Halloween party ideas 2015

Gambar pribadi Alm. Albert Mungguar

Keluarga besar organisasi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengucapkan turut belasungkawa atas berpulangnya kamerad Albert Mungguar. Mendiang menghembuskan nafas terakhir pada dini hari, pukul 3:45 subuh (16/01/2020) waktu Papua dari rumah sakit Dok II setelah sakit kurang lebih 6 bulan menderita penyakit radang usus dan paru-paru.

AMP betul-betul merasa kehilangan satu pelopor terdepan di barisan perlawanan hari ini, setelah belum lama ini Kamerad Roy Karoba, mantan ketua AMP Yogyakarta, juga pernah jadi pengurus pusat AMP masa kepemimpinan Jefri Wenda, lalu bebera hari yang lalu AMP kehilangan kamerad Dalinus Wakerwa, anggota AMP KK Bali.

Kamerad Alm. Albert Mungguar aktif di organisasi AMP, menjabat sebagai sekretaris II Komite Pusat AMP. Ia dipilih sebagai sekretaris melalui kongres Nasional AMP ke-IV dari kota Yogyakarta pada Februari 2018.

Sebelumnya Ia menjadi sekretaris AMP komite Kota Jakarta periode 2015-2017. Ia mulai kontak dengan pergerakan di tanah kolonial, terutama pergerakan mahasiswa di Jakarta pada 2014, tahun-tahun awal beliau dari Papua datang ke Jawa langsung pegang Megaphone dan berdiri di samping kamerad Jefri Wenda, Frans Nawipa, Adhen Dimi, Jhon Gobai dan kawan-kawan lainnya, lalu terus melantangkan suara-suara perlawanan di sana.

Sepanjang tahun 2014-17 AMP mengalami masa yang paling sulit, terutama membangun pergerakan di AMP di kota Metropolitan. Aksi massa bisa jadi hanya berjumlah 4 sampai 6 orang saja. Sepanjang masa sulit itu Albert terlibat dalam proses pembangunan basis massa di Jakarta. Hingga FRI WP terbentuk beliau aktif memberikan pemahaman kepada orang-orang Papua di Jakarta bahwa pentingnya solidaritas, persatuan dan aksi bersama, bahkan turun ke basis-basis asrama dan terus menggalang diskusi-diskusi penyadaran bersama kamerad-kamerad lainnya, diantaranya: Siwa Hesegem (sekjen AMP Jakarta 2018-2020), Erol, Ruland Levy, Kolari Wanimbo, Iche Daby, Helena Kobogau (mantan Ketua AMP KK Jakarta 2018-2020).

Aktivitas politik Albert di pulau Jawa, terakhir kali Ia ikut demonstrasi di Jakarta, aksi yang berujung penangkapan the six tapol Papua. Karena nama beliau masih di sebut-sebut dalam BAP the six Jakarta oleh Polda Metropolitan, Ia bersama beberapa kawan-kawan segera lari keluar kota Jakarta. Dalam kondisi itu Ia aktif selesaikan tugas presentasi karya skripsinya di Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta. Usai itu Ia pulang ke Papua dan bergabung bersama kawan-kawan yang pulang karena situasi rasial dan teror, yang belakangan menamai diri mahasiswa Eksodus.

AMP mendapatkan kabar terakhir tentang kondisinya setelah mendiang sakit 3 bulan; berdiam diri di kos-kosan yang tersembunyi dari aktivitas kawan-kawan lainnya.

Pada kesempatan ini juga AMP mengucapkan banyak terima kasih kepada kawan-kawan yang telah membantu banyak hal dalam proses pengubatan, merawatnya, hingga beliau menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan Ia sebagai seorang pejuang muda Papua.

Sekali lagi AMP mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya kepada Ayah dan Ibu tercinta dari kawan Albert. Terima kasih banyak untuk dedikasinya, hadir sebagai Guru pertama baginya hingga Kawan Albert menjadi seorang pejuang yang sungguh suguhi ilmu pengetahuan dan hidupnya untuk perjuangan pembebasan rakyat West Papua. Anda hebat atas semua nasihat dan pelajaran kasih sayangnya, sebab itu yang selalu membuat semua kawan-kawannya merasa selalu dekat dalam perjuangan. Ia mewarnai gambar tersendiri sebagai seorang Albert Pahabol, laki-laki asal Yali yang pantang mundur, pemberani, bermental pemberontak, pemilik murah senyum dan sosok pejuang yang tenang;

juga kepada semua saudara, adik, kakak, keluarga terdekat yang di tinggalkannya, semoga Tuhan memberikan ketabahan dan kekuatan kepada kita semua.

Selamat jalan kamerad Alm. Albert Mungguar alias setan penguasa hutan, sampaikan salam rindu untuk kamerad Roy Karoba, Rinto Kogoya, Oto Parianus Kudiai, Mas Sayur, Abbi Muyapa, Musa Mako Tabuni, Dalinus Wakerkwa, dan semua kamerad yang sudah mendahului perjuangan ini.

Sampai ketemu di Alam sana, sayang, waaa, Nare.

Sabtu, 16 Januari 2021

 

Komite Pusat

Aliansi Mahasiswa Papua


gambar kamerad alm. Wilson Nawipa, saat berorasi di aksi longmarch 15 Agustus 
2015:  New York  Agreement, di kota Surabaya

Penulis: Rudy Pravda*

Duka bagi mereka yang pernah bersama Wilson Nawipa, berjuang karena melawan kelaliman, dan keserakahan, yang dialami bangsa yang sudah seharusnya bahagia sejak lahir. Namun, dianeksasi (dipaksakan) dengan intervensi politik senapan dan pembantaian. Duka itu tidak saja melahirkan ingatan tangisan terseduh-seduh, bagi yang tersisa (sisa-sisa) yang hidup, tak seperti banyaknya bintang-bintang di langit, tapi sedikit bintang itu masih menyediakan cahaya bagi segenap (sisa-sisa) untuk bertahan, dan harus melanjutkan tugas yang mulia.

Kata Gobai: Kalau kau pergi meninggalkan pekerjaan ini, siapa lagi yang akan kerja, kau bangsat! Penipu! Artinya kau menanam benih kerinduan yang tak terbatas sayap mulianya. Bagi aku, mereka, dan siapa saja yang dalam memoar perjuangan konsisten menyerahkan secara sukarela hidupnya untuk kemanusiaan/merdeka, hingga kau tamat duluan, dan episode bintang-bintang terang itu kami lanjutkan.

Begitulah, kau hadir menanam benih tanpa restu kau selalu mencari jalan untuk tetap subur bermekaran bungan-bungan, indah dan tak takut mati. Kau sendiri, kami, dihadang ancaman, teror, bermimpi bebas, dari rantai kebinatangan, sampah manusia-manusia jahat. Kau sendiri, kami, terus melewati berbagai macam superioritas kekuatan bersenjata, rezim antek binatang berkaki dua. kau sendiri, kami, berhadap-hadapan dengan kemauan sejati, tapi kemauan itu selalu ada tantangan, hingga kami akan tetap selalu menyampaikan kebenaran diatas pertimbangan kenyamanan, karena hidup adalah tanggung jawab terhadap pikiran.

Sampai-sampai, aku sedang melihat kau dikadoi duka, oleh kebanyakan yang mendekam dalam kerinduan. Aku tertawa Wilson Nawipa, meski tangisan dan kesedihan telah terkumpul menumpukan menjadi kerinduan, aku tertawa Wilson Nawipa, saat kabar duka dilayangkan, aku tertawa Wilson Nawipa, saat tak pernah aku ketemu kau, tapi bisa ku dengar nama mu. Sampai-sampai tertawa tak bisa ku bendung, karena aku ingat kata itu, bahwa siapapun dia rakyat Papua, jika dipanggil Tuhan dalam pangkuannya, akan bahagia. Dan kebebasan telah Tuhan berikan kepada kau, tempat mana berminat kau pilih. Untuk rumah kau kenang dalam abadi, roh yang tak akan lagi dijahati, sebab kau diberi pelukan indahnya surga, bagi hidupmu yang kau pedomankan syarat permmintaan surga. Aku yakin kau akan marah, bila mendengar ada tangisan dan kerinduan, sebab sejatinya bangsa mu tidak diajari menangis dan berduka dalam derita dan kelaparan.

Satu bintang yang khilang

Bagaimana kau tak marah, melihat tangisan, sebab bangsa mu sudah menangis sejak 64 tahun, juga 54 tahun dilingkungan pagar besi-besi baja, mensyaratkan penjajahan. kau tampar wajah mu untuk tak buta sejarah, buta politik, buta pembunuhan bangsa mu didepan mata tanpa henti. Air mata tak cukup, membayar luka lama, luka kini, dan luka akan datang, bukan itu sejatinya sejarah rakyat mu. Para perempuan meratap, anak-anak menangis, meratap saudara-saudaranya berlumuran darah disekujur tubuh, meratap pembunuhan, dan disana sini orang-orang berjalan bagaikan berada didalam mimpi buruk. Ah, aku masih tetap tertawa, Wilson Nawipa. Sebab kata-kata itu tak dapat mengubah wajah tertawa menjadi sedih, untuk apa aku sedih, bangsat! Sebab aku di lahirlah tidak harus sedih, tokh kesedihan itu sudah sejak aku alami sepanjang 118 tahun oleh Belanda dan Indonesia. Untuk apa ku sedih, aku masih harus tertawa Wilson Nawipa. Kenapa, karena disurga nanti kau ketemu sama orang Indonesia, kau akan melatih ingatan subur sejarah, kau marah, juga bisa kau habisi, sebelum kau akan dijajah juga didalam surga.

Untuk apa aku sedih, aku harus tertawa, karena benih itu sudah kau tanam, menjadi bintang yang tersisa memberi cahaya dengan cinta dan sayang untuk berjuang sampai menang!
(Ku tulis catatan untuk Wilson Nawipa)

Penulis adalah Anggota Pembebasan Kolektif Kota Ternate, juga anggota Front Rakyat Indonesia Untuk West Papua (FRI-WP)

Catatan:
-Mengambil kata-kata dari tulisan Jhon Gobai
-Mengambil kalimat dari tulisan Danial Indrakusuma

-Mengambil kalimat dari istilah Noam Chomsky, dalam sejarah Geneosida rakyat Yahudi dan Palestina. Dan juga istilah Binatang Berkaki Dua

Foto Kamerad alm. Wilson Yopy Nawipa. Sumber: akun Fesbuk pribadinya

Keluarga besar Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] sangat belasungkawa atas berpulangnya kamerad Wilson Nawipa, Ketua AMP Komite Kota Malang, pada hari Senin, 04 September 2017, dari Paniai, West Papua. Sekali lagi, AMP sangat turut berduka kepada Ibu dan Ayah Wilson, Adik, kaka, serta semua keluarga besar Nawipa dan Rakyat Papua, atas berpulangnya seorang Pelopor gerakan Pembebasan Nasional Papua Barat, di sayap Pergerakan Mahasiswa.

Kamerad Wilson Nawipa meninggal karena sakit. Menurut data yang diperoleh dari keluarga Wilson, sejak awal bulan Agustus 2017, Ia mulai mengalami Sakit yang semakin hari makin memparah. Selama satu minggu mulai sakit dan buang-buang air. Atas kondisi itu, keluarganya membawa Wilson ke Nabire untuk pengobatan. Disana selama dua minggu Ia di dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Sriwini, Kota Nabire, West Papua.

Akhir bulan Agustus Ia dibawa kembali ke Paniai. Di Paniai, sakitnya belum pulih; dan makin parah sehingga seminggu Ia dirawat di RSUD Madi, Paniai, namun tak ada perubahan membaik yang terlihat. Sehingga, untuk mencari Indikasi lain sumber sebab sakit, keluarga memutuskan untuk membawa pulang ke rumah keluarga di kampung Kogekotu, Paniai. Pasca seminggu dirawat dirumahnya, dengan pengobatan tradisional, tak pula tertolong. Tepat pada tanggal 04 September 2017, pukul 17:30 wip, pemuda pemberani itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah keluarga.

Biografi Kamerad Wilson Nawipa

kepribadian yang tenang dan pembawaan yang ramah; murah senyum dan mudah sapa kepada siapa saja yang dijumpainya;  tampil sederhana dan selalu kalem; dan hidup yang keras terus meperkokoh tekad yang kuat sehingga apa saja nekad untuk mencobanya. Itu lah Wilson yang dikenal oleh kawan-kawannya di Kota Malang.

Wilson Yopy Nawipa adalah anak ketika dari dua belas beradik-kakak. Atas anugerah oleh Bapak Yesaya Nawipa dan Ibu Pekei, Wilson lahir pada 20 November  1994 di Kota Paniai. Wilson tumbuh-berkembang dilingkungannya, bersama Keluarganya, di Paniai. Ia banyak menghabiskan waktu dengan aktifitas bermain bersama teman-teman seumurannya di Danau Paniai. Hingga tahun 2009—Tamat Sekolah Menengah Pertama. Sejak tahun itu, Ia berpisah dari Keluarga dan teman-temannya, berangkat ke Kota Nabire untuk melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya. Sekolah Menengah Atas Yayasan Pendidikan Islam (SMA YAPIS) Nabire adalah tempat Ia berproses semakin dewasa, belajar Mandiri, memulai hidup yang baru: tidak bersama Keluarganya seperti 15 tahun sebelumnya. Tahun 2012, Wilson lulus SMA diantara ratusan Siswa lainnya. Tahun (kelulusan) itu pula Ia melanjutkan Jenjang Pendidikan berikutnya di Kota Malang, di Universitas Merdeka (UNMER) Malang.

Selama Proses Perkuliahan, Ia pun aktif di Organisasi Mahasiswa, Selain Organisasi Kampus, aktif di Ikatan Pelajar  dan Mahasiswa Papua Paniyai Raya Malang, sekaligus menjawab sebagai Pengawas (2016-awal 2017); dan menjabat sebagai Ketua Komite Kota AMP (2015-2017). Dalam Kesibukan Organisasi itu, Wilson menamatkan Perkuliahannya pada 2017 dengan gelar S.Ak (Sajana Akuntan).

Perkenalan dan bersentuhan, Wilson Nawipa, dalam Pergerakan Pembebasan Bangsa Papua Barat, khususnya di Gerakan AMP, sangat mengagumkan atas karya-karyanya, Semangat dan Patriotismenya, serta keberanian dan keteguhannya sejak awal pembangunan gerakan AMP di Kota Malang. Dia adalah sosok Pelopor Pemuda-pejuang yang secara mentalitas secara induvidu dan jiwa kepeloporannya terbangun  dalam semangat perlawanan dan kolektif dalam membangun sebuah gerakan, setelah AMP Malang mengalami levakuman selama beberapa tahun.

Peran Wilson Nawipa dalam gerakan Mahasiswa: Jejak AMP Setelah Eksodus 2009

Setelah terbentuknya AMP di tahun 1998 di Jakarta, Kemudian atas kerja pengorganisiran Mahasiswa Papua seraya perlebar AMP di Sejawa dan Bali, AMP Malang pun terbentuk sejalan pembangunan Gerakan Mahasiswa Papua yang berorientasi pada Pembebasan Nasional Papua Barat—AMP. Hingga pada tahun 2009 pergerakan AMP di Malang, atmosfir Perlawanan mengalami kemunduran hingga mati akibat Mahasiswa Papua di seluruh Indonesia (kecuali di Papua) Eksodus ke Papua pada tahun 2009. Mengalami demoralisasi yang sangat serius pasca itu.

Sejak sebelum terjadi Eksodus dan mengalami kevakuman, AMP Malang dipelopori oleh kamerad Ogram Wanimbo dan kawan-kawannya—merupakan Kepemimpinan trakhir sebelum eksodus. Kondisi kevakuman itu berjalan, khususnya di Malang, hingga tahun 2014/15 pertengahan.

Setelah eksodus, tahun 2009-2010; 2011-2013 beberapa kamerad kembali membangun pergerakan AMP di Jawa dan Bali. Mereka, diantaranya: Rinto Kogoya mengisi di kepemimpinan Komite Pusat; Roy Karoba dan Andi Gobai mengisi Kepemimpinan Komite Kota AMP Yogyakarta, bersama Yusup Kosay, Aris Yeimo, Amanuel Gobai, Fransiscus Hisage, Golo Walela, dan beberapa kawan lainnya. Pergerakan mulai dibangun dari Yogyakarta. Kemudian, berjalannya waktu, Rinto dan Kawan-kawannya melanjutkan pembangunan ke kota lain: misalnya Bandung, Surabaya, Jakarta, Bogor, Semarang-salatiga, hingga Malang—AMP Bali dibangun pada massa kepemimpinan Jefri Wenda, setelah vakum.

Hingga tahun 2014/2015, Kondisi Pergerakan Mahasiswa di kota Malang belum membaik. Tahun 2012 Wilson dan kawannya datang dari Papua untuk melanjutnya jenjang pendidikan berikutnya di Pulau Jawa. Laki-laki Alumni Sekolah Menegah Atas Yayasan Pendidikan Islam (SMP YAPIS) itu, melanjutkan kuliah di Universitas Merdeka (UNMER) di Kota Malang. Disela aktivitas perkuliahannya, Ia Juga aktif dalam Pergerakan AMP di kota Surabaya: datang dari Malang, sering ikut terlibat dalam setiap aksi massa di Surabaya—Saat itu AMP Surabaya di Pelopori oleh Seorang Perempuan, kamerad alm. Fransina Agapa (2012-2013) dan dilanjutnya oleh alm. Yanto Togotly dan Sayur Bingga (2013-2015).

Sejak itu, atas rekomendasi dari AMP Pusat kepada Komite Kota Surabaya untuk mengaktifkan kembali AMP di Malang, Kamerad alm. Wilson Nawipa dan beberapa kawan menjadi pelopor dalam pengorganisiran Mahasiswa Papua Malang hingga terbentuknya struktur. Hingga Juli 2015, Alm. Wilson terpih sebagai Ketua Komite Kota dan bersama Kamerad Yustus sebagai Sekertaris Jendral AMP bersama kawan-kawannya.

Ditengah Kesibukan Aktivitas organisasi, tahun 2017, Ia pun menyelesaikan Studi dengan gelar Sarjana Akuntan (S.Ak) di UNMER Malang. Kemudian, di awal tahun itu pula, atas panggilan Ibu dan Ayahnya, Ia harus kembali ke Papua dan memberikan tanggungjawab organisasi kepada Yustus (sekjen) dan kawannya. Aktivitas pergerakan di Malang tetap di lanjutkan oleh kawan-kawannya.
Belum setahun di Papua, pada bulan September, tepat pada tanggal 4, Ia menutupkan Usiannya (yang sangat masih muda), dari Paniai, Papua.

Wilson Nawipa, sekali lagi, adalah sosok pelopor pergerakan Mahasiswa di Kota Malang. AMP merasakan kehilangan satu Bintang, seorang pejuang, aktivis Self-Determination.

Salam Hormat Untukmu, Kamerad Alm. Wilson Nawipa. Kepergianmu adalah duka kami bersama disini, duka Tanah, Air dan rakyat-Bangsa Papua. Tangisan rakyat, bersama jeritan dan siksaan tanah, air dan bangsa akan mengiringmu kepada sang Pencipta. Sampai ketemu di alam sana, Kamerad. Penghormatan trakhir kami, Keluarga Besar AMP kepadamu.


Senin, 04 September 2017


Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua

Foto:Herlin Murib/doc.amp
Perempuan paruh baya itu bernama Herlina Murib. Sering disapa Erlin. Erlin sendiri berumur 18 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA di Timika, pada tahun 2015 Ia melanjutkan pendidikan Jenjang tinggi pada jurusan ekonomi keuangan di salah satu Universitas di kota Bogor.

Dengan semangat yang ada, kesadaran persatuan sebagai manusia Papua lainnya, Erlin pun bergabung penyatukan diri secara terorganisir dan terpimpin dalam Aliansi Mahasiswa Papua, Komite Kota Bogor—organisasi mahasiswa yang berorientasi pada pembebasan Nasional west Papua—Sejak Ia berada di kota Bogor.

Ada cahaya dalam dirinya sejak Ia bergabung dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk tanah, air dan bangsa. Cahaya itu dikelola dengan teori dan peraktek perlawanan. Terlihat dari kreatifnya dalam diskusi dan aksi massa.

Dengan demikian proses hidup ini—kita percaya pahwa dia—pun terus berdilektika. Kenyataan ini adalah bagian dari hidup. Perempuan asal Ilaga, pegunungan Papua kelahiran 1996 ini,  harus menutup mata pada waktu yang tak pasti.

Berikut kronologi yang dihimpun oleh AMP Bogor

Dibogor, Erlin tinggal di kos-kosan. Kos yang tergeletak di bagian ujung adalah kosnya. Menurut kronologi yang dihimpun dari warga, yang juga tetangga, mengatakan bahwa Erlin sendiri pulang hari Sabtu, 14 Januari, sehabis ikut Ujian Akhir Semerter (UAS) di kampusnya. Setelah itu, Erlin tidak pernah keluar kos lagi.
Setelah dua hari Erlin tak beraktifitas, sehingga dua orang kawan menjengguk Erlin ke kosnya. Awalnya pintu kosannya diketok beberpa kali tapi tak ada reaksi dari dalam. Akhirnya dua kawan itu melirik lewat kaca jendela yang kainnya masih terbuka sebagian, sehingga mereka melihat kedalam. Erlin pun tergeletak di tempat tidurnya. Mereka temukannya dalam posisi tak bernyawa. Kondisi tubuhnya dalam keadaan mengeluarkan darah melalui mata, telingah, dan mulut; juga mengeluarkan busa melalui hidung; muka yang bengkak; terlihat melepuh; perut membengkak.

Setelah melihat Erlina demikian, mereka menemukan mangkok bakso di depannya. Terus ada sisa munta di kamar mandi. Setelah itu mereka menelepon beberapa kawan lain, yang juga adalah keluarga dekatnya. Setelah mereka berkumpul disana, namun karna keadaaan sudah seperrti itu mereka menelepon orangtuanya di tanah air West Papua untuk menyampaikan berita kejadian. Untuk tindakan selanjutnya keluarganya sepakat jika ditindak-lanjuti oleh Polisi. Baik itu proses identifikasinya dan proses pemeriksaan rumah sakitnya.

Kemudian, Pemeriksaan identifikasi masalah dan pemeriksaan rumah sakit ditangani oleh Polisi.
Proses pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Bhayangkara, pihak rumah sakit dapat melakukan otopsi luarnya saja, sementara otopsi dalamnya tidak dilakukan atas permintaan keluarganya. Sehingga kawan-kawannya dan kelurganya di Papua memutuskan untuk memulangkan mayatnya tanpa otopsi dalam.

Dari hasil otopsi luar yang tertera dari surat kematian tentang sebab kematian masuk dalam kategori VIII. lain-lain. Artinya penyebab kematiannya bukan dari Kecelakaan, Pembunuhan, Sakit, Bunuh diri, luka bakar atau lainnya. Setelah menerima hasil pemeriksaan, kawan-kawannya mengantar jenasahnya ke Papua, sehingga setibahnya di bandar udara Sukarno-Hatta, kawan-kawan tidak dapat mengawal jenasahnya ke Papua karna kursi pesawat play itu full dan  mayat diberangkatkan tanpa pengawalan dari kawan-kawan.
Kawan-kawan memulangkan jenasahnya pada hari Kamis, 19 Januari, tepat Pukul 01.00 waktu Bogor. Dengan nomor penerbangan GA.654 rute Jakarta-Makasar-Ambon-Timika Pesawat yang di tumpangi jenasah kawan Emerlin tibah di Timika-Papua paling lambat pada pukul 10.00 pagi dan jenasahnya akan dikebumikan di Timika, West Papua.

Segenap keluarga besar AMP, berbelasungkawa atas meninggalnya kawan Herlina Murib. Kami percaya bahwa tulang punggung revolusi kita adalah perempuan. Dititik ini, engkau sudah torekan perjuanganmu. Sayang kawan... Selamat jalan... Kami percaya engkau masih dan akan hadir bersama kami dalam perjuangan pembebasan Papua Barathingga Papua Barat—hingga Papua Merdeka. 

Kronolog: Angin Jalan


Advento E. Tebai (kiri), Alexander Y. Togodly ( kanan)
Atas nama Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) kami menyampaikan simpati dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada Keluarga besar Togodly dan Tebai, sahabat-sahabat yang ditinggalkan oleh mereka, dan Bangsa West Papua atas wafat Aleksander Yanto Togodly dan Advento Emanuel Tebai, pejuang revolusioner yang tidak mengenal lelah, sabar, tekun, berani, memiliki semangat juang yang kobar membara yang, telah berada dalam perjuangan Pembebasan Nasional Bangsa West Papua melawan kolonialisme Indonesia, eksploitasian kapitalisme-imperialisme, dan militerisme di West Papua.

Mengenal Yanto Togodly dan Advento Tebai


Aleksander Yanto Togodly adalah aktivis Hak Penentuan Nasip Sendiri. Tahun 2011, Togodi berangkat dari Papua ke Pulau Jawa, kota Surabaya untuk melanjutkan Pendidikan tinggi di salah satu Universitas. Ditengah aktivitas perkuliahaannya, Togodly juga aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh AMP. Semakin Ia terlibat dalam diskusi, aksi-aksi massa yang dilaksanakan oleh AMP, semangat revolusionernya semakin terasah memuncak.

Tahun 2013. Togodly Secara utuh Ia menyerahkan jiwa dan raga dalam Perjuangan Pembebasan Bangsa West Papua, melalui Pendidikan-pendidikan Progresif yang dilaksanakan oleh AMP. Sejak itu, Ia menjabat sebagai Sekertaris AMP Komite Kota Surabaya. Ia bersama Kamerad Sayur Bingga (sebagai ketua) memimpin gerakan AMP di Kota Surabaya sejak 2013—2015.

Pimpinan yang baru dikukuhkan itu, sekaligus Ia memobilisasi massa dan mempersiapkan segalah taknisi dan Perlengkapan aksi Peringati 1 Desember—Saat itu ratusan massa aksi, mahasiswa Papua dari se-Jawa dan Bali datangi kota Surabaya—tahun 2013 di Surabaya. Sejak itu kerja-kerja kamerad Yanto Togodly, singkat kata, Ia adalah sosok manusia yang tak kenal lelah. Dan hal itu merupakan penghormatan Yanto kepada Tanah, Air dan Bangsa West Papua.

Setelah masa kepemimpinannya berakhir juga (di tahun 2015) beliau banyak memberikan kontibusi dan aktif dalam kerja-kerja penyadaran, aksi massa, dan pengorganisiran Mahasiswa. Hingga awal Bulan November 2016, Ia diberangkatkan ke West Papua karena Sakit.

Kabarnya, Ia mengalami sakit pada Ginjal. Kemudian, awal Bulan November 2016 Ia diberangkatkan ke West Papua, Wamena, karena daya tahan tubuh yang semakin melemah. Disana, Ia dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena. Kendati Ia dirawat, Yanto menginggal dunia dari RSUD pada pada 02 Januari 2017.

Begitu Juga dengan Advento Emmanuel Tebai. Ia tiba di Yogyakarta sejak tahun 2010. Sejak itu, Ia pun banyak menghabiskan waktu dalam setiap aktifitas, kegiatan-kegiatan yang AMP laksanakan. Semakin kesini-kesini, Ia mengenal  siapa Penjajah dan siapa Kawan. Tahun 2013 pula Ia, secara jiwa dan raga, telah memutuskan batas antara yang sejatih dan tidak. Sejak itu pula di benar-benar berada dalam arena Perjuangan tanpa lelah, tak mengenal kompromi terhadap setiap persoalan yang (menurutnya) mengganggu aktivitas perjuangannya, juga terhadap musuh kita: sisitem yang dedang mengkoloni West Papua.

Namun, sejak tahun 2015 awal, Ia mulai mengalami sakit. Daya tahan tubuhnya semakin melemah, dan lebih banyak habiskan waktu di asrama Dogiai, Kelebengan, Sleman, D.I Yogyakarta. Dalam kondisi yang semakin menurun itu, Ia pun masih mengordinir kawannya se-asrama Dogiai-Yogyakarta. Hingga di Bulan Desember 2016, Ia harus kembali ke West Papua untuk berobat. Namun Kondisi tubuh tak mampu bertahan lamah, akhirnya pada 26 Desember 2016, Advento Tebai menutup matanya (wafat) dari kota Timika.

AMP sangat, sangat, dan sangat berduka atas Wafatnya Kamerad Berdua. Mereka adalah sosok aktivis yang tegas, sabar, dan suka senyum. Keperibadian itu juga yang membentuk cara berpikir dan tindakan mereka berdua lewat aksi-aksi masa, diskusi, dan kegiatan-kegiatan yang sering dilaksanakan AMP dalam berjuang demi hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua.

Pengabdian Total

Pengabdian total kepada tanah, air, dan Bangsa West Papua, mengutip kata Kamerad Rinto Kogoya (mantan Ketua AMP Pusat):

“Mati dan hidupnya seorang pejuang sangat berharga bagi rakyat Papua, karena itu mereka akan senantiasa hidup dalam kenyataannya. Berbeda halnya dengan penindas dan penghisap, kehidupan dan kehidupannya dibenci rakyat, kematiannya disyukuri. Hidup dan matinya selalu mendatangkan penderitaan.

Menjadi bagian dari rakyat Papua dan merasakan sungguh penderitaan rakyat Papua, terus mengabdi kepada rakyat Papua dari waktu ke waktu, maka keberanian akan lahir dengan sendirinya. Kita tidak perlu takut dan bertanya dalam hati, seperti:“seperti apa saya akan mati?” atau “apakah saya akan dilupakan begitu saja setelah mati?”. Tidak akan ada kesia-sian atau dilupakan arti pengorbanan dan kematian seseorang jika hal itu terjadi dalam tugas atau mengabdi total pada rakyat Papua. Tentunya, kita selalu menghindari tindakan gegabah yang akan menyebabkan pengorbanan yang tidak perlu atau merugikan. Tindakan yang salah bisa disebabkan oleh kurangnya analisis yang tepat berdasarkan situasi yang kongkret, sikap petualanganisme, kepanikan, dll. Di samping itu kita harus menghormati seorang martir dalam perjuangan sejati dan belajar dari pengalamannya untuk dapat meneruskan cita-citanya, siapapun dia. Tidak penting bagaimana seorang pejuang mati karena yang terpenting adalah “untuk siapa dia gugur?”. Untuk rakyat Papua ataukah untuk klas yang berkuasa. Untuk siapa dia menderita untuk rakyat Papua ataukah untuk borjuasi. Ini menjadi soal penting bagi seorang pejuang sejati rakyat Papua sampai kapanpun hingga kemenangan akhir.

Ujian dalam gerakan sejati rakyat Papua sesungguhnya adalah ketika ia menghadap kesukaran hidup, penderitaan, dan kematian. Godaan pikiran dan jalan keluar ala borjuasi dalam kerap kali datang pada saat seorang pejuang menghadapi keadaan semacam itu. Hal itu bukanlah sesuatu yang luar biasa, sebab kita hidup di tengah godaan, ide dan pikiran semacam itu. Akan tetapi “keluar-biasaan” seorang pejuang letaknya adalah apabila dia bisa bersatu dengan rakyat Papua karena ada kepentingan dan penderitaan rakyat Papua dalam hatinya, serta menampik seluruh pikiran dan ide borjuasi ketika menghadapi segala macam penderitaan karena alasan-alasan tersebut.”


Untuk Kita yang tersisah.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, juga atas kepergian kamerad berdua telah mengajari perjuangan pembebasan (revolusi) berkonsekwensi Kematian, kehilangan, sedih dan air mata. Kamerad-kamerad meninggal dengan damai dalam hangatnya pelukan darah Pembebasan yang hakiki. Darah Pembertontak yang masih segar. Semangat yang membara yang mereka tinggalkan, Itu yang kami punya. Dan itu yang kamerad-kamerad telah mengalirkan kepada kami yang tersisah dan akan terus mendidih pada puncaknya: Revolusi.

Sejarah Revolusi belahan dunia telah memberikan pandangan Revolusi bahwa Perjuangan butuh pengorbanan, juga perjuangan pula membutuhkan kaum revolusioner. Bila tak ada dua hal ini, Revolusi hanya ilusi. Sebab orang (dialek) Papua bilang Manusia ada, Barang Ada. 

Maka beberapa Catatan untuk kamerad-kamerad yang tersisah, Pertama, Menutip Kata Sony Dogopia (aktivis self Determination), "Hanya tak mau bersalah pada anak, cucu. Tra mau kasih tinggal beban ke yang tersisah sudah sedikit. Dan kalau memang tidak hari ini, maka setidaknya ada jalan yang kitong ukir, terus disiplin di dalam-nya, di sana ada tulang punggung yang akan sempurnahkan bersama jiwa pemberontak kita."

Kedua, Kita tidak sendiri, kini telah ada kawan kita: orang Indonesia yang telah dan sedang bersama-sama kita dalam medan perjuangan pembebasan Bangsa West Papua. Maka mari! Bebaskan diri dari nasionalisme sempit, Hegemoni kolonialisme, imperialisme, sebab hal yang paling penting dari perjuangan kita adalah kemanusiaan.

Hal ketiga, mengutip kata Kamerad Mikael Kudiai (Sekjen AMP Jogja), "Saya usulkan untuk semua mahasiswa dan aktivis Papua untuk belajar lagi dari nol. Terutama soal ilmu pengetahuan dan pematangan ideologi. ... Saya yakin seratus persen, kalau kedua senjata ini tidak ada, kita akan masuk ke lubang buaya, keluar pun juga di lubang singa."



Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats