Bumi, tapi Neraka yang belum berakhir. Neraka yang tercipta Sejak NKRI duduki West Papua.


Perjuangan untuk membebaskan manusia dari penindasan ini adalah, pengorbanan yang paling Mulia. Karena itu adalah, kehendak Tuhan.


Disaat Papua ingin berpisah, godaan manis terus mengikat erat tubuh Papua dengan janji bahwa "sayang jangan tinggalkan aku karena aku sangat mencintaimu. Aku akan membuatmu bahagia".


Cinta atau Luka, dua-duanya ada dalam satu gelas yang telah kita konsumsi. Itu telah membunuh kesadaran kita dan akhirnya kita lupa bahwa, "Dari mana saya berasal dan untuk apa saya hidup"


Penulis Adalah Sekjen 1 Aliansi Mahasiswa Papua 

admin @korankejora
                         

Oleh : Yoris Wenda

Nama ku Papua!
Aku lahir tanggal 1 Desember 1961!
Aku tidak besar dengan bapa dan mama.
Aku adalah anak tiri!
Aku tak mengenal bapa dan mama.
Aku berpisah dengan kedua orang tua, masih umur 18 hari.
Siapa bapa dan mama?
Ada dimana mereka?
Tak ada yang beritahu aku, kedua orang tua ada di sana!

Hanya aku yang pernah dengar, suara pahlawan yang sudah mendahului,  dalam impianku.
Tete dan Nene, bapa dan mama, Kaka dan adik, masih berjuang untuk membebaskanmu dari penjajah!
Karena orang tua tiri mu adalah penjajah dan penguasa!
Terhadap orang tua kandungmu!
Yang kulit hitam dan keriting rambut!

 Tetapi, apakah itu hanya mimpi  atau cerita dongeng?
Aku bingung, degan impian ini.
sedangkan aku tak pernah keluar rumah!
Aku selalu tarkurung dalam rumah seperti penjara.
Orang tua tiri, tak pernah kasih ruang kebebasan.
Aku selalu di Kawali oleh keamanan negara!

Tetapi di malam hari.
Saat aku berbaring dalam kamar.
Aku telah mendengar bisikan para penguasa, dalam satu ruangan dengan bahagia.
Katanya...! Telah berhasil berikan jaminan!
Namanya Otsus kepada orang tua Papua!

Pada tanggal 21 November 2001, sampai hingga hari ini.
Kami berikan juga Otsus  yang ke dua, serta daerah otonom Baru kepada mereka!
Namun keluarga Papua!
Tidak bisa mendengar!
Tidak bisa menerima!
Apa yang kami berikan!

Orang tua Papua adalah keras kepala, kepala batu, pemberontak, bukan manusia tapi mereka ialah setengah binatang, boneka, monyet.
Sehingga tidak ada solusi lain, untuk tenang kan mereka!
Hanya kami bisa upayakan kekuatan militer kirim kesana
Supaya mereka takut dengan tindakan kekerasan
Kata-kata itu telah aku dengar.

Ooo..... Tuhan, berarti yang aku tinggal sama-sama bukan orang tua kadung.
Mereka adalah pencuri, penjajah, penguasa.
Dimana mereka culik aku, masih umur 18 hari hingga sampai hari ini.
aku sudah berumur stengah abad.

Dimana bapa dan mama  yang sebenarnya?
Dimana Kaka dan adik yang sebenarnya?
Dimana semua keluarga yang sebenarnya?
Aku bingung untuk cari mereka.
Aku bingung untuk bertemu dengan mereka.

Oo.... Allah bangsa Papua dan tulang belulang!
Muking ka!
Orang tua tiri dijajah adalah orang tua kandung aku, yang sebenarnya.

Allah bangsa Papua dan tulang belulang!
Lindungilah mereka yang tak salahpun disalahkan!
Apakah itu takdir Tuhan?
Atau itu perbuatan manusia?
Dengarlah suara ku...!
Dengarlah suara ku...!

Dengarlah suara ku...!
Nama ku Papua!

Aku tak akan pernah melupakan mereka!
mereka adalah orang tua ku!
dengarlah suara ku...!
aku akan menunggu perjuangan untuk membebaskan ku.
Dari rumah penjajah dan penguasa.

Malam itu aku Mimpi!
bukan cerita dongeng!
Malam itu aku mimpi!
Adalah realita dan sandiwara.

(Penulis adalah Anggota Aktif Aliansi Mahasiswa Komite Kota Malang)

Pejuang Pembebasan Nasional Papua Barat @korankejora


Semangat perjuangan sedang berkobar

Hancur kandas di tengah kecerobohan...

Peluru tima menelusuk badan

Menunggu waktu datangnya kematian

Bom berteriak pertanda memancing emosi

Terasa gempa seluruh tubuh ini

Tak peduli hidup mati

Satu dekade telah terlampaui

Ribuan pahlawan telah mati

Detik ini ribuan darah telah tertumpah

Detik ini ribuan nyawa telah melayang

Detik ini ribuan belulang telah berserakan

Sebuah harga yang harus dibayar.....

Demi terwujudnya cita-cita bangsa

Satu kata Merdeka.

Detik ini kebenaran sejarah telah terungkap

Detik ini Papua telah merdeka

Bangsa besar telah lahir

Terwujud dengan semangat para pejuang

Yang terbayarkan dengan tetesan darah dan air mata

Serta jiwa-jiwa yang berkorban

Demi satu kata merdeka

Tak terhitung jiwa gugur di medan pertempuran

Darah segarmu meresap ke dalam sela-sela tanah air

Peti kematian sudah tak mengerti

Dengan bangga jenazahmu tersenyum....

Menyaksikan kemenangan yang tak pernah kau nikmati

Semua demi, satu kata merdeka.


Malang, 7 April 2022 


Penulis : Yoris wenda

( Penulis adalah Anggota Aktif Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang )






Oleh: R Wonda


Fenomena Rasial telah menciptakan ledakan Amara Rakyat Papua, api yang tak terkontrol menaruh harapan pecahnya Revolusi West Papua.

Sayang oo sayang, panggung Revolusi diduduki birokrasi Kolonial Indonesia yang mengubah harapan Rakyat Menjadi penderitaan berkelanjutan.

Kini api telah redup, terjadi kriminalisasi dimana-mana hingga Pembunuhan. Teror intimidasi Terus merawat traumatik.

Sungguh Tragedi ini membela jantung juga racun yang memakan tubuh hingga melegitimasi rasa dalam Ingatan itu adalah Luka lama yang tergores sebab Diskriminasi Rasial ini telah subur berdekade.

Ketika langit mulai tenang, datanglah sang anak bernama kejora. Ia seperti tidak asing dengan kekejaman manusia atas Manusia lain yang lemah.

Ia tersenyum lebar pada mereka yang terbentur dengan kepahitan hidup ini. Mereka yang lelah dan dipenuhi beban ini mulai terhibur.

Mata yang mulai memahami jeritan, dan senyum manis yang membuat candu. Tapi disitulah letak semangat barah api hidup.

"samar terdengar suara kemusyrikan melintasi sekat sekat urat nadi di antara cahaya matahari, aku datang dari yang mendatangkan".

Disana West Papua terdengar suara tangisan, suara yang tak pernah berhenti sejak aku di kandung hingga dilahirkan.

Saat ini ku saksikan kekerasan aparat dengan mata kecilku ini, dan aku sadari bahwa aku adalah korban dari pada kekejaman NKRI.

Tapi mereka yang lebih dulu menangis, mereka menolak tunduk pada tirani penindasan yang berlipat-ganda.

Akupun menolak tunduk pada Kolonialisme dan Imperialisme, maka hari ini aku berdiri di garis keras Sebagai bentuk perlawanan.

Bersama mereka yang disiksa, dicaci-maki, diperkosa, hingga dibunuh oleh NKRI. Mereka yang menolak demor walau kadang lelah.

Mereka yang terus merawat api sedikit demi sedikit, walau kadang tidak makan apalagi istirahat.

Inilah bentuk ekspresi wajah dari para pengungsi, korban pembantaian, juga Pembunuhan yang terus digencarkan oleh Kolonialisme Indonesia.

Penderitaan inilah yang melahirkan Pemberontakan tanpa henti, itulah Bangsa Papua, itu adalah Bangsaku, akulah Bangsa Papua.


Penulis Adalah Aktivis Self Determination For West Papua


Ilustrasi Orang papua di paksa, Sumber Suara.com



Oleh: Hery Meaga


Di Kala itu, aku pernah. Iya, ku pernah berkibar di langit ufuk timur dan menghiasi bumi Cenderawasih dengan warna- warniku Merah, Biru dan Putih.

Aku pernah menari di langit biru dan membuat seorang wanita yg sedang mengandung itu menangis bahagia hingga, air mata nya tak terbendung.

Dalam hati ku berpikir "kini ekspektasi ku telah tercapai" Namun, sayang. ternyata itu salah, Semuanya hampa !! Kebahagian itu berlalu bagaikan mimpi.

Aku ingin abadi di langit dan menari di setiap gunung, pesisir pantai, setiap lembah, ataupun hutan rimba sembari menemani setiap insan dalam tangis maupun bahagia.

Namun, kini aku teralienasi dari rumah sendiri, tempat sendiri, ditolak hingga aku terkucil dan diasingkan dari bumi Cenderawasih yang ku cinta. 

Hati sangat teriris dengan melihat semua ini dan hanya bisa meratapi nasib dari lorong nan sunyi bersama pusara- pusara tanpa nama yang terbaring kaku. 

19 Desember, Ya. Itulah hari malapetaka bagiku dan tak pernah hapus dari benakku. Semenjak itu kebahagian ku di rebut paksa dengan moncong senjata.

Kalah itu hingga kini ku terbiasa dengan tubuh yang berlumuran darah dan air mata.  akhirnya setiap insan yang mau menolongku di Cap separatis, monyet, kkb, teroris dsb.

Barangkali jiwa dan roh ku telah dikubur hidup- hidup di kala 19 desember 1961

dan kini ku hanya bisa meratapi nasib sedih. Nasib nan tak pernah di impihkan.

Namun, aku belum Mati. dan takkan perna Mati!! Sesungguhnya, Jiwa dan Rohku akan terpatri dalam setiap insan yang lahir dari rahim- rahim nan Tertindas dan Terhisap.


Dewata, 15 maret 2022


Penulis Adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) KK BAli



Oleh: Rudy Wonda


Semakin kau berani menantang kejahatan, Cendrawasih Juga akan terbang mengelilingi buminya.

Terbang membawa cinta, agar manusia Sadar bahwa kehidupan ini berkat darimu Alam semesta.

Supaya manusia melihat betapa tangismu dan kelu-kesah yang kau sampaikan melalui bencana longsor, bancir Bandan dan laut yang ganas.

Harus diketahui bahwasanya, Papua terbelah dua karena kehilangan jati dirinya. 

Lalu Kini hubungan manusia dan Alam, semakin tidak relevan sebab monopoli Kapitalisme.

Waktu Terus memutar bumi, Pemanasan global juga Terus mengisap energi Alam dan itu mengancam kehidupan manusia.

Penderitaan terus berkepanjangan, karena jiwa-jiwa itu didominasi oleh egois. Akhirnya tidak ada jalan untuk bersatu.

"Kebebasan Abadi Butuh Revolusi. Namun tanpa persatuan, adalah mimpi yang Mati".

Cinta yang Abadi, dan untuk mengabdi pada Cinta, Mereka yang ada dibalik jeruji besi, mereka memberikan cinta pada alam semesta. Dan mereka yang masih bersuara dijalanan dan dihutan Rimbah, mereka menjaga Cintamu.

"Revolusioner sejati dipandu oleh perasaan cinta yang luar biasa. Mustahil untuk memikirkan seorang revolusioner sejati yang tidak memiliki kualitas ini." (Che Guevara).

Suara yang lahir dari tangis leluhur dan para pengungsi yang masih bertahan menentang penindasan, Suara ini merindukan Cintamu Alam semesta.

Oleh karena itu, Untuk luka yang membusuk dalam NKRI, langit akan terus Merah. 

Dan untuk tanah air tercinta, Bintang Kejora akan terus Berkibar.


 R Wonda.

(05/02/2022).


Photo Perantara. 

Karya, Grace Yeimo


Perempuan Bukan Cuman Untuk Di Tiduri
Perempuan Bukan Untuk Di XPLOITASI
Perempuan Bukan Bahan PERKOSAAN
Perempuan Bukan Di Jadikan Budak NAFSU
Perempuan Bukan Pemuas

Birahi,Tapi Perempuan Untuk Di Hargai
Perempuan Untuk Di Hormati
Perempuan Untuk Di Setarakan
Perempuan Untuk Di Sejarahkan
Perempuan Untuk Di Perlakuan Adil.

Karena Dari Rahim Perempuan Kita Dilahirkan Dari Asi Berkembang 
Dengan Baik Sebab Mereka Bertaruh Nyawa Demi Melahirkan Kita. 
Mereka Tidak Butuh Di Agung-Agungkan.
Mereka Ingin Di Setarakan 
Berilah Hak Kaum Perempuan 
Setulus Kita Mencintai Orang Tua Kita
Sayangilah Layaknya Menyayangi Ibu Kita
Dan sayangilah istrimu lebih dari apapun.

Lelaki itu di lahirkan oleh wanita .
Di besarkan oleh wanita ,
Di cintai oleh wanita ,
Menikah dengan wanita ,
maka anda sebagai pria sadarlah & hargailah wanita
dengan sepenuh hatimu seperti anda menghargai ibumu.

**Toputo Kumba**


Photo Perantar (KJ-Arsip)




Karya, Grace Yeimo

Hari ini....


Kaki berpijak diatas tanah kolonial,

Setiap langkah harus ber-revolusi;


Irama hidup ini mengenalkan seni,

Tak berdaya jika membantahnya;


Lantunan doa hanya harapan,

Kesabaran menjadi ujian;


Dinding jam menjadi acuan,

Seolah sang waktu menjadi Tuhan;


Jika kesadaran adalah kunci kebebasan,

Kenapa kita menunggu untuk sadar,


Darah terus berceceran dimana-mana,

Air mata terus menbanciri tubuh;


Jika itu yang sedang terjadi ,

Apakah untung bagi kita untuk berdiam;

............


Seolah umur akan memihak,

Seolah tubuh akan selalu kuat,

Sayangnya waktu tak selalu berpihak;


Sedih jika maut menyapa,

Sedih jika tak sempat berbicara;


Hari ini adalah penentu ,

Hari ini adalah kunci,

Masa depan Bangsa Papua ada ditangan Gerak dan Peran Kaum muda ;


Sadar adalah kemajuan,

Persatuan adalah kekuatan;


Jika hari ini kaum muda Papua sadar dan bersatu,

Maka yakinlah tempok sebesar tembok Berlin pun akan  runtuh.


Derita yang tiada akhir ,

Kemerdekaan adalah solusi.

 

Toputo_Kumba

Medang Juang 19/04/2021




 

Photo Obby Kogoya 2015 di Yogyakarta

Karya, Fransiskus Tsolme


Bumi Cendrawasih 

Dijarah hingga terhimpit

Keadilan dijadikan fana

Tangisan manusia Papua terabaikan


Katanya mereka punya hati

Hanyalah sampah belaka

Manusia papua telah mati

Dicekik Negara dan hukumnya tak jelas


Tangisan manusia Papua tak terhenti

Cendrawasih terbang hingga lenyap

Mau bagaimana?

Pohon-pohon telah terendam darah

Manusia Papua


Kian pusat Negara ini

Masih mendekatinya 

Dengan tindakan keamanan

Walau manusia papua memeliki hati

Menembus tembok surga


Keadilan dilontarkan panas

Tak disbanding hati yang dingin

Kian tangisan keadilan

Telah menahan dalam tragis


Media pun dijebaki propaganda

Mulai menuai kebohongan 

Tangisan keadilan manusia Papua

Terus subur menada ABRI


Wahai keadilan tong kosong

Tangisan ini telah menuai tragis

Kian dipermainkan bagai pingpong

Rentetan kekerasan tak terhenti

Menembus jiwa-jiwa dan moral Negara


Keadialan mungkin ungkapan mulut

Walau hati tak menuai gandum

Kian adil yang perih direkam jejak

Hingga kini diperkosa.

 

Karya, Frans Pigai

Kita, rakyat Papua (manusia utuh yang tak retak pada realitanya)

Sedang bergerak maju memenangkan perjuangan


Kita baru saja menghantar perjuangan pada tingkat dimana kepentingan kolonialisme dan kapitalisme terancam

Kita tetap pegang kendali perjuangan erat sambil menyadari bahwa kita sedang berhasil


Mari kita bersuara dan bertindak

Merubaha dunia kekelaman kejahatan ini

Berhasil mencapai tantangan yang lebih berat untuk mengakhiri penderitaan bangsa kita


Kita tidak perlu resah

Apalagi terhasut emosi

Terhadap kelompok reaksioner pro kolonialis dan kapitalis yang lahir karena aksi nyata perjuangan kita


Provokasi kekerasan dengan terminologi rasis dan agamis ialah ciri khas imperialis dan kolonialis

Itu cara lasim yang dilakukan saat rakyat tertindas bangkit mengancam eksistensi mereka


Ketahuilah bahwa kami semua merasa sangat terganggu dan tersinggung oleh ucapan dan tuduhanmu mengenai patung-patung hidup

Tuduhanmu bahwa kami adalah patung-patung aneh, sungguh sangat aneh dan asing bagi kami


Dermaga Ternate - Sorong, 05 Agt 2018


 


KaryaOskar H. (Gie)

Jika kami hidup 
kau adalah senjata 
yang tak mengenal HAM 
kau lebih suka membunuh 
dan menjarah tanah kami

Jika kami sakit 
kau adalah jarum suntik 
yang tak mengenal pelayanan 
kau lebih suka dibayar 
ketimbang menyembuhkan 

Ketika kami mati 
kau adalah penindas 
pembunuh dan pencuri 
yang selalu mengingini 
tanah leluhur kami 
sedangkan nyawa kami 
tak ada harganya di matamu 

Tapi kami akan bangikit 
bersama dengan pemberontakan kami 
melawan penindasanmu 
layaknya keyakinan kami:
"Papua Merdeka" 

Batavia, 07 Feb 2019



 

Karya, Oskar H. (Gie)

Pada langit kata 
kehidupan para dewa bercerita 
saya pikir bahwa sungai-sungai 
adalah dewa yang jerni dalam keheningan jiwa 
tapi juga seram dan perkasa, 
liar dan keras dalam memukul

Sesungguhnya Ia dewa yang sabar 
penuh dengan sebuah batas 
sunggu berguna tanpa dapat dipercaya 
mengusung peradaban kehidupan 
mempertahankan kebaikan dari keseimbangannya

Tapi jalan terbuka, berlalu-lalang
kehidupan mengemas pembangunan 
tanah-tanah dirusak, dicabuli dalam ula keegoisan 
dibiarkan menjerit dalam kalbu 
Hingga dewa yang jerni hampir dilupahkan 
oleh penghuni, tahu namun dilupakan

Kini tak disadari, irama kesadaran alam 
seakan kejam dari kekejaman 
hadir di kamar tidur anak-anak 
dalam jajaran rumah berlabu di pelataran Maret 
Juga tumpukan bau bejek di kampung, 
bergelinang kental dalam lingkungan malam 
di balik cahaya musim hujan yang ganas

Oh' dibalik kalam malam 
aku merasa kepahitan jiwa yang mendalam 
membunuh kedua bola mataku 
menghanyutkan setiap denyutan yang bernafas 
mengapung abadi cerita duka di kota ini

Maafkanlah kami ya Tuhan dan Alamku 
jangan ada lagi bencana di tanah ini 
berilah kami kekuatan untuk tetap baik 
berilah kami kesadaran dari keseimbangan kasih-Mu

(Cemaradua, 19 Maret 2019)


Ilust. Photo Jakarta aksi Tolak Rasisme


Karya, Wo Yao Ziyou

Gunung pernah tumpah darah
Pantai pun pernah tumpah darah,
Gunung pernah air mata jatuh
Pantai pun pernah air mata jatuh
Demi tanah ini,
Tanah Papua yang kita cinta ini

Gunung dipanggil monyet,
Pantai dipanggil monyet
Gubernur di panggil monyet
Bupati di panggil monyet
Pejabat di panggil monyet
Rakyat dipanggil monyet
Pengkhianat di panggil monyet

Apa kita sadar dengan panggilan itu?
Apa kita menerima dengan lapang hati?
Apa kita anggap semua telah berlalu? Dan
Dan semua baik-baik saja?
Oh tidak,

Jangan kakatan rasis telah berlalu,
Jangan katakan darah tak kan menetes lagi,
Jangan katakan air mata tak akan mengalir lagi
Jangan katakan kita tetap satu
Jangan katakan kita hidup sejahterah
Jangan katakan keadilan berlaku bagi kita,
Jangan katakan hidup kita aman dan damai

SEBAB
Selagi kita hidup bersama manusia,
Nyawa kita terus melayang
Darah kita terus mengalir
Air mata kita terus berlinang
Rasis terus mendera kita
Hidup kita tak kan aman dan sejahterah
Keadilan tak kan berpihak kita

Monyet tak layak tidur sekelambu dengan manusia,
Kini tibalah saatnya monyet hidup bebas diluar manusia
Dengan cara menolak OTSUS jilid II

Gunung, pantai, pejabat dan seluruh rakyat Papua
Yang berdiam di atas tanah Papua ini
Ayo mari kita TOLAK OTSUS Jilid II dan
Menuntut Hak Menentukan Nasib Sendiri bagi bangsa Papua,

Jika kita tak menolak OTSUS jilid II dan
Kita lewatkan kesempatan ini
MAKA
Entah berapa nyawa yang akan melayang di atas tanah Papua ini,
Mereka memperlakukan kita lebih dari hewan dan binatang,
Mereka menganggap kita anak  kecil yang mudah dibujuk dengan uang dan bangunan (seperti anak kecil bujuk dengan bunga ketika anak kecil menangis) ketika nyawa manusia melayang.

Tolak OTSUS Jilid II dan Berikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa Papua Barat

Ilst.Perantara Media
Karya, Wo Yao ziyou

Yang haus akan Merdeka semakin haus,
Yanng lapar akan Bebas semakin lapar,
Yang ingin akan merdeka semakin ingin,

Yang rindu akan Lepas semakin rindu,
Yang berduka atas melayangnya nyawa manusia tak berdosa semakin berduka,

Tetapi
Yang bahagia di atas penderitaan orang lain semakin bahagia,
Yang rakus akan jabatan dan pangkat semakin rakus

Yang suka makan uang dan harta semakin suka
Tak peduli kepada mereka
yang haus, lapar, ingin, dan
Menderita akan bebas,

Yang dibutakan dan dibisukan
oleh uang darah semakin buta dan bisu
Melihat dan mendengar tangisan dan ratapan anak negeri di jalanan.

Begitulah nasib surga kecil kini dan besok
Lusa nasibnya lebih buruk lagi
bila tidak di atasi dengan bijak dan gigih...

FreeWestPapua

Ilst. Photo dari Internet
Karya, Wo Yao Ziyou

Aku terlahir di pulau ini
Pulau yang paling indah
Bagai surga kecil ini   

Bukan untuk dibunuh,
Bukan untuk dijajah
Bukan pula untuk dirasis

Ketahuilah
Kau yang buta dan bisu
Kau yang tak tahu hargai ciptaan TUHAN

Pulau yang indah ini
Dihuni oleh manusia seperti dirimu
Seperti dirimu yang ingin bebas kala kau dijajah
Seperti dirimu yang ingin dihargai kala kau di rasis 

Aku ditempatkan pulau yang indah ini 
Untuk menjaga dan melestarikan alam ini
Alam indah yang TUHAN ciptakan ini 
Untuk bebas menentukan nasibnya sendiri
Sebagaimana kau menentukan nasibmu sendiri

Pulau ini bukan dihuni oleh Kera dan Gorila
Yang seenaknya kau bunuh dan buru
Yang seenaknya kau tangkap dan penjarakan
Bebaskan aku sebab aku terlahir untuk hidup bebas.

Free West Papua

KJ, Projeck
 Karya, Oskar H.  (Gie)

Pagi hingga siang
di negeri Ndugama ini
alam semakin menangis
menyaksikan tragedi kemanusiaan
yang terjadi

Bisu rasanya disini
yang terjadi terlihat semakin nyata
Semua terasa musnah
dan semakin musnah
manakalah disini sedang perang,
namun di buat seperti tidak perang

Kini hanya terlihat di mata alam
Alam negeri semakin menjerit
tertindas dalam tangisan lara duka
melihat mama-mama menangis

Oh kawan di kiri jalan

Alam menangis sepanjang hari
sayang ini mesti kita atasi
jangan biarkan ini terjadi
Mari hapuslah tangisan
di atas Negeri Ndugama West Papua

Pengunggsi 2019 Nduga West Papua
Karya, Oskar H. (Gie)

Angin sepoi-sepoi
alam membisu
akal sehatku berantakan
di kampung Ndugama

Terlihat luluh lantak
kepala hancur berantakan
darah berserahkan
kacau balau situasinya
inikah penindasan ?

Kampung halaman
yang terbuat dari leluhur
t'lah jadi sarang peluruh
Harapan kehidupan generasi
dan masa depan alam-budaya
juga ikut habis perlahan-lahan

Kini tak ada lagi
senyum mama-mama di honai
hanya air mata di pipi
terisak-isak bagai sembilu
yang teriris

Oh' begitu sunyi
dalam kedukaan ini
memang benar, ini penindasan!

Foto lustrasi, knpb
Oleh: Victor Yeimo*

Basis kekuatan revolusi adalah rakyat. Tugas paling penting saat ini adalah "baku kastau". Kastau ade, kaka, anak, maitua, paitua, bapa mama, teman, tetangga. Kastau siapapun, kapanpun, dimanapun anda ketemu.

Kastau bahwa kitong akan habis punah kalau masih ada dalam genggaman kolonial Indonesia. Kastau bahwa tanah air beserta isinya sedang dikuasai habis, dan kelak kita menjadi orang asing diatas tanah air kita kalau masih ada dalam genggaman kolonial Indonesia. 

Karenanya, mengejar gelar, jabatan, uang, kehormatan dan kemewahan dalam kolonial dan kapitalis itu semu, sesat, tra berarti, tra menjamin masa depan bangsamu Papua. Kolonial Indonesia juga hanya butuh ketergantungan dan kepatuhan dalam kekuasaannya. Agar kau jinak, tidak memberontak, dan mendukung program kolonialismenya.

Baku kastau bahwa satu-satunya jaminan masa depan tanah dan manusia Papua adalah kemerdekaan Papua. Kastau kalau jalan menuju kesana adalah perjuangan. Kastau perjuangan yang real dimulai dari kembali kontrol hidup anda. Bagaimana ambil alih kontrol hidup anda?

Ambil kontrol hidup kembali artinya memimpin diri dahulu. Jangan biarkan diri dipimpin oleh nafsu, ambisi, ego, dan emosi sesat dan sesaat. Pimpin diri berarti hindari doktrin kolonialisme yang datang dalam bentuk dan kemasan "baik, benar dan menjanjikan" melalui pendidikan, pemberitaan media, kampanye, seminar, pelatihan, khotbah, dan segala agenda pembangunan dan kesejahteraan milik kolonial Indonesia. 

Kalau sekolah/kampus didik nasionalisme, sejarah dan ideologi NKRI, tugas kita untuk baku kastau sejarah bangsa Papua, nasionalisme dan ideologi bangsa Papua kepada anak, adik, kaka, kawan, dsb. Jangan menonton berita-berita di TV di Papua yang menonjolkan kinerja dan program-program pemerintah lokal dan nasional, karena tujuan pembangunan itu selain media pencitraan tapi juga untuk membuka akses bagi kolonial dan kapitalis kuasai tanah air kita. 

Memimpin diri juga berari memulai mengkonsumsi makanan lokal dari pribadi dan keluarga di rumah. Bikin kebun atau belilah makanan lokal seperti sagu, keladi, pisang, singkong, petatas, dsb. Karena beras dan program raskin (sekarang Rastra) adalah agenda politik kolonial agar rakyat Papua terus tergantung dengan kolonial Indonesia.

Baku kastau adalah baku bantu. Sebelum kastau orang lain kastau diri dahulu. Pimpin diri dahulu. Sadar diri dulu. Sadarkan otak dan hati. Buka mata lihat realitas penindasan yang datang dalam bentuk baik, benar dan menjanjikan itu. Setelah itu sadarkan yang lain. Pimpin dan tuntun yang lain. Bagaimana memimpin.

Memimpin orang lain itu membuat orang lain memimpin dirinya sendiri. Memimpin perjuangan adalah membuat orang lain (rakyat) menjadi pejuang. Membuat rakyat memimpin dirinya sendiri. Artinya rakyat sendiri sadar dan bergerak keluar untuk menentukan nasibnya. Membuat rakyat tidak lagi tunduk terjajah, tetapi bangkit melawan.

Baku kastau itu dimulai dari ruang sel-sel kecil di keluarga dan kerabat kerja. Sel-sel itu saling menyatu dalam kebutuhan yang sama dan menjadi sektor-sektor yang terorganisir, terpimpin dan revolusioner. Disitulah ruang diskusi demokratis dilakukan untuk mengambil keputusan perjuangan yang akan dijalankan bersama. Disitulah kritik dan otokritik dilakukan demi mencari dan menyepakati strategi taktiknya.

Pengorganisiran yang seperti itu adalah agar rakyat yang sadar itu tidak dicuri kembali oleh kolonial. Agar yang sadar itu tidak hanya tunggu mujizat Papua Merdeka datang dari luar negeri atau luar angkasa atau dari satu pemimpin perjuangan. Tetapi tetap solid dan berjuang di sel-sel dan sektor secara nyata setiap hari. Adalah bagian dari memimpin dirinya sendiri. Agar rakyat di basis tidak tidur dan mimpi-mimpi saja sementara realitas hidupnya ada dalam kolonial.

Baku kastau untuk solidkan diri dalam struktur basis dari sel hingga nasional adalah bagian dari membangun struktur perlawanan melawan kolonial dan kapitalis yang terus menguasai kita secara struktural. Organ basis itu tempat kita membangun budaya perlawanan. Kualitasnya diukur bukan karena euforia sesaat tetapi berulang-ulang dalam proses waktu hingga kematangan revolusioner terjadi.

Mari baku kastau!

* Penulis adalah aktivis KNPB, mantan anggota AMP, Juru Bicara Internasional. 


Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats