Halloween party ideas 2015


Setelah DPR melakukan rapat paripurna dengan Menteri dalam negri dan menkopulhukam pada 12 July 2021 melakukan pemaksaan paksa untuk pengesahan UU Otsus. Sebelum itu, Mafud MD telah komentar banyak terkait West Papua, Silahkan nonton kebohongan negara dalam narasi Mafud MD. Baca juga di : https://korankejora.blogspot.com  @Koran Kejora   @YouTube Creators   @WhitePapuans   @Black Lives Matter   @Free West Papua Campaign  #PapuaMerdeka #FreeWestPapua #MafudMD #KolonialIndonesia

 


Photo Pemukulan Oleh Militer Indonesia gabungan Ormas Reaksioner di Jakarta terhadap masa aksi AMP KK Bali, 01 July 2021

Kronologis Pembungkaman dan Represifitas Aparat kepolisian Indonesia Terhadap Massa Aksi Aliansi Mahasiwa Papua (AMP) kk Jakarta.

Kamis 01 Juli 2021.

Masa aksi tiba di titik aksi patung kuda jakarta pukul 11-00, setelah tiba di TKP Masa aksi mulai membuka spanduk dan poster. masa aksi yg tergabung sebanyak 28 orang, pada saat korlap mulai pimpin masa aksi untuk  menuju ke  titik aksi, pasukan kepolisian datang dan tanpa negosiasi langsung perintahkan untuk menangkap dan membubarkan masa aksi yg tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Namun, masa aksi masih tetap bertahan dan melakukan aksi dengan yel-yel Papua Merdeka.

Pihak kepolisian terus berupaya melakukan pembubaran serta melakukan tindakan represif terhadap Massa aksi Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Sehingga Pada saat itu, korlap sempat negosiasi dengan pihak kepolisian agar beri waktu untuk massa aksi membaca peryataan sikap. Namun kepolisian secara paksa menarik dan menangkap sebagian masa dari dalam tali komando.  

15menit kemudian, kelompok reaksioner yang dibentuk untuk aksi tandingan datang dan melakukan provakasi dan serangan fisik terhadap massa aksi AMP. Namun polisi membiarkan itu terjadi dan polisi juga serta melakukan kekerasan. Masa aksi  ditarik dan yg lain ditendang bahkan di pukul secara membabibuta.

Selain itu, saat massa aksi dan kepolisian saling mendorong, pihak kepolisian melontarkan kalimat ‘’tembak mati’’ sambil memukul satu orang massa aksi dan menodong senjata laras panjang hingga mengenai kepalanya.

Refresifitas ini terjadi dari pukul 11-05 sampai pukul 12-00.  kemudian  masa aksi di angkut paksa dan dibawa pakai dua mobil dalmas polda metro jaya dan 14 motor kepolisian.

Pukul 12:47, masa aksi di bawa ke taman BKN jakarta timur oleh kepolisian, setelah di BKN masa aksi di ancam oleh kepolisian dengan kalimat yang sama  ‘’saya tembak’’ hanya karena masa aksi menolak salah satu anggota polisi yang mengambil gambar. 

Sekitar delapan orang massa aksi AMP mengalami luka-luka yang cukup berat. Dan juga perangkat aksi berupa poster, bener, dan microphone dirampas dan dirusak oleh Aparat kepolisian Republik Indonesia.

Medan Juang

Jakarta Pusat,  01 juli 2021.



 

Photo Prib.Ismail Asso (Papua Moslem Assembly)


Penulis: Ismail Asso*

A. Pendahuluan

Judul begini agar permasalahan jelas. Namun tempat terbatas tidak mungkin dijelaskan secara konfrehenship tuntas tapi kecuali secara partial.

Pembahasan singkat ini penting, karena kebanyakan belum tahu bagaimana ajaran Islam sesungguhnya dalam konteks pembebasan Papua sehingga permasalahan menjadi jelas dalam menjawab judul.

Penulis merasa penting menjelaskan ini karena selama ini belum pernah dijelaskan oleh Muslim Papua sendiri. Karena ada kekeliruan masyarakat Papua, baik orang Islam sendiri, maupun utamanya orang diluar Islam, kaitan Islam -sebagai suatu nilai kebenaran universal dan Papua serta Muslim sebagai pribadi berpotensi multi interpretasi.  Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan keterkaitan Islam dan Pembebasan Papua perspektif muslim Papua.

B. Muslim Antara "M" atau "O" 

Kesan banyak kalangan Muslim Papua dalam perjuangan dari pejajahan bersikap diam, tidak progressif malah tidak ada inisiatif ambil bagian dalam pembebasan rakyat Papua. Parahnya lagi, Muslim Papua (tanpa membedakan Pribumi-Pendatang) seakan menyetujui penjajahan dirinya. Tidak sebagaimana rakyat Papua penganut agama lain Islam. Lembaga Islam misalnya MUI, Muhammadiyyah dan PWNU Papua diam seakan tanpa peduli pelanggaran HAM di Papua sejak daerah ini dianeksasi melalui Pepera tahun 1969 yang konon tidak melalui mekanisme ‘one man one vote’

Berbeda dari lembaga milik Kristen, Keuskupan Papua dan Classis GKI Papua mengangkat pelanggarakan HAM terasa lebih dominan kepekaanya menegaskan nilai-nilai kebenaran ajaran agamanya itu.  Sebaliknya, Muslim Papua dan Ormas Islam dalam hal pelanggaran HAM oleh aparat TNI/POLRI diam seakan tidak terjadi sesuatu apa menunjukkan ketidak pekaannya.  Asumsi orang bukan penganut agama Islam bahwa Islam bukan agama pembebasan dan bukan ajaran kebenaran universal.  Padahala tidak demikian ajaran paling mendasar agama Islam sebagaimana dasar-dasar ajaran agama Islam itu akan ditegaskan dalilnya dalam bagian berikut ini. 

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Asllah SWT, untuk membebaskan umat manusia sebagaimana Nabi Musa As untuk kaum Yahudi dari perbudakan Fir’aun di Mesir. Umumnya institusi Islam dan kaum muslimin Papua dalam sikap antara pilihan "M" dan" O", terkesan mendukung "O" alias menghalangi pembebasan Papua.  Muslim Papua tidak ingin bebas merdeka apalagi membantu berjuang membebaskan Papua dari penjajahan. Demikian mentalitas umum masyarakat sipil apalagi saudara-saudara muslim migran yang datang mengais rezeki di Tanah Papua.  Terlepas dari persoalan interpretasi teks-teks suci (Al-Quran dan Al-Hadits) sebagai guidance (pegangan hidup), memungkinkan multi interpretasi. 

Namun faktanya menunjukkan bahwa dan itu patut sangat disayangkan -Muslim Papua diam berpangku tangan.  Bersikap apatis sesungguhnya tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang inti dari tujuan kehadirannya sebagai kelanjutan agama Kristen dan Yahudi adalah sebagai agama pembebasan.  Sekali lagi Islam adalah agama-agama pembebasan (fathu). Hal itu terbukti dimana-mana pada masa awal kehadiran Islam untuk membebaskan dari penindasan dan sebagai rahmatn lil'alamin (kasih sayang bagi seluruh alam).  Untuk itu kedepan kaum muslimin Papua wajib ikut serta dalam membebaskan Papua dari penjajahan sebagai jaminan kebenaran ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. 

Karena ajaran Islam menjamin hal itu. Tujuan kehadiran Islam melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, menyempurnakan agama terdahulu dengan semangat pembebasan. Termasuk Pembebasan Papua dari penindasan dan penistaan martabat kemanusiaan dan pencuriaan Sumber Daya Alam sekalipun itu dilakukan oleh bangsa yang mayoritas beragama Islam.  Namun sangat disayangkan karena peran kaum muslimin Papua sangat miskin malah praktis tidak terlihat kontribusinya dalam penegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (menyeru kebenaran dan mencegah keburukan). 

Betapapun pelaku kekerasan dan penjajahan orang beragama Islam kalau itu melanggar ajaran kebenaran dan keadilan maka wajib hukumnya menolak. Oleh sebab itu penindasan tidak menutup kemungkinan dilakukan orang seagama (Islam) dengan kita bukan berarti mewakili Islam. Tidak! Karena itu wajib hukumnya bagi muslim sebagai pelaksanaan penghayatan ajaran kebenaran Islam untuk menyeru ‘amar ma’ruf nahi munkar’. Muslim Papua wajib menagakkan kebenaran islam dengan menentangnya kalau itu bertentangan dengan ajaran dasar agama Islam. Ajaran dasar agama islam menyuruh kita menegakkan keadilan dan ‘amar ma’ruf nahi mungkar’ (menyuruh kebenaran mencegah kemungkaran). Karena keadilan adalah ajaran paling pokok dan dasar dalam Islam seperti Firman Allah SWT terjemahannya: 


“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 5:8)”.

Ayat ini memerintahkan kita sebagai orang beriman (mu’min, percaya) menegakkan keadilan kalau kita beriman kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammd sebagai Nabi dan utusan-NYA. Siapapun manusia memiliki hati nurani (hati bercahaya) secara natur (alamiah) ada panggilan jiwa akan terpanggil membela kebenaran melalui keluhuran budi (nurani atau bercahaya) kebenaran. Keharusan menegakkan keadilan dari kejahatan wajib bagi seorang beriman menurut ayat diatas. 

Banyak perintah Al-Qur’an dan Hadist Nabi menyuruh orang-orang muslim yang beriman untuk menyeru kebenaran-keadilan dan mencegah keburukan adalah wajib hukumnya. Seperti Firman Allah SWT sbb:

“Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a; Ya Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS. 4: 75).

Namun kebanyakan muslim karena faktor alasan sekunder (duniawi) yang melakukan penindasan itu mayoritas beragama Islam maka diam tanpa mengkritisi tindakan itu benar atau salah. Mendiamkan kedholiman sama artinya tidak melaksanakan perintah agama Islam sebagaimana hal itu diperintahkan oleh Allah SWT terbaca ayat diatas.

Pembebasan Papua dari penindasan sesungguhnya menegakkan kalimah tauhid (inti pokok dasar ajaran islam). Itu berarti mengkontektualisasi nilai-nilai Islam paling tinggi dan jauh ditarik turun kebawah sesuai konteks social politik dan budaya Papua.  Namun demikian sayangnya kebanyakan kaum muslimin Papua tidak menyadari nilai kebaikan dan keadilan Islam tanpa pandang bulu pada siapa.  Hal itu kurangnya pemahaman inti ajaran Al-Quran yang hadir membebaskan umat manusia dari penindasan, pembunuhan, perampasan hak-hak asasi manusia seperti yang terjadi pada Papua.

Perampasan atau perampokan harta kekayaan Papua oleh siapapun adalah kebathilan, kedholiman yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.  Penganiayaan bangsa Papua apapun alasannya, bertentangan dengan ajaran inti Islam yang terkandung didalam kitab suci, Al-Qur'an dan Al-Hadist. Sebab esensi kehadiran Islam dimuka bumi sebagai rahmatan lil’alamin, kasih sayang bagi seluruh alam dan missi utamanya kemerdekaan, kebenaran, keadilan sesuai nama agama Islam itu sendiri yaitu kedamaian. Muslim sikapnya dalam konteks Papua paradoxe dengan kenyataan penindasan. Tidak seperti Thoha Al-Hamid, Sekjen PDP.  Muslim Pribumi mudah percaya omong-kosong yang umum diketahui bersama seperti integrasi untuk membangun dan memajukan Rakyat Papua. 

Padahal kenyataan terjadi pembunuhan, pencurian dan pengangkutan kekayaan alam dengan membiarkan pemilinya dalam keterbelakangan dan kebodohan.  Kebebasan merupakan sunnatullah (natural law) dalam artian bahwa kemerdekaan atau kebebasan itu hak paling asasi bagi manusia. Muslim Papua wajib menjaga hak-hak dasar yang diberikan oleh Alloh SWT, berupa jiwa, harta sebagai amanah (titipan). Muslim Papua bersama seluruh rakyat Papua wajib ikut menjaga dari perampokan oleh Amerika (emas orang Papua di Timika), Gas dan Minyak oleh Inggris di Bintuni, Gas alam di Mamberamo Raya oleh Cina, ikan dan udang oleh Jepang, kayu besi (Merbau) oleh berbagai negara asing.  Muslim tidak boleh diam hanya menonton atas pembunuhan manusia tanpa alasan yang benar dengan atas nama apapun sebagai pembenaran (bedakan dengan kata Kebenaran). Menjaga dan mempertahankan hak hidup, melindungi nyawa diri dan keluarga serta menjaga harta benda adalah perintah agama yang hukumnya wajib fardhu ‘ain.Islam memerintah agar kita menjaga diri dan kekayaan alam tidak boleh dirampok bangsa lain. 

Karena kekayaan alam melimpah yang diberikan oleh Allah SWT, sebagai amanah untuk dipelihara dari kerusakan, perampasan dan pencurian negara wajib dilindungi sebagai kholifah fil ardhi. Untuk itu tulisan ini harapannya Muslim Papua harus menjadi sadar kembali atas kekeliruan atau lebih tepat ketidaktahuan perintah agama Islam selama ini.  Kedepan kaum muslimin tanpa membedakan harus menbangun kesadaran untuk berdiri dalam barisan menyuarakan kebenaran atas penindasan hak-hak hidup manusiawi yang dirampok dan ditindas. Perbuatan fasik oleh siapaun bertentangan dengan nilai-nilai pokok ajaran agama Islam. Oleh sebab itu harus dilawan sebagai wajib ‘fardhu ‘ain’ oleh seluruh Muslim Papua. Muslim Papua senantiasa harus menyerukan amar ma’ruf nahi munkar bagi pembebasan dan Papua Bangkit. 

Setidaknya tulisan ini sebagai ghozwulfikri, bahwa dengan opini demikian akan menjadi khiroh (semangat) kaum muslimin dari kekeliruan dua pilihan atas intrepretasi ajaran Islam. Muslim Papua wajib menegakkan keadilan sebagai perintah Allah SWT, yang mulia diwujudkan dengan menyatakan kebenaran sebagai yang benar dan salah sebagai salah (‘amar ma’ruf nahi mungkar).

C. Islam Dan Muslim Berbeda

Mendukung Papua Bangkit adalah wajib hukumnya bagi Muslim kedepan ini, kalau memang mereka benar Muslim dan ingin menegakkan nilai-nilai Islam yang benar sesuai ajaran yang ada dalam Qur'an-Hadist. Muslim Papua, dari manapun asal-usul keturunannya wajib menegakkan kebenaran dan keadilan melawan penindasan. Sebab pendindasan tidak sejalan dengan semangat agama Islam yang mengajarkan nilai persamaan dan menjunjung martabati manusia. Sikap demikian sejalan dengan Islam. Karena esensi Islam hadir kedunia melalui Nabi Muhammad SAW untuk membebaskan umat manusia serta menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Islam sekali lagi hadir untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Muslim harus menyatakan kebenaran bahwa pencurian, perampokan atau exploitasi kekayaan alam harus dilawan. Muslim Papua harus ikut serta melawan sebagai jihad fisabilillah. 

D. Islam Agama Tuhan

Rakyat Papua anggap Islam identik dengan Jawa, Bugis, Makasar atau singkatnya agama “pendatang” Indonesia lagi.  Maka persepsi orang lalu Islam melegalisasikan ajarannya sebagimana Muslim adalah keliru. Muslim penjajah dan menganggap Islam sama dengan Indonesia. Padahal ajaran agama Islam lain dan harus dibedakan dari suku bangsa.  Indonesia 85% pemeluk agama Islam. Sehingga mereka yang beragama Islam datang. Tapi harus dibedakan dan ingat bahwa Islam agama Tuhan. Agama Islam diperuntukkan bagi umat manusia, tidak hanya yang mendholimi bangsa Papua. Lalu dimana kaitan Islam dalam mendukung pembebasan Papua oleh Muslim?  Islam dimanapun hadir membebaskan penindasan, perampasan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Lalu apakah Islam Mendukung Papua Merdeka? Jawabannya 100% mendukung sebagaimana pengertian Islam dari "sana"-nya karena kemerdekaan adalah hak kodrati yang dijamin oleh Allah SWT, kepada setiap individu dan bangsa. 

Tapi kalau pertanyaan ini di tanyakan adakah Muslim Mendukung Papua Merdeka?  Jawabannya ada dan tidak. Karena jumlah penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam dunia maka penting dijelaskan disini, tentang perbedaan arti kata Islam dan Muslim.  Penjajahan Papua sama sekali tidak ada kaitan dengan Islam. Karena Islam dan Muslim berbeda walaupun berasal dari satu akar kata. Muslim sebagai kata benda yang berarti manusianya, sedangkan Islam sebagai kata sifat yang abstrak, berarti nilai.  Sesuatu yang berdimensi nilai berarti juga sesuatu yang dianggap suci, sakral (keramat),yang berintikan ajaran doktrin pokoknya bersifat transendetal. 

Wallahu'alam Bish-showaaf.

*** ***

Ismail Asso*

Ketua Forum Komunikasi Muslim Pegunungan Tengah (FKMPT) Papua.


DAFTAR BACAAN

1. Koenjaraningrat dkk, Irian Jaya Membangun Masyarakat Majemuk, Gramedia, Jakarta 1993

2.Astrid Susanto-Sunario (Penyuting), Kebudayaan Jayawi Jaya, Gramedia, Jakarta, 1994

3.KH. Abdurrahman Wahid, Membangun Demokrasi, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1999

4. Taswirul Afkar, Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan, Islam Pribumi Menolak Arabisme Mencari Islam Indonesia, Edisi No. 14, Jakarta, 2003

5. Frans Magnis Suseno, 12 Tokoh Etika Aabd ke 20, Kanisius, Jakarta, 2000

6.13 Tokoh Etika dari Yunani Sampai abad 20, Kanisius, Jakarta 1996

7.Etika Dasar, Kanisius, Jogjakarta, 1987

8. Etika Politik, Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003

9.Menalar Tuhan, Kanisius, Jakarta, 2006

10. Nurcholis Madjid, Islam Agama Peradaban, Paramadina, Jakarta, 2000

11. Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paramadina, Jakarta 2002

12. Masyarakat Religius, Paramadina, Jakarta, 2000

13. Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khasanah Islam, Bunga Rampai, Paramadina, Jakarta, 2000


Ilust. NN

Penulis, Kamasan Ronsumbre**

Saya memulai tulisan saya ini dengan menyampaikan “JOU SUBA MA KASUMASA” dalam bahasa ibu, bahwa bahasa Suku byak yang artinya salam sejahtera dan terima kasih.

Perjuangan dalam sejarah merupakan analisa dan menegakkan kondisi hari ini, bahwasan-nya, jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat Jas-merah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Siapa yang tidak kenal dengan bapak proklamator bangsa indonesia tersebut ? saya pertama kali mengenal kata-kata beliau saat masih dibangku kelas 1 SMP saat mata pelajaran sejarah, ya dari beliau lah saya tertarik untuk belajar sejarah bangsa Indonesia dan bahkan pada kelas 2 SMP saya berhasil menjadi juara pertama pada Olimpiade Ilmu Pengetahuan Sosial (O2SN) tingkat kabupaten dan mewakili kabupaten ke tingkat provinsi di Jayapura.

Dari pengalaman berharga itu, saya terus mengeksplor dan banyak membaca literatur tentang sejarah kerajaan, sejarah kota, sejarah perang dan sejarah dunia. Namun satu waktu menemukan sebuah fakta yang sangat mengiris hati dan membuat merenung dan berpikir keras dan bertanya-tanya kenapa demikian ? apa yang salah ? dan siapa yang menyebabkan ? bernalar bahwa kenapa dalam buku sejarah bangsa sebesar Indonesia ini sangat sedikit sekali kita mendapat informasi dan pengetahuan mengenai bangsa West Papua, menyadari hal tersebut ketika berada di bangku kelas 2 SMA dan menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan bangsa ini, kenapa ini dibiarkan harus-nya bangsa ini memberi pengetahuan yang baik dan benar tentang West Papua bagi seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia tentang West Papua jangan ditutup-tutupi dengan keadaan masa ini dan masa lalu.
Catatan sejarah West Papua hari ini, mungkin saja sedang dibuat,sedang di rekayasa dan sedang di propaganda kepentingan segelintir orang. Hari ini bagi kita kaum terpelajar untuk mengerti sejarah West Papua sangat sedikit sekali kita mendapatkan informasi.

Ada banyak media, organisasi atau bahkan orang-orang yang menulis sejarah dan situasi West Papua saat ini. Dengan berbagai perspektif menyampikan ide, pandangan atau bahkan pengalaman mereka mengenai West Papua. Ini merupakan sesuatu yang harus kita beri apresiasi tinggi karena tanpa kerja nyata mereka hari ini, kita tidak bisa belajar sejarah dan informasi politik,ekonomi budaya West Papua masa lalu dan saat ini sebut saja mereka ialah LIPI, ELSHAM dan beberapa tokoh West Papua baik politikus, ekonom,tokoh masyarakat, agama dan tokoh pendidik dosen maupun guru.

Kehilangan catatan sejarah bangsa West Papua tentu saja, merupakan suatu masalah besar dan sangat serius.hari ini banyak generasi muda-mudi West Papua bahkan mahasiswa dan mahasiswi asli West Papua tidak mengetahui akan sejarah dan jadi diri dirinya bahkan ada yang tidak mau tau, masa bodoh dengan hal itu. Tentu saja sangat miris sekali mendapati hal tersebut di zaman sekarang.

Sebagai bangsa West Papua melanesia apalagi dengan zaman sekarang ini dengan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat dan tak mengenal batas. Hari ini kita bisa mengetahui informasi dari berbagai belahan dunia hanya dengan handphone pintar kita, ada istilah orang ‘’ Dunia Dalam Genggaman’’ terasa benar adanya tidak peduli kontennya apakah informasi itu benar atau tidak (HOAX) kita hanya mengkonsumsinya mentah-mentah dan mengautokritik tanpa menyaring dan memahami, begitu pula masalah West Papua sudah menjadi tanggung jawab kita untuk meluruskan segala stigma yang beredar di masyarakat.

Generasi Mahasiswa Milenial Orang Asli West Papua adalah istilah yang dipakai untuk menulis opini ini karena keresahan melihat begitu pesat-nya teknologi informasi apalagi media sosial (Internet) sebagai wadah pembelajaran publik. Berpikir mahasiswa/i West  Papua sekarang ini adalah mereka yang melek teknologi dan paham betul cara kerjanya. terlepas dari latar belakang pendidikan,agama dan suku asli dan faktor lain mahasiswa milenial OAP memiliki hak yang sama untuk mengetahui sejarah dan bahkan menugkui sebagai sesuatu fakta.

Perjuangan suatu bangsa yang besar akan selalu menitikberatkan kepada generasi muda-nya apa lagi kita sebagai mahasiswa penerus perjuangan dan pembangunan bangsa papua melanesia apa sumbangsih kita? ya, salah satu-nya ialah memanfaatkan media sosial sebagai media pendidikan dan perluasan sejarah bangsa kita agar di ketahui dunia. Sudah waktu-nya kita sama-sama meluruskan sejarah yang beradab bangsa West Papua melanesia yang dengan sengaja dikubur hidup-hidup oleh bangsa ini sampai kapan kita mau tinggal diam sementara banyak saudara-saudara kita yang masih mengangkat senjata di pedalaman merebut hak-hak demokratik, sampai kapan kita hanya melihat orang berkomentar buruk tentang West Papua, orang mendiskriminasi ras dan suku kita,menertawakan’’ kebodohan’’kita kemiskinan kita padahal kita tidur beralaskan emas, kita mandi mengunakan minyak dan makanan kita adalah dari alam yang Tuhan sediakan. Untuk itu melalui tulisan ini, mengajak,menyerukan semua pemuda/I West Papua yang ada di daerah 7 wilayah adat , MAMTA, SAIRERI, DOMBERAI, BOMBERAI, ANIM HA, LA PAGO, MEEPAGO.

Dan terlebih khusus mahasiswa/i milenial West Papua di berbagai daerah baik di Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi marilah kita saling bahu- membahu,dan saling mendoakan setiap perjuangan kita melalui kampanye yang terus-menerus kita gaungkan di media sosial, organisasi, maupun akun pribadi. Dengan kesadaran tinggi kita sadarkan dunia bahwa West Papua butuh sejarah-nya diakui sebagai negara yang berdaulat. Sadarkan masyarakat Indonesia bahwa sudah waktunya West Papua menetukan nasibnya sendiri. Lawan transmigrasi yang berbauh kolonialistik, Lawan eksploitasi kekayaan alam West Papua yang di lakukan besar-besaran oleh kolonialisme barat dan lawan semua ancaman yang merusak generasi West Papua. Tanah kita tanah perjanjian jangan rusaki hanya karena uang.

Akhir kata, bersatu kita teguh,bercerai kita runtuh jangan sampai kita runtuh sebagai sebuah bangsa West Papua melanesia tetapi marilah bersatu menyuarakan kembali suara yang dikubur hidup-hidup. “Sa West Papua, ko West Papua kitorang West Papua".

Salam Pembebasan Nasional

KJ. Ilust Internet
Penulis, NN

Analisa dari dialektika, Materialisme dan menuju pada praxisme merupakan perjuangan yang sebenarnya diperjuangkan dalam konteks gerakan dimana pun, persoalan itu perlu di selesaikan secara kontruksi sejarah atau gerakan dari itu dan seperti satu ilsutasi yang di gambarkan bahwa Sebuah telur akan menetas baik, bila telur tersebut terpecah dari dalam menetas keluar hasilnya akan maksimal dari telur akan mendapatkan wujud yang baru yaitu hidup baru,telur itu tidak akan pernah menetas baik bilah telur tersebut itu dipecahkan dari luar dan tidak ada kelanjutan untuk hidup.

Semua organisasi pro-merdeka, iyalah tungku perjuangan sebagai titik sentral pada perlawanan dan sikap keyakinan dan keberimanan yang harus dihadapi-nya dengan sikap pemimpin yang berjiwa kolektif untuk memerangi dan melawan tindakan (system) penghisapan,eksplorasi, dan lain-lain sebagai prisipil sejati.

Kolektif/selektif menjadi literasi dan prinsip dasar yang bermakna bagi manusiawi dalam kehidupan agar saling melengkapi ruang-ruang yang kosong  dan  saling menghormati, karna tidak semua-nya terlahir dengan sempurnah termasuk perjuangan bangsa Papua Barat. Namun harimau yang menampakan wajah yang seram telah bergentayangan disingasana Papua sampai merasuki nadi-nadi, sum-sum hingga berkarakter egois dalam perjuangan.

Bicara perjuangan jelas ada payung,partai, organisasi dan front untuk mengumpulkan masalah-masalah dan membentuk perlawanan yang kuat, militan dan revolusioner. Namun malaikat perdamaian tidak berpihak pada kaum yang tertindas, lorong tangisan masih saja terdengar disingga sana Papua yang berbentuk burung cendrawasi. Malaikat itu, telah berpihak pada kepentingan individu/personal yang masuk merasuki badan perjuangan yang mulia.

Belakangan ini pembahasan Perpecahan didalam organisasi Perjuangan sebagai wadah reprentatif Itu menujukan kegagalan dalam membagun persatuan dengan cara mendirikan/mendeklarasi tampah ada intruksi dan masukan dari pihak yang mempunyai hak dalam perjuangan tidak mendapatkan ruang/ Justru hal itu, disiasati dan diklaim dari segelintir orang-orang Tampa harus menuntaskan,menyelasaika masalah yang membuat perpecahan itu terus mengetarakan wajah yang jelas.

Pembenahan internal

Dari analisa sebelum-nya, Malaikat pun ikut berpartisipasi dalam pembantaian dan penghisapan yang dilakukan dari militerisme, kolonialisme ,kapitalisme dan imperialisme. Namun, itu bukan musuh-musuh yang sesungguh-nya Adalah diri individu yang harus melepaskan dirinya dari kepentingan, jika kepentingan itu terselip dibawah mejah perjuangan, maka ada masalah serius yang terus melengket dibadan internal Organisasi pro-merdeka/organisasi yang Anti Terhadap Militeris, kolonial, kapitalis, imperialis dan lain-lain pun akan lenyap dan hilang Tidak Sesuai kekuatan ideologi bangsa Papua Barat Menuju pembebasan nasional.
                                                  
Melihat kembali sejarah ideologi dan Persoalan yang memunculkan tendensi baru yang selalu dominan di abad ke- 19 sampai abad ke-20, tentang rengtangnya kontradiksi perjuangan yang sering menimbulkan persaingan prepektif dan ideologi tentang kebangsaan, sehingga memunculkan kotroversi antara perjuangan, misalnya kaum partai oposisi, kaum partai Sosialis, kaum Marxsisme, kaum Anarko Sindikalis, kaum Maoisme, Leninisme dan lain-lain.  Lantaran ideologi dan prespektif-nya yang berbedah untuk membentukan kerangka negara dan menimbulkan pertentangan besar dalam persatuan rakyat semesta yang senantiasa dengan penindasan dan kejadian diabad sebelum pertengahan masehi. Itu, muncul sedemikian rupah dengan wujud yang sama namun sedikit perubahan karna jaman modernisasi/globalisasi.

Penerapan yang serupah pula telah melahirkan/ mengembalikan  siklus yang dulunya terjadi kini telah terulang kembali dan memunculkan kerangka wajah perselisihan menjadi alat kemunduran tersendiri di internal sebagai sebuah hasil dari kontradiksi kepentingan .
Banyak pandangan-pandangan yang menjadi tren topic, ada beberapa hasil pembahasan yang membahas bahwa semua tercipta karna hasil re-kontruksi perjuangan yang terbentuk sesuai dinamika kemajuan globalisasi yang menimbulkan kepentingan.

Ada juga yang membahas bahwa ini adalah proses dialektika,secara tidak langsung kita bisah melihat kemajuan dan kemunduran pada mesin gerakan dan hal apa saja yang harus membenahi dari kata untuk meluruskan kemiringan perjuangan dengan kritikan yang membangun perjuangan yang dibutukan adalah pembenahan-pembenahan untuk membangun kekuatan itu kembali seperti sedia kala.

Ada juga yang membahas bahwa ini adalah kemunduran dari organisasi pro merdeka yang membuat tendesi baru untuk memperlambat kebebasan bangsa jika implementasi dan argumentasi tidak mengikat atau sesuai realitas faktual maka singkirkan bibit-bibit antagonistik yang menyesatkan perjuangan sejati.

Banyak logika yang berpandangan dan mempunyai presepsi tentang kekuatan dan kelemahan perjuangan bangsa yang berbedah dan menyimpulkan persoalan reel dijendela atau kacamata individu,personal maupun organisator untuk melihat realitas penghisapan yang terus terjadi dari pihak yang menciptakan kalimat kemanusiaan, dan tidak mampuh menyelesaikan krisis kemanusiaan,mereka adalah militeristik, kolonialisme indonesia, kapitalisme monopoli ,imperialism Amerika  Serikat dan satu kejanggalan yang memicuhkan dan mengkehancuran pernjuangan pada internalitas pada organisator yang berprinsip pro- merdeka, Persoalan ini memasuki pembantaian surplus dari sisi internal perjuangan sampai pada militerisme, kolonialisme Indonesia, imperialisme Amerika Serikat.

Seolah-olah rakyat yang mendapatkan penindasan yang bertubi-tubi dimariginalkan dari realitas perjuangan. Namun tulisan ini lebih spesifik ke bagaimana  meinternalisasikan organisasi/meintegralkan organisasi dan sentralisasikan perjuangan pada satu wujud yaitu merebut kemerdekaan. Karna logika kepentingan membuat perjuangan menjadi harga uang dan kepemilikan pribadi ( segelintir orang ) yang mengorbankan eksistensi rakyat yang diabaikan dari organisator pro-merdeka yang tidak menjamin kehidupan rakyat dan bangsa Papua Barat.

Setelah dinamika perlawanan menimbulakan proses-proses dialektika kemajuan dalam kenaikan perjuangan ketingkatan tertinggi, masih saja ada kontradiksi yang menimbulkan kehacuran memecahkan persatuan lewat dikte-dikte perpecahan,doktrin-doktrin turunan dan persekutuan sepihak tampah melibatkan kaum pro-merdeka lainnya dan membangun organisasi yang bersifat segelintir orang yang tidak mampuh menyamainya dengan volume massa dan mempunyai praktek yang tidak sesuai dengan membentukan taktik perlawanan yang relative produktif.

Ini kegagalan yang terjadi ditengah kaya akan idealisme dan mampuh mensiasati taktik,stratigi dan analisis serta kaya akan memetakan persoalan objektif maupun persoalan subjektif, namun keterbelakangan kita dalam kritikan untuk membangun kembali perjuangan itu terus menyembunyikan kebohongan kita pada pengabdian murni dan pengabdian sejati pada perjuangan sejati. Berkoar-koar seperti kaum utopis mengambil kesimpulan-kesimpulan kongkret tampah harus memerangi perjuangan dan bersembunyi dari balik realitas penghisapan,eksploritasi penindasan,pembantaian dan lain-lain.

Logika maju tidak seperti tindakan yang maju terlalu banyak mengambil ahli di dalam internal organisasi perjuangan namun takut mengambil posisi perlawanan sebagai aktivis yang telah mengetahui konsekwensi dan takdir pada perjuangan bangsa dan tanah air. Liberalisme ini telah menghilangkan sikap prespektif dan ideology. Eksistensi perlawanan yang sesunggunya dari semua perjuangan sejati dan melegalisasikan kompromi terhadap musuh yang mempunyai maksud dan tujuan untuk mengklaim perjuangan dengan kepentingan untuk mendapatkan nilai lebih ( kapital ) hal itu menjadi sebuah tolak ukur kemajuan dan kemunduran pada perjuangan,beradah netral 50%_50% tidak ada naik tidak ada pula turun seolah-olah perjuangan sengaja dibuat sedemikian bagus rupah-nya, semua pada terstigma dengan gayah perjuangan masa kini yang berpura-pura setia pada perjuangan dan munafik terus membentukan kepentingan dalam internal perjuangan pro-merdeka.

Sejatinya perjuangan iyalah orang yang mempunyai sikap jiwa yang besar sosialisme dan nasionalisme yang mengedepankan persatuan nasional dan berkomitmen bahwa perjuangan rakyat-lah yang akan memerdekakan bangsa dari kolonialisme, militerisme dan imperialisme Amerika Serikat. Tampah melihat etnis dan budaya yang beragam di Papua Barat untuk membangkitan kembali kekuatan rakyat melalui persatuan nasional yang kini mulai hilang karna perpecahan hilang karna egoisme dan hilang karna persaingan yang saling mengintimidasikan perjuangan tampa ada nama target dan komitmen  untuk melawan penjajah ( koloni ).

Rakyat untuk melawan segalah bentuk ekspansi penindasan dan  penghisapan yang  dibangun dari,militerisme, kolonialisme Indonesia, imperialisme Amerika Serikat dan PBB, terus memunculkan sikap spotanitas kejahatan dari yang terlihat sampai pada sistemnya terus menggempurkan intimidasi-nya terhadap rakyat Papua Barat. Sementara topik merdeka hanya sebatas simbolistik belakah pada organisasi Papua Barat merdeka dan melupakan sebuah fakta tidak bisah mencari solusi anternatif.

Dan caplokan kedalam tanah untuk dikuburkan begitu saja tampah alasan yang logis dan ilmiah, ini masalah serius pada internal perjuangan yang harus dituntaskan bilah salah segerah kembali pada perjuangan yang berlandas sejarah"perlawanan itu muncul karna sebab dan akibat. Sebab dan akibat itu apa.? "SEJARAH" tampah itu tidak akan ada perjuangan pembebasan nasional .!

Ini bukan bicara tentang klas dan kasta-nya perjuangan yang terkotak-kotak ( apstrak ) ini bicara tentang bagaimana kelanjutan untuk hidup, berbangsa dan merdeka dari semua yang dilawan untuk mempetahankan separuh masyarakat, separuh tanah leluhur, separuh gunung, separuh pasir pantai dan separuh kehidupan untuk anak cucu yang akan datang dimassa depan nantinya.

Maka Kembali pada sejarah dan membangun persatuan nasional untuk membebaskan kaum tertidas dari cengkraman militerisme,kolonialisme dan imperialisme. sudah saat-nya kebangkitan tampah intervensi internal,untuk mewujudkan cita-cita bangsa Papua Barat yang bardaulat atas dasar sejarah yang telah dikhianati dan diklaim dari Dewan dekolonisasi, kolonialisme Indonesia, imperialime Amerika Serikat. Bangkitkan semangat menuju PERSATUAN NASIONAL PAPUA BARAT Dan PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT

Tanah air atau mati.....!!!

KJ. Prjock Picture
Penulis, Oskar Gie**

 "REFLEKSI 1 TAHUN TRAGEDI KEMANUSIAAN DI NDUGA - PAPUA"
 Persoalan Ndugama dan Ruang Hidup (2 Desember 2018 - 2 Desember 2019)

Awal mulanya pada tanggal 02 Desember 2018, telah terjadi Kontak senjata antara TNI-POLRI dan TPN-PB di Nduga Papua yang mengakibatkan terbunuhnya para pekerja Istaka Karya 19 orang, dengan status jelas adalah aparat TNI-POLRI. Kejadian ini pula mengakibatkan operasi Militer Indonesia besar-besaran di Nduga, baik itu terror, intimidasi, penembakan brutal, pengeboman lewat udara, pembakaran Honai (rumah warga) dimana-mana, pembakaran fasilitas umum, penghancuran rumah dan kantor-kantor (bangunan kantor distrik, puskesmas, gereja, sekolah dan rumah-rumah guru).

 Operasi sadar yang dilakukan oleh Aparat TNI-POLRI ini menimbulkan Tragedi  Kemanusiaan di Nduga, yang terus terjadi sampai saat ini tepat 1 tahun (2 Desember 2018 - 02 Desember 2019) masyarakat Nduga mengungsi lebih dari 12 distrik yang sudah tak berpenghuni lagi. Jumlah pengungsian-nya pun sudah melebihi 45 ribu orang. Mereka mengungsi ke gunung-gunung yang dikelilingi oleh hutan belantara, ada juga yang mengungsi ke Kabupaten Wamena, Puncak Papua, dan Timika.

Dari pengungsian tersebut, telah mengakibatkan nasib 700-An lebih Pelajar SD – SMU Nduga terbengkalai dan tidak dapat menerima pendidikan dengan baik sampai hari ini. Belum lagi seluruh mahasiswa Nduga yang terlantar nasib pendidikannya akibat exodus besar-besaran di seluruh kota study yang ada di Negara Indonesia, yang dikarenakan kejadian rasisme Surabaya oleh perlakuan beberapa aparat TNI-POLRI dan Ormas Reaksioner pada tanggal 16-17 Agustus 2019 lalu, dan juga kejadian terror dan intimidasi dimana-mana akhir dari rasisme itu.

Sampai saat ini (Desember 2019) telah tercatat 238 lebih Rakyat Nduga yang meninggal, yang diakibatkan oleh kurangnya Makanan, Sakit, Dan Lelah Saat Mengungsi. Bahkan adapula yang dibunuh oleh Militer Indonesia, yang secara membabi buta menyerang rakyat sipil di Nduga, dengan kejadian pengeboman pada tanggal 04 Desember 2018, dan penyerangan-penyerangan lainnya. Tanpa disadari, ini adalah penindasan manusa Nduga yang sangat tidak manusiawi oleh system pendekatan hukum degara lewat aparat Militer Indonesia yang bisa dibilang telah melakukan pelanggaran HAM Berat (Pembunuhan Manusia), terror dan intimidasi secara langsung kepada masyarakat Nduga, Papua.

Melihat masyarakat yang dipaksa keluar dari tempatnya untuk bertahan hidup dikarenakan konflik bersenjata yang terjadi sejak 2 Desember 2018 hingga saat ini masih terus berlangsung, terjadi pengiriman pasukan besar-besaran di Nduga Papua. Menurut data investigasi berita online (jubi.co.id; tirto.id; bbc.com; merdeka.com), tercatat bahwa pada tanggal 04 Desember 2018, terjadi pengiriman 153 pasukan gabungan TNI dan POLRI dikirim sebagai pasukan khusus untuk memburu TPN-PB di Nduga; 

Pada tanggal 05 Desember 2018, terjadi penambahan pasukan RAIDER dengan keahlian tempur dikirim oleh KODAM XVII Yonif 751/Vira Jaya Sakti yang bermarkas di Sentani, Jayapura; Pada tanggal 09 Maret 2019, penambahan 600 pasukan TNI dikirim oleh Batalyon 432 KOSTRAD Makassar dan Batalyon Zipur 8 Makassar; Pada tanggal 04 Juli 2019, Seorang anak perempuan berusia 1 tahun diduga disandera aparat setelah ibunya dibunuh; Pada tanggal 12 Agustus 2019, 200 personil BRIMOB didatangkan ke Timika dan selanjutnya ditempatkan (tugas) di Nduga, Puncak dan Puncak Jaya; dan pada tanggal 10 Oktober 2019, tercatat juga 5 orang Jenaza pengungsian ditemukan di Mbua, ditemukan dalam satu lubang yang ditutupi oleh daun-daunan sebelum ditimbun tanah. Hal ini, perlakuan pembunuhan dilakukan oleh aparat TNI-POLRI yang lagi bertugas disana.

Dalam situasi krisis kemanusiaan yang sangat serius ini, pemerintah Papua dan Pemerintah Pusat hanya sibuk dengan membahas DOB (Pemekaran Provinsi dan Kabupaten Baru di Papua). Bahkan yang menjadi trending topik adalah rekrutmen relawan untuk mensukseskan PON 2020 di Papua, yang dikerjakan oleh KNPI dengan dana yang sangat besar sampai setiap orang relawan digaji jutaan Per- bulan. Bagi saya ini adalah pengalian isu oleh Negara Indonesia untuk melupahkan, menghilangkan dan membiarkan isu tragedi Nduga-Papua tetap dalam kekejaman (Pembunuhan Manusia) Pelanggaran HAM berat tanpa ada solusi kemanusiaan bagi keselamatan masyarakat Nduga.

Sebagai sesama Orang Papua, ketika melihat saudara kita (Masyarakat Nduga) yang dibunuh, mengungsi, dan mengalami krisis kemanusiaan yang belum berakhir. Pertanyaan-nya, apakah Nduga Bukan Papua ? Apakah Pengungsi Nduga bukan manusia sebagai sesama rakyat Papua ? Apakah Pemekaran Provinsi (DOB) lebih penting dari pengungsi dan pelajar-mahasiswa exodus yang terlantar di Nduga ? Apakah PON 2020 lebih penting dari 238 lebih korban meninggal di Nduga ? Kita semua sama-sama manusia yang terlahir sebagai orang asli Papua (OAP) dan seharunya hidup bebas tanpa Intimidasi, Teror dan Pembunuhan dalam bentuk penindasan apa pun di atas negeri kita sendiri.

Sebelum memasuki perayaan Natal 2019, mari kita refleksikan sejenak Tragedi Kemanusiaan yang terjadi di Nduga semenjak tanggal 02 Desember 2018 hingga kini. Kiranya pemerintah Papua dan seluruh masyarakat Papua harus sadar bahwa rakyat Papua, khususnya masyarakat Nduga telah menjadi pengungsi diatas tanah-nya sendiri dan telah menjadi korban pembunuhan dari kebiadaban (klonialisme) pendekatan militer Indonesia, yang telah mengakibatkan 238 jiwa rakyat Nduga meninggal dunia dan ribuan rakyat Nduga mengungsi selama setahun.

Perlunya kita sebagai Rakyat Papua baik itu Pemerintah, LSM, Agama, Akar Rumput, Pelajar dan Mahasiswa, maupun juga lembaga hukum Indonesia dan Internasional harus menekan kepada Pemerintah Indonesia (Pusat) agar segerah membuka akses jurnalistik nasional dan internasional di Nduga, dan melakukan suatu tindakan hukum yang kongkrit untuk menyelesaikan kasus tragedi kemanusiaan ini. Sebab kalau tidak maka masyarakat Nduga akan punah dengan sendirinya. Saran kongkrit saya kepada pemerintah Papua dan seluruh elemen-sosial masyarakat yang peduli kepada Tragedi Kemanusiaan Nduga agar segera meminta Presiden Jokowi Dodo untuk menarik seluruh operasi aparat TNI-POLRI yang ada di Nduga, baik itu pasukan organik maupun non organik sebagai solusi kongkrit penyelesaian masalah ini. 

Penulis adalah aktivist Self-Determination

Sumber:

- Media Online (jubi.co.id; tirto.id; bbc.com; merdeka.com)
- Kajian data diskusi ilmiah Mahasiswa Nduga, 03 Desember 2019

Aksi Massa Demo Damai di Semarang
Pada 24 Agustus 2019
Kepada rakyat West Papua tercinta yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan. Rasisme, penyebutan "monyet Papua" merupakan penyakit yang lahir dari rahim kolonial dan disebarkan kaki tangannya guna memecah-belah kekuatan perjuangan Rakyat. Kita, Rakyat Papua merupakan korban langsung dari aksi pencurian, perampasan, dan eksploitasi kekayaan alam Bumi Papua. Kekayaan alam kita dirampas, kita hanya dibiarkan menerima limbah-limbah pabrik, sampah-sampah investasi modal asing, dan perkebunan-perkebunan kelapa sawit milik Imperialisme. Kita hanya menjadi korban kejahatan kolonialisme Indonesia, kita dibiarkan menerima pengusiran dari tanah leluhur kita, pembunuhan, pemerkosaan, genosida, dihina sebagai bangsa yang tidak beradab, diskriminasi dan rasisme.

Rasisme terhadap Orang Papua sudah dimulai sejak awal penggabungan paksa Papua ke dalam wilayah NKRI. Berlangsung sejak 1962 pasca Imperialisme Amerika Serikat berusaha merampas kekayaan alam Rakyat dan kekuasaan politik oleh Kolonial Indonesia di Papua, dengan melibatkan diri dalam Perjanjian New York. Perjanjian yang membahas masa depan Papua yang melahirkan penjajahan baru di Bumi West Papua setelah Belanda tanpa melibatkan Orang Papua.

Diskriminasi rasial (rasis) merupakan metode kolonial, yang banyak berperan dalam sejarah kolonialisme. Rasisme digunakan untuk menyudutkan dan melanggengkan dominasi atas rakyat Papua. Kita mesti menarik garis yang jelas bahwa sebutan ‘Orang Papua Monyet’, keluar dari mulut segelintir kelompok ormas reaksioner piaraan militer, penyambung lidah kolonial. Kolonial Indonesia sedang berusaha merendahkan perjuangan suci Rakyat Papua untuk kebebasan dan kemerdekaan ke dalam perang rasial dan konflik horizontal. Perang Orang Papua versus Amber (pendatang di Papua).

Maka, dengan peristiwa pengepungan, penangkapan, serta penyebutan "monyet Papua" di Surabaya beberapa waktu lalu, kami menghimbau agar tidak terprovokasi dengan propaganda-propaganda yang memicu saling serang antar kelompok etnis dan/atau beragama di Papua. Sebab propaganda semacam itu, digunakan untuk merendahkan perjuangan Pembebasan Nasional Papua. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dan membersihkan kebudayaan yang merendahkan martabat manusia.

Oleh sebab itu, kami menghimbau rakyat Papua satu-kan barisan, memperlebar mobilisasi massa tanpa membedakan suku, agama, ras, dan lain-lain. Membangun kekuatan, persatuan, mobilisasi massa untuk menolak kolonialisme, menolak menolak, dan menuntut Kebebasan dan Hak untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua, sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri rasisme.

Hormat diberi! Rakyat West Papua yang telah melumpuhkan jalan setiap kota di West Papua dan kotakota Kolonial, sejak tanggal 18 Agustus dan menyebar hingga hari ini. Juga kepada solidaritas kaum tertindas dari Bangsa Penjajah dan Internasional. Kita mesti menunjukan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang meletakan nasionalisme di atas landasan kemanusiaan, yang memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan, dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia. Perjuangan Pembebasan Nasional adalah perjuangan yang tidak dilandasi atas semangat suku, agama, dan ras.

Maka, dalam mewujudkan kemerdekaan nasional semangat yang menjadi landasan perjuangan kita, harus kita sebarkan ke setiap sudut, tempat rakyat dijajah berada. Kemerdekaan Papua akan tercipta, ketika persatuan di antara rakyat tertindas—buruh, tani, perempuan, masyarakat adat, pelajar-mahasiswapemuda, nelayan—dari bangsa penjajah dan bangsa yang terjajah itu tercipta. Persatuan Rakyat yang mampu mengguncang dari hulu sampai hilir jalannya penjajahan di Papua. Papua harus bergejolak, Pusat Kolonial harus dirusak! Sebab itulah salah satu syarat kemerdekaan.

Perkembangan terkini Pemerintah Kolonial baik di Jakarta maupun Papua sedang berusaha menggiring perjuangan Rakyat ke arah kepentingannya masing-masing, terutama persoalan keberlangsungan Otonomi Khusus. Puluhan Rakyat Papua yang yang menolak rasisme dihadang dan dihadapkan dengan hukum, sementara pelaku rasis dibiarkan berkeliaran bebas tanpa melalui proses hukum. Di lain sisi berbagai hal yang terjadi di Papua dibiarkan begitu saja. Nduga masih darurat kemanusiaan, Pembangunan Infrastruktur masih berjalan, penambahan militer terus dilakukan, eksploitasi kekayaan alam, dan Rakyat Papua terus dijajah habis-habisan dan tak ada satu yang ditanggapi oleh pemerintah kolonial di Papua (Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Majelis Rakyat Papua).

Satu hal yang mesti kita garis bawahi adalah “Rakyat Papua harus memperjuangkan kepentingan pembebasannya sendiri di bawah kepemimpinan gerakan rakyat, tanpa menggantungkannya kepada elit birokrasi/pejabat pemerintah kolonial di Papua”. Peristiwa rasial di Surbaya tentu telah menjadi panggung kaum elit birokrasi untuk saling memaafmaafkan dan berdialog kedamaian dalam kerangka NKRI tanpa melihat akar historisnya, yakni persoalan penjajahan terhadap suatu bangsa. Berdasarkan itu, Aliansi Mahasiswa Papua dan Rakyat Papua yang berada di luar Papua nyatakan sikap:

 1. Pengepungan di Surabaya, pembungkaman ruang demokrasi di Malang dan Semarang, merupakan bagian dari kelanjutan Penjajahan di Papua. Maka, kami menyatakan: Lawan Militerisme--dalang rasisme, Hapuskan Kolonialisme, dan Hancurkan Imperialisme.

2. Revolusi Nasional harus dipimpin oleh gerakan rakyat.

3. Seluruh komponen gerakan yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan segera mengevaluasi diri dan mendorong terbentuknya persatuan nasional yang lebih luas, demokratis, partisipatif di Dalam Negeri West Papua untuk memimpin Perjuangan Pembebasan Rakyat.

4. Menolak seluruh tanggapan kolonial, termasuk seruan Mahasiswa Papua di luar Papua pulang oleh Majelis Rakyat Papua (MRP), Pemerintah Kolonial Provinsi Papua, serta menolak seruan “Papua Pulang maka orang Indonesia Pulang dari Papua”.

5. Menolak rencana kedatangan tim Pemerintah Kolonial Provinsi Papua ke Jawa dan Bali (tidak hanya di Malang dan Surabaya) sebelum semua elit politik dan pejabat Orang Papua melepaskan Garuda dan menuntut Referendum di tanah Papua.

6. Mahasiswa Papua akan pulang ke tanah air, jika, dan hanya jika, keputusan referendum diberlakukan di West Papua.

7. Rakyat dan Mahasiswa Papua di luar Papua siap kepung Jakarta untuk meminta Jokowi memulangkan kami dengan syarat Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri melalui mekanisme referendum.

8. Persoalan Papua bukan persoalan rumah tangga Indonesia, persoalan Papua merupakan persoalan penjajahan terhadap suatu bangsa yang telah merdeka. Maka kami menuntut agar adanya intervensi dari Dunia Internasional.

9. Buka akses wartawan dan jurnalis asing meliput di Papua.

Demikian pernyataan ini dibuat, kami ucapkan hormat untuk rakyat pejuang! Salam Pembebasan!                                                Medan Juang, 24 Agustus 2019

                                        Komite Pusat 
                              Aliansi Mahasiswa Papua 

                                        Pimpinan Pusat 
Ketua Umum                                    SekertarisUmum 
  
Jhon Gobai                                        Albert Mungguar

Ilus.West Papua oleh Koran Kejora
Penulis, Stella Tebay***

Pendahuluan

Semua persoalan yang kemudian muncul bergejolak terus menerus adalah masalah klass kaum tertindas,kaum ditindas dan kaum yang menindas;  kemudian memunculkan sebuah kontradiksi antara perlawanan dan kekuasaan yang semerta-merta muncul ditatanan rakyat pada umum-nya. Hal ini tidak terlepas dari masalah politik,ekonomi dan sosial disetiap aspek kehidupan masyarakat yang luas. Dalam konteks ini topik masalah akan merujuk pada penindasan terhadap perempuan West Papua yang terus mendominasi dibeberapa klass dan menjadi budak atas tanah sendiri atau pun termarjinal.

Lingkup Sejarah

Pada umumnya perempuan dan laki-laki tidak saling menindas dan tidak ada persaingan dalam kehidupan komunal mereka yang hidup setara dan sejajar. Patriarki muncul ketika manusia mulai mengenal tanah,  komoditi untuk mengolah, mereproduksi ditempat-tempat yang sangat subur untuk produktif dan mulai mengenal bercangkul dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan komunal mereka.

Ada sedikit perbedaan antara sejarah patriarki terhadap perempuan di  Amerika, serta negara-negara yang ada di Eropa, Asia, Pasifik, Afrika dan di dunia.  Penindasan Patriarki terlihat juga terdahap perempuan West Papua. Pada massa komunal kehidupan masyarakat West papua tergolong dalam kultural/budaya dan dalam itu, ada beberapa hukum adat yang harus di patuhi pada fase -fase tersebut misalnya kepala suku, atau orang terpercaya di tempat tersebut yang mempunyai kekuasaan berhak menikahi siapa saja tergantung dia mampu atau tidak mampu walaupun tergolong didalam penindasan terhadap perempuan hal itu dikategorikan sebagai patriarki ini yang membuat perbedahan pada fase komunal di West Papua. Dengan budaya partiarki yang sangat melekat seperti itu dan tidak terlepas dengan sejarah peradaban rakyat West Papua dari sisi Hak Penentuan Nasib Sendiri menjadi kasus yang perlu di bahas.

Jika dilihat dari persoalan yang terus menjadi projek investigasi dan projek yang terus menjadi analisis secara kritis hal ini tidak terlepas dari sejarah perjuangan rakyat West Papua pada umumnya. Maka fokus utama adalah sejarah manivesto West Papua, Kemerdekaan West Papua pada 01 Desember 1961 yang bertahan 19 hari dan Soekarno mengomandankan Tri Komando Rakyat (TRIKORA) di alun-alun Utara Kota Jokyakarta pada tahun 19 desember 1961 di lanjutkan perjajian New York Agreement pada tanggal 15 Agustus 1962 dan Roma Agreement pada 30 semtember 1962 (membahas PEPERA dll) pertemuan ini pun tidak ada satu orang West Papua yang mewakili perjanjian tersebut seharusnya disahkan oleh pemilik hak teritorial, hak ulayat dan hak atas tanah yang penghuni West Papua dan kesepakatan perjajian itu berhasil melahirkan aneksasi West Papua ke dalam Indonesia sejak 01 mei 1963 dan disamping itu, banyak operasi-operasi yang terus digecarkan untuk membuat rakyat pada umumnya  merasa traoma dan ketakutan akibat operasi tersebut dilajutkan Penentuan Pendapat Rakyat [PEPERA] pada tahun 1969 itu, tidak sesuai dengan mekanisme internasional dan ilegal bagi Rakyat West Papua dan di pertanyakan  kenapa sampai bisah illegal? sebelum PEPERA dimulai ada 1025 orang yang dipilih agar memilih pada saat pelaksanaan Penentuan Pendapatan Rakyat (PEPERA) dari jumlah yang ditentukan itu turun drastis menjadi 125 orang yang memilih,tetapi sudah disetingg dari Indoneia dan internasional untuk manipulasi ; sebelum PEPERA dilakukan kontra karya PT. FREEPOT pada pertama kalinya sudah masuk beroperasi di West Papua pada 19677. Jadi dua tahum sebelum PEPERA di Lakukan dengan kekerasn, pembungkaman, teror, rasis dan beragaman implementasi kekerasan yang di lakukan oleh kolonial Indonesia melalui dalil militernya.

Sejarah ini kemudian menjadi pengantar penindasan yang terus berkelanjutan didalam klass-klass sosial dari semua aspek yang terus terhegemoni dan mengkarakterkan Rakyat West Papua menjadi kaum modernisasi yang sangat meloncat dari peradaban manusia itu sendiri, artinya manusia West Papua dari komunal melompat ketahapan kapitalis dan tiga fase itu dilewatkan misalnya primitif ,komunal primitif dam feodal hal ini membuat Rakyat West Papua spontan didoktrin dan menstigmai, menjiwai kehidupan Rakyat West  Papua pada umumnya. Dari beberapa topik umum tetang penindasan diperkecilkan menjadi klass mama-mama pasar; ini kemudian menjadi klass yang kemudian dibudak dari berbagai lini dan segi kehidupan mama pada umumnya serta di West Papua.

Mama adalah payung kehidupan yang selalu memnguatkan kita pada keyakinan dan tekat untuk ber-evolusi dan mempertahankan kewajiban mereka segbagai ibu dari anak yang dilahirkan mama pada umumnya kekuatan pun akan diperkuatkan bilah proses penyadaran itu masuk melalui mama atau perempuan membahas tetang hak ekonomi dan hak politik yang kini telah tersistematis dalam klass-klass penindas itu.  Penyadaran adalah sebuah jalan untuk mencapai proses-proses dialektika pada perjuangan yang kuat dan radikal akan ideologi bangsa untuk itu, pembangunan organisasi sangatlah penting didaerah-daerah yang terisolasi dan daerah-daerah yang terhegemoni dengan arus kolonial karna kekurangan idealisme yang seharusnya menjadi agenda yang di savety untuk menjalankan hubungan menuju perjuangan sejati mama-mama pasar dan perempuan konteks West Papua.

Dalam meihat dari prekpektif sejarah West Papua dan Gerakan Feminist membutuhkan "Pembangunan organisasi" terkhusus mama-mama pasar. Dalam pandangan itu,  memabagun front taktik yang kuat sama hal dengan front yang di buat oleh negara-negara lain untuk merangkul feministme secara luas. Dengan itu, rakyat West Papua juga wajib membuat atau membangun front tersebut; dapat saya ilustrasikan seperti : FRONT PERSATUAN MAMA-MAMA PASAR ANTI IMPEARIALISME, KOLONIALISME DAN MILITERISME ( PMMP)

Realitas yang terjadi karna belum ada kakuatan front atau wadah, Sejak dilantik pada 9 April 2013 Gubernur Papua Lukas Enembe memasukan program pembangunan pasar Mama-Mama West Papua dalam program 100 hari kerja. Selanjutnya, pada 19 Juli 2013, Gubernur Lukas Enembe telah memerintahkan PU Provinsi Papua untuk membentuk tim pembangunan pasar Mama-Mama, namun kenyataannya sampai kini pembangunan pasar untuk mama-mama West Papua tersebut sama sekali belum terealisasi secara konkrit. Padahal, untuk pembangunan pasar, Pemprov sediri sudah mengalokasikan dana selama 3 tahun APBD secara berturut-turut, yakni Tahun 2010-2011 sebesar 10 Milyard; tahun 2011-2012 sebesar 10 milyard; tahun 2012-2013 sebesar 25 milyard yang dibagi dengan Damri sebesar 15 milyard dan untuk pembangunan pasar Mama-Mama sebesar 10 milyard. Jadi, total dana pembangunan untuk pasar Mama-Mama adalah 45 milyard yang nasibnya kini tidak jelas, sejalan dengan ketidakjelasan pembangunan pasar bagi Mama-Mama West Papua sampai saat ini 2019 dan itu hanya sebagai penindasan dari sebuah system yang terus mengasingkan mama-mama pasar West Papua. Inilah kasus yang sangat dapat di lihat bahwa pembohongan kelas borjuasi dengan system kolonial menjadi klass penindas yang bertahap pada massa klass mama-mama Pasar West Papua.

Sejak berlakunya otonomi khusus di tanah West Papua pada awal tahun 2001 hingga kini, belum dibangunnya pasar khusus mama-mama West Papua permanen di seluruh West Papua, seharus-nya ada suatu tempat yang layak untuk mama-mama West Papua pasarkan hasil kebun dan dagangannya mereka. realita bukannya memihak mama-mama West Papua, tetapi kasihan mereka harus berjualan di emperan-emperan seperti di lampiran gambar . Mama-mama Pasar West Papua berpikir ini adalah bentuk diskriminasi yang di lakukan pemerintah terhadap rakyatnya sendiri. secara langsung. pembagnunan kios pun hanya di peruntuk hanya untuk pedagang pendatang atau klass para migran. Kapan pembangunan ekonomi mau di mulai dan di bangun di West Papua secara riil, kalau rakyat kecil tidak di perhatikan dan di benahi secara serius dan bertahap. tidak dikhususkan. apakah pemerintah tidak mau atau tidak mampu untuk mengakomodasi untuk rakyat ekonomi lemah?

Pasar Mama-Mama sebagai pelaku ekonomi di Pasar tradisional yang bisa digolongkan pengusaha murni di sektor UKM ( usaha kecil menengah) ini yang memiliki modal, alat produksi, dan waktu kerja yang mereka atur sendiri, perlu dilindungi karena keberadan mereka di pasar-pasar tradisional mampu merepresentasikan lembaga ketahanan ekonomi orang asli West Papua, lembaga ketahanan sosial, sekaligus lembaga ketahanan kultural. Pasar tradisional merupakan representasi dari kultur masyarakat West Papua.

Namun mama-mama pasar ini banyak mengalami penindasan baik itu penindasan internal dan eksternal. Penindasan yang terjadi  adalah pertama persaingan dengan kolonialisme dalam hal berjualan, Apa yang mau di jual sama mama-mama West Papua pasti di jual pula dengan orang melayu;  di sana terjadi persaingan dan soal harga melayu mereka akan jual lebih murah di bandingkan mama-mama West Papua . Kedua tempat Jualan di kuasai oleh pendatang sehinga mama-mama West Papua itu, berjualan di emperan jalan sehingga harus di usir sama Satpol PP ( petugas keamanan ).ketiga Transportasi jika rumah, kebun dll terletak jauh dari pasar pasti akan memerlukan biaya yang besar sedangkan mereka punya penghasilan itu tidak seberapa.

Untuk Hak Menentukan Nasib sendiri di golongkan menjadi 3 bagian menjadi kebutuhan utama, yaitu Ekonomi, Budaya, Politik: Ekonomi pertama, Persaingan begitu banyak yang terjadi dilingkup  mama-mama pasar; langkah baiknya membangun salah satu pasar khusus untuk mama-mama pasar atau khusus rakyat asli West Papua supaya ekonomi mama-mama pasar meningkat seperti Front yang di jelaskan diatas. Kedua, Turunkan harga transportasi karena satu-satunya penghasilan yang mama-mama pasar hanya berjualan itu pun kentungannya tidak lebih dari Rp 30.000.-. atau buat peringanan terkhusus untuk rakyat West Papua sendiri. Politik pertama Perampasan lahan demi kepentingan para elit lahan pun di rampas secara skala besar di situ hilanglah mata pencaharian mama-mama pasar. Kedua janji pemerintah untuk membangun pasar mama-mama West  Papua yang layak tapi janji itu tidak di penuhi dari pemerintah provinsi dan kabupaten tersebut. Menjadi politik praktis sampai kini berlangsung. Ketiga, Meminta pemerintah untuk memberikan modal usaha karena hasil jualan saja tidak cukup untuk memenuhui kebutuhan keluarga, alangkah baiknya pemerintah buka usaha kecil-kecil dan bimbing sampai berhasil. Ke empat Militer mengancam mama-mama yang bekerja di kebun ini tahapan proses dalam praktis . Budaya pertama, Perampasan Lahan tanah yang duluhnya komunal atau klen yang di miliki dari masyarakat mayoritas daerah tersebut  di ambil ahli oleh pemerintah sebagai komoditi dan hancurlah budaya local yang duluhnya milik tanah adat berubah menjadi perusahaan atau pemerintah .kedua, Mariginalkan ketika mama di pasar tidak punya hak untuk jualan di tempat yang layak sehingga mereka ambil keputusan tidak apa dan termarjinal dari lingkup jualannya.

Dengan konsep ini, Front menjadi dasar utama dan bentuk sesuai realitas atas penghisapan,penindasan dan penganiayaan yang berkelanjutan terus terjadi terhadap  rakyat West  Papua lebih khusus terhadap mama-mama pasar yang berada diseluruh tanah West Papua,membuat penyadaran agar memuculkan kesadaran baru untuk melawan bourjiasi kecil dan tuan imperialisme,kolonialisme dan militerisme sebagai penghalang perlawanan menujuh cita-cita dan impian bangsa sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka atas teritory West Papua.

Penulis adalah Anggota Aktif Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali


Oleh: Ardhy Murib**

Persatuan Nasional.

Kini tidak ada jalan lain selain bangsa yang tertindas bersatu, jika benar-benar rakyat bersatu dari kesadaran maka perlawanan sangat mudah untuk melawan dan  merebut kemerdekan atau kebebasan  dari tanggan penjajahan, sehingga kebutuhan mendasar adalah membutuhkan persatuan Nasional menjadi kebutuhan sangat penting untuk menjawab bagaimana untuk mengakhiri penderitaan yang di alami oleh rakyat bangsa West Papua. Dengan penderitaan itu, terlihat jelas  mulai dari beberapa puluhan tahun terakhir mengalami berbagai penderitaan dari kolonialisme melalui berbagai system-nya terhadap bangsa yang memperjuangkan hak kebebasan.

Dengan konsep bahwa selalu dipertanyakan apabila jika bangsa atau rakyat tidak bersatu maka penderitaan tidak akan pernah berakhir dengan cepat mungkin, malah rakyat terus akan memperpanjangkan penderitaan karna dalam rakyat belum adanya persatuan Nasional itu sendiri, dan di samping itu pun, para pengguasa akan terus mengguasai bahkan melakukan pemusnahan etnis rakyat (Genocide) terjadi terhadap rakyat yang di jajah. Serta tidak hanya itu, berbagai sumber daya alam kekayaan pun akan terus beroperasi (ilegal eksploitasi) hingga mengerus sumber daya alam yang ada dari berbagai unsur (tanah, batu, pasir, hutan, emas, tembaga, nikel, uranium, batu nikel, dan lain-lain).

Maka rakyat atau bangsa yang tertindas tidak perlu berdiam diri di atas Negri-nya sendiri tanpa ada perlawanan dari rakyat. Jika rakyat terus diam maka hak-hak rakyat terus menerus akan di ambil dan di rampas oleh kaum pengguasa dan kaum penjajah juga; Jika diam dan menanggis tidak ada solusi maka dengan satu-satu-nya jalan adalah rakyat bersatu dan bertindak serta melawan maka ada solusi dan kebebasan atas bangsa-nya sendiri terikat pada pembebasan nasional yang di perjuangkan. Kekuatan dan kemenanggan ada pada rakyat itu sendiri bukan kepada siapa-siapa, dikarenakan keberadaan rakyat sendiri sehingga menumbuhkan  semangat perjuangan kemenangan menjadi milik rakyat bukan milik individu-individu dan kelompok-kelompok bahkan juga Faksi ini Faksi itu, bukan organisasi ini organisasi itu , dan tidak bisa mengharapkan orang lain selain rakyat bersatu dan melawan atas kebenaran sejati untuk penentuan nasib sendiri yang di perjuangkannya
Berkaitan dengan persatuan merupakan hal yang sangat  terpenting bagi rakyat untuk pada kebutuhan hari ini menuju bersatu dan melawan ketidak adilan di atas negri-nya sendiri sehingga menciptakan persatuan yang akan terlahir dan bangkit dari semangat perjuangan rakyat untuk melawan akar persoalan dari penindasan,pengisapan,pemerkosaan,pembunuan,perampasan penangkapan,pembantaian dan lain-lain. Dalam kebutuhan mendasar persatuan membutuhkan kekuatan untuk membangkitkan. Beberapa ulasan akan di bahas di bawa ini:

Kenapa Persatuan Nasional ini harus bangkit.

Karna dengan situasi dan kondisi Rakyat West Papua sendiri sangat rumit untuk menyelesaikan persoalan-persoalan penentuan nasib sendiri bahkan melihat dengan musuh atau penjajah yang berlipat ganda. Dengan kondisi seperti ini, merupakan rakyat Barat Papua membutuhkan dan memdorong persatuan nasional, sehingga tidak hanya terfokus pada organisasi atau kubu mana pun bahkan mengharapkan kepada ULMWP hingga PPB, karena wadah atau organisasi merupakan tempat sebagai jatih diri atau tempat sebagai menyimpan indentitas ; tetapi yang akan menyelesaikan persoalan di atas bumi Cendarawasih adalah ketika rakyat sendiri sadar dan bangkit maka dengan semua persoalan akan cepat selesai sesuai target dari perjuangan rakyat sendiri terlepas dari berbagai sudut pandangan yang berbeda melainkan bersatu. Sudut pandang untuk membangkitkan persatuan juga di ukur melalui pentingnya Persatuan di gagas secara konsistensi.

Kenapa Persatuan Nasional itu sangat penting.

Melihat musuh (penjajah) yang sangat kuat maka individu beserta rakyat sendiri tidak akan bisa melawan membutuhkan gagasan-gagasan, opini-opini yang melawan penjajah secara Praxis. Penjajah atau pengguasa akan terus melakukan keamauan dan keinginan para penguasa seperti, beroperasi (ilegal system) dan membuat berbagai cara untuk memusnahkan tuan tanah atau manusia (West Papua). Keberadaan penjajah atas Tanah bangsa West Papua tidak terlepas oleh kekuasaan penggawalan aparat militer (kolonial) NKRI  dan Kaum Penajajah (Kapitalis dan Imprealis) atas tanah West Papua itu sendiri.  Perlu mengagas juga bahwa bagaimana akan terus bangsa penjajah (Indonesia dan Bangsa Asing) menguasai dan meloloskan agenda eksploitasi atau merampas kekayaan alam di atas Negri West Papua? pertanyaan ini merupakan jawaban bersama antara Rakyat West Papua dan Rakyat Pendukung untuk pembebasan nasional  West Papua. Maka untuk melawan para kaum pengguasa dan kaum penjajah membutuhkan  kesadaran dan bersatu dalam melihat realita kondisi perjuangan rakyat bahwa, kita sadar akan penindasan yang dirasakan bersatu dan melawan penjajah merupakan konteks spontan dan spontanitas perjuangan untuk persatuan. Bagian terpenting kabutuhan mendasar dari perjuangan bersama rakyat adalah mengetahui berbagai persoalan penindasan yang merajalelah dan mewujudkan persatuan dalam satu wadah menyikapi persoalan Hak Penentunan Nasib sendiri.

Kerja Imperialisme dan Kapitalis yang sangat kuat menusuk hati rakyat (West Papua).

Dimana sumber daya alam terkaya disitulah dikuasai oleh para kaum imperialis dan kaum kapitalis mempunyai tingkatan yang disebut dengan penguasa yang dipolopori oleh negara-negara adhi kuasa seperti Amerika serikat(AS) dan Negara-Negara brojuis Barat yang mempunyai tingkatan penguasaan atas semua kekayaan alam dan tidak hanya itu namun mengguasai dunia seperti kekuasaan negara-negara atas West Papua melalui kolonial negara Indonesia. Sifat dari Kaum Kapitalis dan Kaum Imperialis tidak akan pernah berpikir atau berpandang untuk hidup serata dan tidak akan pernah meraskan baik dan buruk tetapi mempunyai niat untuk menghancurkan rakyat dan bangsa yang memperjuangkan sebuah penentuan nasib sendiri. Itu pun, dapat merasakan dan menyaksikan dengan mata sendiri bahwa para kaum pengguasa dan kaum penajajah telah mengguasai alam kekayaan terutama West Papua.  Bila terus mengguasai oleh kaum imperialisme dan kaum kapitalisme gejolak untuk sebuah pertanyaan yang perlu di bahas adalah kenapa rakyat atau tuan tanah harus bersatu untuk merebut sebuah kebebasan atas penentuan nasib sendiri dan melawan penajah itu?  dengan keteguhan kekuatan rakyat-lah yang mampu melawan para kaum pengguasa dan kaum penjajah serta para Elit-elit brojuis kapitalis yang didorong oleh imperialis.

Sehingga, persatuan dari rakyat sendiri merupakan kekuatan melawan terhadap kaum pengguasa dan kaum penjajah dengan itu perlu ada namanya pergerakan rakyat memupuk dan mendorong persatuan untuk melawan berbagai penindasan dengan kekuatan rakyat yang menuju persatuan nasional dan serta menghancurkan cara kerja kapitalis dan Imperialis .

Kenapa persatuan Nasional perlu didorong Untuk Rakyat West Papua

Dengan Persatuan Nasional akan ada kekuatan yang tidak bisa melawan dan dikalakan oleh siapapun,bahkan dari kaum penjajah dan kaum penguasaan manapun, karena semua kekuatan terlahir dari rakyat (akar rumput) yang menyatu dengan alam. Maka dari itu,  rakyat yang tertindas terus mendorong Persatuan Nasional dan melawan sampai titik penghabisan darah (revolusi baru) sehingga dengan persatuan rakyat mampu mengulingkan sifat kaum pengguasa dan sifat kaum penjajah dengan strategi perjuangan yang matang.  Itu merupakan dari kekuatan Persatuan Nasional dari rakyat dan melainkan Perjuangan tersebut juga akan menempu kebebasan yang seutuhnya.

Dengan Antusias bahwa seluruh rakyat perlu mendorong dan membangkitkan rakyat dalam Persatuan Nasional tersendiri bersatu bersama. Dan yang belum sadar dan masih mengharapkan pada organisasi tertentu atau fraksi mana  pun bahwa kemerdekaan tidak akan pernah datang bila rakyat terus mengharapkannya atau pun kepada orang lain yang berjuang.  Sebuah Perjuangan kemenangan ada pada rakyat bukan kepada rakyat yang mengharapkan organisasi ini organisasi itu, Faksi ini Faksi itu dan lebih bahaya nya lagi rakyat mengharapkan kepada PBB (perserikatan bangsa-bangsa) pun tidak akan pernah memberikan secara penuh atas hak kemerdekaan bangsa West Papua melainkan apa bial persatuan kita terwujud secara persatuan nasional yang demokratik-lah akan merebut kemerdekaan itu.

Dalam Hal tersebut, mendorong persatuan nasional, karena persatuanlah yang lebih mendasar dan dibutuhkan rakyat West Papua sekarang,tidak bisa rakyat yang tertindas berdiam diri bahkan jadi penontong diatas tanah nya sendiri tanpa ada perlawanan dari rakyat. maka rakyat punya tuggas besar yang harus bersatu dan mendorong persatuan kita untuk kekuatan besar melawan para kaum pengguasa dan kaum penjajah.

Persatuan tanpa batas

Dengan persatuan rakyat terus berkoar dan menyala hingga kebebasan jatuh ke tanggan rakyat dengan tali  persatuan dan perjuangan rakyat tanpa berkata dengan kata lelah, menyerah, dan tidak mampu maka kebebasan akan jatuh ke tangan rakyat secara konkrit. Dengan itu terus memajukan perjuangan dan melawan ketidak adilan, disitulah kebebasan akan jatu dengan waktu yang sangat cepat dan itulah yang dibutukan rakyat sekarang sebelum kepunahan etnis bangsa West Papua hilang di atas tanah sendiri.

Sehingga, tidak ada jalan lain selain rakyat benar-benar sadar dan bersatu untuk melawan para brojuis-brojuis yang dipolopori oleh imperalis itu dan rakyat tidak terus berdiam diri, terjajah dan menjadi seorang penontong di atas negri nya sendiri. Maka, waktu nya sekarang untuk rakyat bangkit dan melawan dengan kekuatan persatuan rakyat melalui kekuatan besar. Lawan penjajah dalam Persatuan Nasional  rakyat tanpa ada batasan hingga perjuangan rakyat sampai menang. Walaupun tidak mudah untuk bersatu karena dengan melihat wilayah West Papua yang sangat luas menjangkau namun dengan Persatuan  Nasional rakyat dan rakyat sendiri sadar maka mudah untuk rakyat menggakiri penderitaan rakyat tidak bisa berdiam diri karena dengan rakyat tidak berbicara dan melawan maka kebebasan tak mudah untuk jatuh ketanggan rakyat. Oleh karena itu, kekuatan meningkatkan rakyat percaya melalui gagasan saling meyadarkan untuk menyatu dalam perjuangan Persatuan Nasional. Di samping itu, Solidaritas maupun mendorong isu-isu West Papua hingga pada tingkat loka, Nasional, Internasional, agar perjuangan terus mampan untuk merebut Hak Penentuan Nasib Sendiri secara luas.

Kekuatan rakyat

Kekuatan yang sangat kuat ada pada rakyat,karena dilihat dari negara-negara yang sudah pernah terjajah dan bebas dari penindasan itu. bangkit dengan kekuatan rakyat yang sangat kuat karna dengan rakyat bersatu bisa membangunkan jiwa-jiwa perjuangan dan tidak pernah terkalakan, dari berbagai perjuangan rakyat dikisahkan dengan mebangkitkan jiwa-jiwa perjuangan dan rakyat bisa belajar dari belahan dunia yang sudah pernah merdeka.  Itulah pembelajaran untuk perjuangan rakyat bangsa West Papua,  dan itu akan menjadi kekuatan amunisi rakyat untuk menempu perjuangan hingga kebebasan benar-benar jatuh ketanggan rakyat dengan perjuangan persatuan Nasional rakyat yang mampu untuk melenyapkan kaum penguasa dan kaum penjajah. Sehingga, kekuatan dari Kaum penjajah dan kaum penguasan tetap lumpuh dari tangan rakyat. Dan perjuangan pembebasan harus terus mengambil gaya atau cara rakyat melawan para penajah atau kolonialisme Indonesia.

Kenapa kekuatan ada pada rakyat 

Tidak ada kekuatan tanpa ada persatuan dari rakyat. kembali kepada rakyat jika rakyat tak bersatu dan melawan para kaum pengguasa dan kaum penjajah maka, para kaum pengguasa dan kaum penjajah akan terus menguasai kekayaan alam, melakukan intimidasi, deskriminasi, rasisme bahkan genocide dengan gaya penajah itu sendiri.  Jika rakyat diam maka rakyat akan terus terbelakang dan terus disinkirkan dari kaum penjajaan dan kaum penguasa itu. Rakyat bersatu dan melawan maka kemenangan dan kebebasan  akan capai dan berakhir dalam kekauatan rakyat.

Karena itu,  melihat penindasan selalu terjadi pada rakyat bukan pada para Elit-elit atau para penjabat pegawai (kolonial) dan lain-lain maka dengan itu rakyat terus melawan,tanpa ada perlawanan kebebasan tidak akan datang begitu saja. dengan wujud bahwa ada persoalan yang di hadapi semua ada tangisan air mata, korban di atas pengorbanan nyawa, alam di kerus dan lain lain. dan berjuang dengan berbagai macam cara untuk menggusir para kaum pengguasa dan kaum penajah di atas Negri West Papua, dengan kekuatan semangat perjuangan rakyat, bersatu dan melawan.

Front Persatuan Nasional harus dibanggun

Membawa kebebasan kepada rakyat dengan idieologi membutuhakan persatuan yang mempereratkan pada rakyat serta membentuk klas-klas untuk mempersatukan dalam persatuan nasional itu sendiri, melihat dengan itu, karena dengan keadaan, situasi  tujuh wilayah yang berada di Papua Barat yang cukup luas membutuhkan strategi untuk menjadi satu dan kembali lagi ke persatuan yang mempunyai satu tugu bersama dan meingkatan penyadaran kepada semua kaum yang tertindas di West Papua seperti kaum tani,kaum miskin kota, anak-anak jalanan (aibon) kaum amber atau imigrang (pendatang) . Itu merupakan juga bagian dari tanggun jawab besar bagi rakyat yang telah dalam persatuan nasional menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut melalui daya berpikir dan daya perjuangan yang sangat Power (kekuatan yang punya strategi).

Membangun persatuan nasional yang menyatu  dengan perjuangan rakyat Papua Barat di Tingkat Internasional hingga tingkat Rakyat West Papua sendiri. sehingga, kekuatan perjuangan ada pada rakyat West Papua. Kebutuhan dalam tingakatan perjuangan dalam persatuan nasional harus tinggalkan cara egois. kepentingan pribadi dan ingin dikuasai, mengharapkan oranga lain, mengharapkan organisasi tertentu. Yang Perlu di pikirkan adalah bagimana kemerdekan datang dengan cepat dari  perjuangan rakyat dalam persatuan nasional dan sehingga, kebebasan benar-benar dirasakan oleh rakyat. Maka mari rapatkan barisan  bersatu dan melawan,dengan adanya jiwa-jiwa perjuangan tetap bersatu . Untuk Itu, tidak ada jalan lain selain membangun dan mendorong persatuan kita, inilah tugas pokok untuk mendorong bersama oleh rakyat  bangsa West Papua.

Salam Pembebasan Nasional Papua Barat
Penulis adalah Biro Pendidikan Aliansi Mahasiawa Papua Komite Kota Bali

Ils. gambar oleh Koran Kejora

Karya, A. Helena Kobogau

Perjuangan itu bukan hanya sebuah khayalan,
perjuangan itu bukan hanya sebuah rutinitas,
perjuangan itu bukan hanya sebuah warisan,
perjuangan itu bukanlah hanya sebuah masa lalu.

perjuangan itu bukan hanya berpengetahuan tinggi,
perjuangan itu bukan hanya berteori,
perjuangan itu bukan hanya duduk berpikir dan berdiskusi,
perjuangan itu bukan hanya dengan menulis dalam sebuah lembaran kertas putih dengan tinta sebuah pena.

perjuangan itu bukan hanya kata-kata yang diucapkan,
perjuangan itu bukan dengan berteriak dijalan dengan hanya memegang meghapon,
perjuangan itu bukan hanya bermilitansi,
perjuangan itu bukan hanya sebuah hiasan didinding sebuah rumah,
perjuangan itu bukan hanya berlutut dan memohon pada yang Kuasa.

perjuangan itu bukan hanya berbuat baik,
perjuangan itu bukan hanya dengan siapa kita berteman,
perjuangan itu bukan hanya berbagi kepada orang lain,
perjuangan itu bukan hanya menilai dari satu sisi saja,
perjuaangan itu bukan hanya melihat derita dan tangisan.

perjuangan itu bukan bukan sebuah fisik namun sebuah eksperiment dari perpaduan antara jiwa dan fisik dengan membentuk sebuah pola pemahaman yang sejati akan perjuangan itu sendiri.
Perjuangan itu adalah urat nadi dan nafas dalam setiap aktifitas.
Perjuangan itu tidak memandang usia dan batas waktu.

Perjuangan itu merupakan satu kesatuan dari kelompok-kelompok manusia.
Perjuangan itu adalah dengan mengerjakan hal-hal paling kecil dengan tekun dan penuh tanggung jawab.
Perjuangan itu tidak ada yang namanya perbedaan antara klas-klas dalam suatu tatanan masyarakat.
Perjuangan itu baru akan dimulai ketika ego pribadi itu dikalahkan dalam diri individu itu sendiri.
Perjuangan itu bukan hanya melihat sesuatu yang besar [diatas], namun merendahkan diri antara satu dengan yang lain.
Perjuangan itu adalah dengan menjadi seorang yang siap sedia dalam hal apapun untuk membuat revolusi-revolusi dalam kalangan masyarakat tertindas.

Perjuangan itu hanya dapat dimulai dari diri sendiri dengan dipupuk oleh kesadaran melihat sebuah  realitas, berpikir kristis, dan bertindak produktif dalam siklus kehidupan yang proaktif.
Perjuangan itu juga merupakan senjata perlawanan paling ampuh yang harus kita siapkan untuk melawan musuh leluhur moyang kita.

Perjuangan itu dengan mempertahankan harga diri serta identitas secara terhormat.
Perjuangan itu merupakan bunga-bungan cinta dalam kerja-kerja revolusi.
Perjuangan itu adalah harkat derajat dan martabat suatu masyarakat dijunjung tinggi.
Perjuangan itu merupakan sebuah seni dalam budaya leluhur yang harus dipertahankan.
Perjuangan itu merupakan lestarinya alam dan bumi sebagai pijakkan kaki yang terindah.

Perjuangan itu merupakan darah dan tulang yang menggerakkan tubuh dan jiwa untuk dapat memaknai sesungguhnya arti dari perjuangan itu sendiri.
Perjuangan itu adalah menciptakan satu kesatuan dalam kehidupan yang bedah.
Perjuangan itu dapat mempersatuhkan keunikan dari suku-suku budaya dan bahasa yang beragam.
Perjuangan itu merupakan tindakan nyata yang harus diwujud nyatakan dalam “PERSATUAN PEMBEBASAN NASIONAL PAPUA BARAT” sebagai perjuangan yang Sejati, Luhur dan Mulia, serta Nan Abadi Selamanya.

ilst. Gambar Koran Kejora Aliansi Mahasiswa Papua
Oleh: Natalis Bukega***

     Persoalan kebangsaan untuk penentuan nasib sendiri merupakan kebutuhan untuk mengagas pergerakan rakyat secara bersama mempersatukan wadah, idealis, Material dan merunjuk pada Praxis resolusioner “ Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Rakyat Bangsa Papua Barat”. dan tidak terlepas dari aspek historis setiap kelas-kelas penindasan rakyat dengan sejati-nya memperjuangkan jati diri untuk pembebasan Nasional secara manifesto reolusioner.  Gagasan, Mengenai sebuah proses awal mula kebangsaan juga terlihat pada negara-negara yang telah merdeka dan memperjuangkan sebagai negara yang berdaulat secara konstitusional  dari ideologis kebangsaannya masing-masing; sama hal juga bahwa kemerdekaan perjuangan bangsa Papua Barat adalah Hak Penentuan nasib sendiri tanpa intervensi  eksplotasi tertentu di tanah air Papua Barat dan kepentingan kapitalisme, Imperialisme, kolonialisme dalam  merebut demokratis kemerdekaan rakyat bangsa Papua Barat.

     Persoalan kebangsaan di kategorikan dengan beberapa pandangan yang perlu di dorong bersama yakni mulai dengan persatuan nasional dari rakyat yang ingin bebas serta pendukung (solidaritas) untuk mendorong persoalan kebangsaan dalam perstauan nasional. Dari pandangan Rakyat dan Pendukung menjadi satu untuk mendorong berbagai persoalan kebangsaan dalam prekpektif rakyat yang ingin bebas merdeka. Yang mana, dalam proses kebangsaan mengagas Idelogi dan alat pergerakan yang mengarah pada satu prinsip untuk kebangsaan yakni persatuan Nasional dan merebut kelas-kelas perjuangan pada wilayah yang terisolir untuk penentuan nasib sendiri.  Sehingga, terciptanya Persatuan Nasional sebagai alat gerak untuk rakyat dan massa luas merajut apa itu kemrdekaan bagi Rakyat Papua Barat.

     Peranan penting  dalam Persatuan Nasional di Papua Barat, adalah mempersatukan berbagai kalangan mulai dari Individu-Individu, Kelompok-kelompok, Orgnisasi-organisasi, Fraksi-fraksi, kaum mudah/mudi, suku-suku, agama-agama, lembaga-lembaga, kaum buruh, kaum tani, kaum miskin kota, kaum pedagang, kaum nelayan, kaum anak-anak jalanan serta beragama kelas-kelas penindasan di tanah Papua Barat; dan dengan itu, mewujudkan gagasan kebangsaan bersamaan yakni bertujuan pada satu tujuan dalam satu tugu ataupun satu ideologi rakyat memperjuangkan melalui konsep dasar “Persatuan Nasional”, dan terlepas dari kepentingan-kepentingan garis perjuangan yang ideal-lainnya pada Individu-individu, sekelompok-sekelompok, atau organiasi-organiasi tertentu. Melainkan, mampu mempunyai pandangan yang nasionalis mengerakan elemen  gerakan-nya untuk menyatu dalam persatuan nasional rakyat yang ingin bebas merdeka memimpin garis terdepan menuntut hak penentuan nasib sendiri di Papua barat dan di dorong dengan jalur-jalur diplomasi dalam satu wadah “Persatuan Nasional” yang absolut dan mendorogn perjuangan ke arah nasionalisme.

      Dari Konsep Persatuan Nasional untuk sebuah kebangsaan membutuhkan para pejaung-pejuang yang mempunyai satu perjuangan yang mampu mengarahkan berbagai elemen gerakan, bertujuan menujuh untuk membentuk dan mendorong dalam Persatuan Nasional dari semua prekpektif yang berbeda ke  Prekpektif rakyat yang bersatu dan daulat. Dari pergerakan Persatuan Nasional juga,  membutuhkan beberapa tingkatan yang memajukan Ideologi perjuangan yaitu Idealisme (pandangan tentang Ide Kebangsaan) dan Materialisme ( Materi pembelajaran untuk kebangsaan ) serta Praxis ( Praktek, cara-cara keraja pejuang, atau memimpin aksi jalan dan lain-lain) konsep tersebut menuju pada tingkatan dasar perjuangan dan peregerakan persatuan nasional untuk kebangsaan. Dari landasan itu, Rakyat dalam persatuan Nasional akan merevolusikan perjuangan sejati atas dasar sejarah bangsa untuk kebangsaan bersama dari revolusi dalam penentuan nasib sendiri. Konsep ini pernah di gunakan oleh Lenin dalam menjalankan organisasi yang mempersatuakn seluruh uni soviet seperti yang di tulias oleh Ernest Mandel soal “Teori Organisasi Leninis” yang menjelaskan bahwa ada massa, massa yang maju, ada massa inti, dalam proses perjuangan kelas dan teori ini pun bagian dari praxisnya Rakyat Papua Barat dalam penentuan nasib sendiri.  Subjek yang terpenting juga adalah tulisan lenin mengenai Revolusi Sosialis dan Hak Sebuah Bangsa untuk Menentukan nasib sendiri”mengagas mengenai Kemenangan sosialisme harus mencapai demokrasi yang sepenuhnya, dan sebagai akibatnya tidak hanya membawa kesetaraan sepenuh-penuhnya di antara bangsa-bangsa, tetapi juga hak kepada bangsa-bangsa yang tertindas untuk menentuakan nasibnya sendiri, yaitu hak untuk bebas memisahkan diri secara politik”. Realitas untuk persatuan nasional di Papua Barat  merupakan konsep perjuangan melibatkan juga Gerylia persenjataan merebut demokratis dari penjajahan yang terus menjajah rakyat, seperti  yang di tulis oleh T.W.Utomo menganai Revolusi Che Guevara “Sisi-sisi Kehidupan Sang Nasionalisme Sejati” dan dalam konteks ini menuju suatu pembebasan nasional untuk penentuan nasib sediri juga harus mempunyai Gerylia sebagai bagian dari diplomasi dan pertahanan untuk merebut kemerdekaan di tangan rakyat.  Selain dari itu, juga adalah mogok sipil Nasional untuk tuntutan hak rakyat menentukan nasib sendiri. Kondisi seperti ini, perlu di mulai melalui dan membangun “Perstauan Nasional Papua Barat secara Konsistensi bersama dan bertanggunggjawab bersama untuk menuju pada satu nasionalisme yaitu memperjuangkan kemerdekaan bangsa Papua Barat di negri sendiri sama seperti kemerdekaan negara-negara lain di muka bumi.

      Dari sudut pandang Papua Barat, Sejarah bangsa Papua Barat mempunyai perjuangan yang panjang mulai dari pelayaran-pelayaran bangsa-bangsa asing (Eropa) masuk di Tanah Papua Barat hingga kekuasaan bangsa Belanda atas  Papua Barat selama 64 Tahun; Sertakan Belanda telah memupuk embrio kemerdekaan bangsa Papua  Barat sejak, 01 Desember 1961 bersama para pelopor sejarahwan/wati  pergerakan rakyat West Papua dalam satu wadah yaitu “Komite Nasional Papua” . Namun, kemerdekaan itu hanya berumur hingga 19 hari saat “trikora” di cetuskan oleh Ir.Soekarno di Alun-Alun Kota Yogya Utara pada 19 Desember 1961  untuk membatalkan Negara Papua Barat yang telah merdeka sama seperti kemerdekaan bangsa lain di dunia ini. Dan mengarah pada proses tahapan Bangsa Papua Barat di aneksasi atau di paksa oleh Indonesai untuk menjadi bagian dari wilayah Indonesia karena mempunyai kepentingan ekonomi dan politik imperialisme, kapitalisme, kolonialisme di Papua Barat, dan melalui aneksasi  01 Mei 1963 secara sepihak Amerika serikat, PBB, Belanda, Indonesia  tanpa mempertanyakan satu pun rakyat Asli Papua Barat untuk bergabung atau tidak Ke NKRI tetapi tidak pernah sama sekali di tanyakan soal itu;  itulah lahir-nya kolonialisme atau pun penjajahan atas Papua barat secara hukum yang ilegal konstitusional Indonesia atas Papua Barat dan PBB yang tidak bertanggung jawab.

     Sehingga, catatan sejarah bangsa Papua  Barat membutuhan pelurusan dalam satu wadah yang nasionalis yaitu “Persatuan nasional Papua Barat”. Maka dari beberapa kondis sejarah yang bisa kita perhatikan bersama adalah mulai dari sejak 1 Desember 1961 sebagai kemerdekaan bangsa Papua Barat dan di mana, telah mengagas  persoalan kebangsaaan melalui kongres Nasional Papua yang pertama oleh para pelopor sejarah dan Kedua, merupakan catatan hari Tri Komdo Rakyat (TRIKORA)  di Alun-Alun Kota Yokyakarta Utara, tanggal 19 Desember 1961 yang di komdangkan oleh Ir. Soekarno dengan tiga point utama yakni, bubarkan negara boneka Papua Barat buatan belanda, Kibarkan bendera merah putih di seluruh Irian Barat/Papua Barat, dan Bersiaplah untuk mobilisai umum. Ketiga, Catatan hari The New York Agreement pada 15 Agustus 1962 merupakan hasil dari bangsa kolonial Indonesia tidak ingin bangsa  Papua Barat merdeka secara demokratik melainkan Indonesia menggugat terhadap Belanda, dan Amerika Serikat sebagai penengah membicarakan persoalan kebangsaan bangsa Papua Barat melalui The New York Agreement dengan beberapa point isi dari tuntutan tersebut tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat yakni, pertama,Apabila badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) telah membenarkan persetujuan atau perjanjian itu melalui Rapat Umum, maka Belanda segera menyerahkan kekuasaan atas Irian Jaya (Papua Barat) kepada UNTEA, Kedua, Terhitung sejak tanggal 1 Mei 1963 UNTEA yang memikul tanggung jawab Administrasi Pemerintah di Irian Jaya (Papua Barat) selama 6-8 bulan dan menyerahkannya kepada Indonesia, Ketiga, Pada akhir tahun 1969, dibawah pengawasan Sekretaris Jenderal PBB dilakukan Act of Free Choice, orang Irian Jaya (Papua Barat) dapat menentukan penggabungan pasti tanah mereka dengan Indonesia atau menentukan status atau kedudukan yang lain (Merdeka Sendiri), Ke empat Indonesia dalam tenggang waktu tersebut diharuskan mengembangkan dan membangun kebersamaan orang Irian Jaya (Papua Barat) untuk hingga akhir 1969, Papua Barat menentukan pilihannya sendiri. Keempat, The Secret Memmorandum of roma (30 September 1961) dan The Roma Joint Statement (20-21 Mei 1969) berisi mengenai, Pertama menunda atau membatalkan Pepera 1969 sesuai Perjanjian New York, Kedua Indonesia akan menduduki  Papua Barat selama 25 tahun mulai dari 1 Mei 1963. Ketiga pelaksana Pepera 1969 akan di jalankan berdasarkan cara indonesia musyawarah, Keempat laporan akhir PBB atas Impementasi Pepera ke SU PBB harus di terima tanpa perdebatan terbuka, Kelima Amerika Serikat Membuat Investasi melalui BUMN Indonesia untuk eksplotasi sumber daya alam di Papua Barat, Keenam Amerika Serikat menjamin lewat Bank Pembangunan Asia dana sebesar US$20 Juta kepada UNDP untuk pembangunan di Papua Barat selama 25 Tahun mulai dari 1 Mei 1963, Ketuju Amerika Serikat menjamain rencana Bank Dunia dan menerapkan Transmigrasi orang Indonesia ke Papua Barat. KeLima penyerahan Papua Barat dari UNTEA kepada NKRI (1 Mesi 1963) atau aneksasi oleh pihak asing dan Indonesia atas Papua Barat.  Keenam Pepera dari 14 Juli hingga 2 Agustus 1969. KeTujuh Resolusi SU PBB No. 2504 (XXIV) pada November 1969, Ke Delapan konggres Nasonal II Rakyat dan Bangsa West Papua Jayapura, 26 Mei-4 juni 2000. Kesembilan organisasi-organisasi Papua Barat yang terbentuk bagian dari wadah konsolidasi bersama mulai dari 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga pada tahun 2000-an.

      Dari rangkaian sejarah, tidak terlepas juga, dengan kekerasan militerisme Indonesia di Papua Barat, terutama seketika TRIKORA di cetuskan beragam operasi yang dilakukan di Papua Barat seperti, Operasi operasi Militer Indonesia  di Papua Barat dengan satuan militer yang diturunkan operasi lewat udara dan jalur darat dalam fase infiltrasi seperti Operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala, Operasi Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi Lumbung, Operasi Jatayu, Operasi Sadar. Operasi lewat laut adalah Operasi Show of Rorce, Operasi Cakra, dan Operasi Lumba-lumba. Sedangkan pada fase eksploitasi dilakukan Operasi Jayawijaya dan Operasi Khusus (Opsus), Operasi Wisnumurti, Operasi Brathayudha, Operasi Wibawa, Operasi Mapiduma, Operasi Khusus Penenganan Pepera, Operasi Tumpas, Operasi Koteka, Operasi Senyum, Operasi Gagak, Operasi Kasuari, Operasi Rajawali, operasi maleo.  Melalui operasi ini wilayah Papua Barat diduduki, dan banyak rakyat  Papua barat yang telah dibantai dan beragam operasi lainnya masih berlanjut hingga rakyat Papua Barat menjadi minoritas di tanah sendiri dan juga dari ‘Slow System Genocide’ yang di lakukan oleh kolonialisme Indonesia melalui makanan, tabrak lari liar, pembunuhan, serta beragam cara licik. Ini adalah kekuasaan kolonial Indonesia di Papua Barat yang terus menerus memusnahkan rakyat asli Papua Barat dari progress system Indonesia yang sangat tidak konstititusional.

     Perjalanan peradaban sejarah rakyat dalam prekpektif persoalan kebebasan atau untuk merdeka merupakan bagian dari konstitusi melanjutkan perjuangan serta mampun menyikapi  persoalan secara terstruktur bahwa di tingkatan Lokal, Nasional dan Internasional menyikapi dalam satu wadah bersama dan mendorong terus dari generasi ke-generasi menciptakan kemauan untuk menentukan nasib sendiri di tanah air Papua Barat.  Melihat realitas sejarah bangsa dan mendorong dalam pandangan bersama, membutukan peranan dari berbagai wadah mulai dari organiasi-organiasi yang bersifat non-organisasi hingga organisasi legal yang mempunyai kuasa hukum serta mengorganisir kaum yang belum terorganisir. Jelas, bahwa Kebutuhan bersama adalah” Persatuan Nasional Papua Barat” yang melahirkan embrio dan revolusi demokratik dari rakyat dan untuk rakyat serta untuk kebutuhan bangsa atas dasar ideologis Nasional Papua Barat. Dan Kemudian, mendorong cacatatan -catatan sejarah rakyat dalam perstauan nasional serta juga, menuntut ekspresi aksi demontarasi dan gerylia untuk menutup berbagai eksploitasi-eksploitasi liar, mengembalikan kedudukan  Papua barat sebagai teritory Hak Penentuan Nasib Sendiri yang secara demokratik.

      Secara realitas kehidupan rakyat Papua Barat; kolonial Indonesia di Tanah Papua Barat, mempunyai persoalan yang ketidak-setaraan antara rakyat Papua Barat dan Rakyat Indonesia mulai dari sejarah hingga teritory Papua Barat bahkan juga secara konstisional negara Indonesia atas Papua Barat tidak sama sekali merata secara ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-nya. Persoalan tersebut adalah Indonesia bagi rakyat Papua Barat adalah sementara di  Papua Barat (Indonesia Ilgal kontitution on West Papua). Dan melihat juga, keburukan Indonesia bahwa melakukan berbagai Eksploitasi-ekploitasi, Pemusnahan Etnis rakyat Papua Barat (Genocide), Penguasaan militer seluruh tanah Papua Barat, Birokrasi Indonesia di Kuasai oleh Rakyat Indonesia sendiri bukan Rakyat Asli Papua Barat, Indonesia Mampu membohonggi PBB tentang situasi realita Papua Barat, Hak persoalan Rakyat bangsa Papua Barat Indonesia selalu melakukan mengklaim dan mengintimidasi serta  berbagai persoalan yang terjadi atas Papua Barat berangapan sebagai permainan.  Ini merupakan keburukan Indonesia dan wacana buruk yang di lakukan selam 57 tahun bangsa West papua di Aneksasi; sesungguhnya bahwa gagasan persoalan kebangsaan  dan sebagai catatan sejarah bangsa  Papua Barat untuk melihat, berfikir, menganalisis sehingga dasar kehidupan ideologi rakyat Papua Barat adalah konteks pembebasan nasional memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis dan terlepas dari namanya ekploitasi kapitalisme, Imperialisme, kolonialisme. Kebutuhan kita bangsa Papua Barat adalah kebutuhan mendesak mempersatukan dalam sebuah wadah yang berbentuk persatuan nasional Papua Barat menuju pada embrio baru dalam satu honai.

      Dan dalam Persatuan Nasional itulah, gagasan akan sebuah kebangsaan akan terjadi embrio baru dan revolusi rakyat akan memajukan perjuangan dasar Ideologi dari Teori hingga Praxis, yang mana mengorganisir berbagai basis kelas-kelas penindasan rakyat yang ada di tanah air Papua Barat serta menjunjung tinggi persatuan yang menjadi gagasan utama atas dorongan bersama dari rakyat hingga tingkatan pendukung demokratik pembebasan nasional. Persoalan Perkpektif Pembebasan akan menjadi terorganisir untuk Nasionalisasikan dan Internasionalisasikan sesuai perjuangan dalam persatuan bersama dari absurd perjuangan realistis.

     Maka, melihat dari kondisi ini perlu di pertanyakan kepada rakyat dan organisasi-organisasi pembebasan nasional Papua Barat bahwa apa kah kita perlu Persatuan Nasional? Apakah Kita bangsa Papua Barat pantaskah merdeka atas tanah sendiri? dan Bagaiman kita mengorganisir dalam persatuan nasional? Bisa kah kita bersatu?. Dan Bagimanakah kita harus meninggalkan egoisme dan Patronisme?  Inilah merupakan gagasan yang harus rakyat dan organiasi-organisasi pembebasan memikirkan sejauh-nya untuk persatuan bersama sehingga persoalan kebangsaan jatuh di tangan kita rakyat Papua Barat dari kalangan-kalangan yang ada di tanah Papua Barat. Sehingga revolusi demokratis tahapan kemerdekaan tercapai sesuai sejarah dan keadaan situasi untuk gagasan kebangsaan yang menuju pada persatuan nasional yang demokratis dalam Hak Penentuan Nasib Sendiri.


Salam Pembebasan Nasional Papua Barat


Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua


Refrensi:


[1]. Teori Oragnisasi Leninis Ernest Mandel

[2]. Haluk, Markus. 2015 4 seri “Seri Pendidikan Politik ULMWP”

[3]. Utomo, W.T. 2017 “Revolusi Che Guevara sisi-sisi kehidupan Sang Nasionalis Sejati”

[4]. Rachmawati, Iva. 2013 “ Papua, Sampul Jamrud Khatulistiwa

[5] Giay, Benny 2011 “ Hidup dan Karya Jhon Rumbiak”

[6] VL. Lenin. 1916 Revolusi Sosialis dan Hk Sebuah Bangsa untuk Menentukan Nasib sendiri

[7.]Agus A . Alu. 2006 [catatan kedua]. Papua Barat dari Pangkuan ke Pangkuan

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats