Halloween party ideas 2015

Ilst.Koran Kejora
Salam Pembebasan Nasional Bangsa West Papua!

Amolongo, Nimo, Koyao, Koha, Kinaonak, Nare, Yepmum, Dormum, Tabea Mufa, Walak, Foi Moi, Wainambe, Nayaklak
Wa…wa…wa…wa…wa…wa..wa..wa..wa..wa!

Memperingati 36 Tahun Kematian ARNOLD C. AP dan Nasionalisme Rakyat Bangsa Papua Barat

Gerakan kebangkitan Seni dan Budaya Papua Barat yang di pelopori oleh Arnol Clemens Ap, Sam Kapisa dan kawan-kawan mahasiswa uncen di Jayapura. Gerakan mahasiswa yang bergerak di seni dan budaya ini lahir pada tahun 1972 yang dimulai dari gereja-geraja, panggung hingga terakhir di RRI Nusantara Lima Jayapura. Gerakan ini tumbuh dan berkembang, yang kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi Mambesak. Musik ini di pelopori oleh Arnold C. Ap, Sam Kapisa dan kawan-kawannya mereka menamainya “Mambesak”, tujuannya adalah untuk menghibur hati masyarakat Papua Barat yang sedang di intimidasi, di aniaya, di perkosa dan di bunuh di atas tanahnya Sendiri.

Gerakan Mambesak memberikan inspirasi yang kuat dan membangkitan Nasionalisme bangsa Papua Barat, sehingga perlawanan pun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua Barat lainnya. Namun sayang, pemerintah Indonesia menganggapnya gerakan ini sangat berbahaya sehingga mereka menangkap Arnol C. Ap dan ditahan sejak bulan November 1983 dia dituduh sebagai OPM kota yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua Barat.  Karena tuduhan tersebut, akhirnya Arnold Ap dibunuh oleh Pemerintah Indonesia melalui Kopassandha (kini Kopassus) dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura.

Pembunuhannya diatur dengan skenario melarikan diri setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan oleh Kopassandha dari dalam tahanan. Arnold  C Ap yang hendak menyeberang ke Papua New Guinea menyusul istri dan anaknya yang telah mengungsi sebelumnya justru ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Di Jayapura sekitar 800 Masyarakat Papua melakukan pelarian ke Perbatasan Indonesia – PNG sebagai protes mereka atas sikap tidak manusiawi Indonesia terhadap bangsa Papua Barat. Pada hari yang sama sekitar 300 masyarakat Papua melakukan long mark mengatar mayat Alm. Arnol Ap dari Jayapura menujuh tanah hitam, tempat peristerahatan terakhir Al. Arnold C Ap.

Dia di bunuh tetapi jiwanya hidup bersama rakyat bangsa Papua. Dia sudah tidak ada tetapi semangatnya telah membangkitkan semangat perlawanan Rakyat Papua, nama Arlold Clemens Ap bagi rakyat Papua adalah symbol identitas dan bapak budaya bangsa Papua Barat.
Momentum 26 April adalah momen bersejarah bagi rakyat Papua Barat di mana kematian sang budayawan, yang berhasil mempersatukan kurang lebih 250 suku yang mendiami Pulau Papua Barat melalui gerakan seni dan budaya yang digalang oleh Arnold C. Ap, Sam Kapisa dan kawan-kawannya melalui grup music Mambesak.

Identitas ke-Papuan-an tumbuh beriringan dengan sejarah pergolakan kekuasaan yang terjadi di Tanah bangsa Papua Barat. Salah satu kekuasaan rezim Indonesia terhadap tanah dan rakyat bangsa Papua barat pada tahun 1940-an hingga 1960-an. Katika itu, bangsa Papua telah merdeka 1 Desember 1961 secara de Fakto dan De jure, karena ketidak terimaannya Indonesia dan Amerika atas negara bangsa Papua Barat maka lahirnya Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 14 Juli- 2 Agustus 1969 melalui berbagai perjanjian-perjanjian yang tanpa keterlibatan rakyat Bangsa Papua Barat. yang mana Indonesia memanipulasi sejarah bangsa Papua Barat secara Aneksasi.

Dengan demikian, sejarah bangsa Papua Barat setelah 1969 menunjukkan bahwa hasil Pepera itu justru menjadi salah satu akar konflik yang berkepenjangan; yang menghasilkan tragedi-tragedi pembunuhan, pemerkosaan, penganiyaiyaan, perampokan oleh militer Indonesia yang berkuasa di atas tanah rakyat West Papua dalam rezim soharto hingga pada saat kepemimpina Jokowi-MA, saat ini masih berlangsung.  Bahkan, Lagu-lagu Nasionalisme  bangsa Papua Barat di bungkam  secara kekerasan militer, dan orde baru Indonesia yang berlaku atas bangsa Papua Barat terus melakukan ketidak pertanggungjawababan atas beragam kasus dari dikriminasi rasial, operasi militer, UU Pasal Makar, pendoropan militer, dan beragam eksploitasi lainnya yang tidak berhentinya.

Maka dengan itu, tidak terlepas dengan hak demokratis untuk rakyat bangsa Papua Barat,  Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] menuntut dan mendesak PBB beserta Rezim Jokowi-MA untuk segera:

1. Berikan Hak penentuan Nasib Sendiri Solusi Demokratis Bagi Bangsa West Papua

2. Usut tuntas kasus pelanggaran Ham di seluruh West Papua

3. Tarik militer (TNI-POLRI) organik dan non organik dari tanah West Papua

4. Usut tuntas dan adili kasus pembunuhan terhadap Arnold C Ap dan Kawan-Kawannya.

5. Cabut UU Kasus Makar dan Bebaskan seluruh Tapol Papua Barat

6. Hentikan Beragam Eksploitasi dan Seluruh perusahan yang ada di Tanah Papua Barat

7.Hentikan beragam dekriminasi rasial dan jamin kebebasan ruang demokrasi

Demikian statement ini dibuat, atas dukungan, pastisipasi dan kerjasama perjuangan oleh semua pihak, kami ucapkan banyak terima kasih.


Salam Demokrasi!
Sabt, 26 April 2020

Aksi Massa Demo Damai di Semarang
Pada 24 Agustus 2019
Kepada rakyat West Papua tercinta yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan. Rasisme, penyebutan "monyet Papua" merupakan penyakit yang lahir dari rahim kolonial dan disebarkan kaki tangannya guna memecah-belah kekuatan perjuangan Rakyat. Kita, Rakyat Papua merupakan korban langsung dari aksi pencurian, perampasan, dan eksploitasi kekayaan alam Bumi Papua. Kekayaan alam kita dirampas, kita hanya dibiarkan menerima limbah-limbah pabrik, sampah-sampah investasi modal asing, dan perkebunan-perkebunan kelapa sawit milik Imperialisme. Kita hanya menjadi korban kejahatan kolonialisme Indonesia, kita dibiarkan menerima pengusiran dari tanah leluhur kita, pembunuhan, pemerkosaan, genosida, dihina sebagai bangsa yang tidak beradab, diskriminasi dan rasisme.

Rasisme terhadap Orang Papua sudah dimulai sejak awal penggabungan paksa Papua ke dalam wilayah NKRI. Berlangsung sejak 1962 pasca Imperialisme Amerika Serikat berusaha merampas kekayaan alam Rakyat dan kekuasaan politik oleh Kolonial Indonesia di Papua, dengan melibatkan diri dalam Perjanjian New York. Perjanjian yang membahas masa depan Papua yang melahirkan penjajahan baru di Bumi West Papua setelah Belanda tanpa melibatkan Orang Papua.

Diskriminasi rasial (rasis) merupakan metode kolonial, yang banyak berperan dalam sejarah kolonialisme. Rasisme digunakan untuk menyudutkan dan melanggengkan dominasi atas rakyat Papua. Kita mesti menarik garis yang jelas bahwa sebutan ‘Orang Papua Monyet’, keluar dari mulut segelintir kelompok ormas reaksioner piaraan militer, penyambung lidah kolonial. Kolonial Indonesia sedang berusaha merendahkan perjuangan suci Rakyat Papua untuk kebebasan dan kemerdekaan ke dalam perang rasial dan konflik horizontal. Perang Orang Papua versus Amber (pendatang di Papua).

Maka, dengan peristiwa pengepungan, penangkapan, serta penyebutan "monyet Papua" di Surabaya beberapa waktu lalu, kami menghimbau agar tidak terprovokasi dengan propaganda-propaganda yang memicu saling serang antar kelompok etnis dan/atau beragama di Papua. Sebab propaganda semacam itu, digunakan untuk merendahkan perjuangan Pembebasan Nasional Papua. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dan membersihkan kebudayaan yang merendahkan martabat manusia.

Oleh sebab itu, kami menghimbau rakyat Papua satu-kan barisan, memperlebar mobilisasi massa tanpa membedakan suku, agama, ras, dan lain-lain. Membangun kekuatan, persatuan, mobilisasi massa untuk menolak kolonialisme, menolak menolak, dan menuntut Kebebasan dan Hak untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua, sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri rasisme.

Hormat diberi! Rakyat West Papua yang telah melumpuhkan jalan setiap kota di West Papua dan kotakota Kolonial, sejak tanggal 18 Agustus dan menyebar hingga hari ini. Juga kepada solidaritas kaum tertindas dari Bangsa Penjajah dan Internasional. Kita mesti menunjukan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang meletakan nasionalisme di atas landasan kemanusiaan, yang memperjuangkan kebebasan, kemerdekaan, dan kesetaraan bagi seluruh umat manusia. Perjuangan Pembebasan Nasional adalah perjuangan yang tidak dilandasi atas semangat suku, agama, dan ras.

Maka, dalam mewujudkan kemerdekaan nasional semangat yang menjadi landasan perjuangan kita, harus kita sebarkan ke setiap sudut, tempat rakyat dijajah berada. Kemerdekaan Papua akan tercipta, ketika persatuan di antara rakyat tertindas—buruh, tani, perempuan, masyarakat adat, pelajar-mahasiswapemuda, nelayan—dari bangsa penjajah dan bangsa yang terjajah itu tercipta. Persatuan Rakyat yang mampu mengguncang dari hulu sampai hilir jalannya penjajahan di Papua. Papua harus bergejolak, Pusat Kolonial harus dirusak! Sebab itulah salah satu syarat kemerdekaan.

Perkembangan terkini Pemerintah Kolonial baik di Jakarta maupun Papua sedang berusaha menggiring perjuangan Rakyat ke arah kepentingannya masing-masing, terutama persoalan keberlangsungan Otonomi Khusus. Puluhan Rakyat Papua yang yang menolak rasisme dihadang dan dihadapkan dengan hukum, sementara pelaku rasis dibiarkan berkeliaran bebas tanpa melalui proses hukum. Di lain sisi berbagai hal yang terjadi di Papua dibiarkan begitu saja. Nduga masih darurat kemanusiaan, Pembangunan Infrastruktur masih berjalan, penambahan militer terus dilakukan, eksploitasi kekayaan alam, dan Rakyat Papua terus dijajah habis-habisan dan tak ada satu yang ditanggapi oleh pemerintah kolonial di Papua (Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Majelis Rakyat Papua).

Satu hal yang mesti kita garis bawahi adalah “Rakyat Papua harus memperjuangkan kepentingan pembebasannya sendiri di bawah kepemimpinan gerakan rakyat, tanpa menggantungkannya kepada elit birokrasi/pejabat pemerintah kolonial di Papua”. Peristiwa rasial di Surbaya tentu telah menjadi panggung kaum elit birokrasi untuk saling memaafmaafkan dan berdialog kedamaian dalam kerangka NKRI tanpa melihat akar historisnya, yakni persoalan penjajahan terhadap suatu bangsa. Berdasarkan itu, Aliansi Mahasiswa Papua dan Rakyat Papua yang berada di luar Papua nyatakan sikap:

 1. Pengepungan di Surabaya, pembungkaman ruang demokrasi di Malang dan Semarang, merupakan bagian dari kelanjutan Penjajahan di Papua. Maka, kami menyatakan: Lawan Militerisme--dalang rasisme, Hapuskan Kolonialisme, dan Hancurkan Imperialisme.

2. Revolusi Nasional harus dipimpin oleh gerakan rakyat.

3. Seluruh komponen gerakan yang mencintai kebebasan dan kemerdekaan segera mengevaluasi diri dan mendorong terbentuknya persatuan nasional yang lebih luas, demokratis, partisipatif di Dalam Negeri West Papua untuk memimpin Perjuangan Pembebasan Rakyat.

4. Menolak seluruh tanggapan kolonial, termasuk seruan Mahasiswa Papua di luar Papua pulang oleh Majelis Rakyat Papua (MRP), Pemerintah Kolonial Provinsi Papua, serta menolak seruan “Papua Pulang maka orang Indonesia Pulang dari Papua”.

5. Menolak rencana kedatangan tim Pemerintah Kolonial Provinsi Papua ke Jawa dan Bali (tidak hanya di Malang dan Surabaya) sebelum semua elit politik dan pejabat Orang Papua melepaskan Garuda dan menuntut Referendum di tanah Papua.

6. Mahasiswa Papua akan pulang ke tanah air, jika, dan hanya jika, keputusan referendum diberlakukan di West Papua.

7. Rakyat dan Mahasiswa Papua di luar Papua siap kepung Jakarta untuk meminta Jokowi memulangkan kami dengan syarat Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri melalui mekanisme referendum.

8. Persoalan Papua bukan persoalan rumah tangga Indonesia, persoalan Papua merupakan persoalan penjajahan terhadap suatu bangsa yang telah merdeka. Maka kami menuntut agar adanya intervensi dari Dunia Internasional.

9. Buka akses wartawan dan jurnalis asing meliput di Papua.

Demikian pernyataan ini dibuat, kami ucapkan hormat untuk rakyat pejuang! Salam Pembebasan!                                                Medan Juang, 24 Agustus 2019

                                        Komite Pusat 
                              Aliansi Mahasiswa Papua 

                                        Pimpinan Pusat 
Ketua Umum                                    SekertarisUmum 
  
Jhon Gobai                                        Albert Mungguar

Aksi saat di 01 July 2019 Gabungan Malang dan Surabaya di Surabaya
peringati 01 July sbegai proklamsi bangsa West Papua yang ke 48 tahun 
Pada 0 1 July 2019 Aliansi Mahasiswa Papua [AMP} dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua [FRI-WP] serta beberapa organisasi Prodem menyikapi secara Nasional dalam Agenda Nasional bangsa West Papua yang bertepatan pada 01 July 1971-2019 yang ke 48 Tahun Proklamasi West Papua. Pada ke 48 tahun ini, AMP secara Nasional menyikapi bersama organ Prodem lainnya untuk mendukung hak penentuan nasib sendiri. Maka, Aliansi Mahasiswa Papua Komite kota Bali, Kupang, Ambon, Makasar, Malang, Surabaya, solo, Salah Tiga, Semarang, Jogja, Jakarta, dan Bogor menyikapi hari proklamasi West Papua.

Kronologis Komite Kota

Beberapa represifitaas terjadi terhadap Komite kota yang melakukan Aksi turun jalan dan ruang pembungkam terjadi saat melakukan diskusi. Menyikapi aksi nasional AMP Komite Kota Malang dan Surabaya melakukan aksi  bersamaan atau terpusat di Surabya, selama kasi berjalan terjadi penangkapan,pemukulan, penghadangan oleh Polisi dan TNI terhadap depalan anggota massa aksi antara lain Albert M, Lambert W, Jek A, Aperinus So, Gerads M, Marsel, Tio, Yoap dan itu, telah dibebaskan setelah di negosiasi dari kantor kepolisian. Dan AMP komite Kota Jakarta Melakukan aski demo turun jalan dan tidak terjadi penghadangan berjalan lancar. Dari lihat kondisi ini, AMP Komite kota yang melakukan diskusi adalah Makasar, Bali, Jogja, Kupang,  Ambon, Semarang dan ada beberapa kota yang terjadi ruang pembungkaman antara lain AMP Komite Kota Makasar bahwa sejak 30 Juny 2019 terjadi perdebatan di Asrama Papua oleh ormas-ormas reaksioner yang dibeking oleh militer Indonesia sehingga pernyataan untuk tidak melakukan aksi pada 01 July dan itu pun gerakan KAMMI juga mengencam sebagai pembatasan. Terjadi pula, dengan AMP komite Kota Semarang bahwa sejak pagi sekitar pukul 08:00 Intel melakukan patroli untuk dengan alasan patroli atau pemerikasaan tentang lingkungan setempat dan terjadi juga pada siang hari pukul 14:15 bahwa Kasat Intel melarang untuk melakukan diskusi sehingga memberikan ancaman seperi Asrama akan digrebek namun diskusi berjalan dengan aman. Dan di AMP Komite Bali juga, terjadi kedatangan Kasat Intel di salah satu Asrama, sehingga di pindahkan ke asrama lain untuk buka ruang diskusi.

Pembungkamn ruang demokrasi terus terjadi di Negara Indonesia ini. Pada hal mengenai UUD Indonesia telah menjamin mengenai kebebasan berekspresi menganai aksi, dan mengemukakan pendapat di muka umum secara universal sesuai apa yang di inginkan oleh masyarakat yang ingin mengaspirasikan secara terbuka. Namun, Pembungkaman atas ruang demokrasi UUD tidak sesuai dasar dari implementasi. Kondisi ini pun, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua {FRI-WP] serta organ Prodem lainnya yang terus menyuarakan tentang nasib rakyat West Papua terus di bungkam, diancam, dianiyaiya, dan rasisme, represifitas. Kemudian banyak kondisi pembungakamn oleh militeristik, ormas-ormas bayaran dan lainnya.

Salam Perjuangan dan Pembebasan Nasional Papua Barat






















Gambar ilustrasi. 
Penulis: Arnold Ev. Meaga*

Tumbuhnya Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia adalah suatu gerakan kebangsaan yang timbul pada bangsa Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Sejak abad 19 dan abad 20 muncul benih-benih nasionalisme pada bangsa Asia Afrika khususnya Indonesia. Nasionalisme tumbuh diindonesia dimulai setelah munculnya Serikat Islam. Budi Oetomo yang sudah terbentuk dahulu merupakan organisasi "elit" sehingga tidak berkontribusi dalam menumbuhkan nasionalisme diseluruh kalangan masyarakat. Serikat Islam melakukan berbagai upaya dalam menumbuhkan nasionalisme di seluruh daerah hindia belanda pada waktu itu.

Karena adanya faktor pendukung diatas, maka di Indonesia pun mulai muncul semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme ini digunakan sebagai ideologi/paham bagi organisasi pergerakan nasional yang ada. Ideologi Nasional di Indonesia diperkenalkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. PNI bertujuan untuk memperjuangkan kehidupan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan. Sedangkan cita-citanya adalah mencapai Indonesia merdeka dan berdaulat, serta mengusir penjajahan pemerintahan Belanda di Indonesia. Dengan Nasionalisme dijadikan sebagai ideologi maka akan menunjukkan bahwa suatu bangsa memiliki kesamaan budaya, bahasa, wilayah serta tujuan dan cita-cita. Sehingga akan merasakan adanya sebuah kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsa tersebut.

Oleh sebab itu dengan tumbuh nasionalisme Indonesia secara evolusioner sejak pada abat 19 dan 20 bersamaan denga bangsa-bangsa di dataran asia afrika, sehingga bangsa Indonesia pun dapat mengusir penjajahan Hindia Belanda pada saat itu dengan semangat nasionalisme yang di motori oleh mereka kelompok kaum terpelajar asal pribumi itu sendiri (Indonesia). Dan ideal yang di harapkan oleh bangsa Indonesia pun terjadi dan tercapai pula, yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia dari bangsa Penjajah pada 17 agustus 1945. Namun rakyat Indonesia sendiri masi bingung dengan apa itu arti dari pada nasionalisme negra Indonesia ini sendiri, sebab rakyat Indonesia sendiri dapat di intimidasi, direpresifitas, ditindas, digusur tempat pemukiman mereka (Rakyat Indonesia), bahkan sampai dengan penagkapan, pemukulan sampai dengan dibunuhpun kerap di implementasikan oleh negara melalui mekanisme aparat Militer/Polri dan sejenisnya. Sehingga hal serupa menimbulkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia sendiri menjadi menurun bahkan tidak ada sama sekali. Maka tak jarang pula asumsi masyarakat Indonesia terhadap nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme darah yang artinya banyak mendatangkan destruktif dan kematian bagi rakyat Indonesia ini sendiri, makanya nasionalisme Indonesia hanya sekedar nasionalisme belaka, yang pada hakikatnya sudah tidak di anggap lagi oleh rakyat Indonesia ini sendiri. Sekalipun ada namun itu hanyalah sebagian daripada kelompok dan golongan konservatif.

Nasionalisme Kemanusiaan

Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno pernah mengutip perkataan salah satu pemimpin (spiritual) India Mahatma Gandhi: My nationalism is humanity. Nasionalisme di mata Bung Karno selalu terikat dengan kemanusiaan.

Dalam pidatonya di Sidang BPUPK I Juni 1945, Soekarno mewanti-wanti adanya bahaya yang tersirat dalam nasionalisme. “Bahayanya adalah mungkin orang akan meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga menjadi Indonesia uber Alles,” ujar Soekarno. Nasionalisme dapat berpotensi menjadi ikatan identitas tertutup yang mengerikan, seperti nasionalisme Jerman pada zaman Adolf Hitler dengan semboyan Deutschland uber Alles.  Kita tahu bahwa nasioalisme Jerman ini bertanggung jawab atas pembunuhan massal terbesar sepanjang sejarah kepada enam juta orang Yahudi.

Karena itu, Bung Karno mengatakan nasionalisme harus membuka dirinya prinsip kemanusiaan. Nasionalisme kita harus mengarah pada penghargaan terhadap martabat rakyat Indonesia sebagai manusia yang bermartabat. Kemanusiaan membuka sekat-sekat ketertutupan relasi antar sesama manusia Indonesia dan juga relasi antar manusia Indonesia dengan manusia dari negara lainnya. Karena itu nasionalisme menjadi kesempatan memperjuangkan terwujudnya kemanusiaan secara universal yang tercapai melalui upaya untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan dunia, dan juga memuliakan hak asasi manusia. Oleh sebab itu dalam bangsa dan negara Indonesia saat ini nasionalisme Indonesia di perlukan konservasi-konservasi oleh negara ini sendiri, sebab nasionalisme Indonesia telah melenceng keluar dari jalurnya. Sehingga rusaknya nasionalisme Indonesia tersebut dapat mendatangkan berbagai macam gejolak politik, ekonomi, sosial buday dan lain-lain pada lingkungan sosial di dalam negri ini sendiri (Indonesia).

Perlawanan Rakyat Indonesia

Dengan krisisnya nasionalisme (NKRI), sehingga mendatangkan respon dari berbagai kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa, Institusi-institusi dan lain sebagainya terhadap negara Indonesia ini sendiri. Adapun respon yang di implementasikan oleh rakyat Indonesia adalah dengan cara melancarkan demonstrasi dalam rangka memprotes dan menuntut segala kekejaman, ketidak adilan, ketidak makmuran, ketidak damaian, tindakan ketidak manusiawian oleh negara kesatuan repulik Indonesia (NKRI) terhadap rakyat. Agar hendaknya negara sendiri menyadari bahwa segala macam aturan dan peraturan yang di terapkan terhadap rakyat melalui berbagai macam sistem tersebut banyak yang mendatangkan kedestruktifan atas rakyat Indonesia ini sendiri, sebab semua aturan negara sebagian besar hanya berpihak pada kaum dan kelompok oligarki semata tidak untuk rakyat. Sehingga hal tersebut hanya akan mendisintegrasikan bangsa Indonesia ini sendiri yang pada akhirnya akan mendatangkan destruktifitas dalam jangka waktu yang panjang atas rakyat dan bangsa Indonesia pula.

Dukungan Rakyat Indonesia Dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa West Papua

Saat ini Nasionalisme Indonesia berada dalam keadaan yang sangat genting, dan Nasionalisme Indonesia yang kerap kali mendatangkan bencana ketidak adilan, ketidak makmuran, ketidak damaian bahkan mendatangkan hal-hal ketidak manusiawian terhadap rakyat bangsa west Papua sejak pada 1 Mei 1963, pada saat Papua di integrasikan kedalam negara kesatuan repulik Indonesia, yang pada hakikatnya bangsa West Papua tersebut di aneksasi secara Paksa dan penuh  dengan pemanipulasian sejarah, dan di bawa tekanan angkatan bersenjata Indonesia pada saat itu.

Sehingga saat ini rakyat Indonesia yang menyadari dan mengetahui latar belakang historis perjuangan politik Pembebasan Nasional Papua Barat, menyadari bahwa, bangsanya sendiri telah melakukan sikap ketidak manusiawian dan penindasan serta penjajahan terhadap rakyat bangsa West Papua. demikialah hal tersebut mendatangkan responsif dari bangsa Indonesia sendiri untuk bangkit dan bersolidaritas bersamaan dengan rakyat bangsa West Papua, dalam menuntut kemerdekaan rakyat Papua yang sudah di deklarasikan pada 1 Desember 1961. Namun kemerdekaan tersebut telah di hancurkan oleh Indonesia dengan di keluarkannya perintah Tri Komando rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961 yang isinya adalah:

1.      Gagalkan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial,
2.      Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia,
3.      Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Sehingga Tri Komando rakyat (Trikora) adalah awal mulainya penjajahan Indonesia terhadap rakyat bangsa West Papua, setelah bebasnya Indonesia dari cengkraman kolonialisme Hindia Belanda. Sehingga saat ini bangsa West Papua tersebut dapat hidup berdampingan dengan Indonesia. Namun karena pengintegrasian Papua hidup bersama Indonesia di lakukan dengan cara melanggar hak asasi manusia (HAM), dan penuh dengan intimidasi terhadap rakyat Papua, sehingga hal itu telah di ketahui pula oleh rakyat Indonesia saat ini yang tumbuh sebagai bangsa Indonesia yang kritis dan berjiwa kemanusiaan, yang mana saat ini bangsa Indonesia yang sadar atas kesalahan bangsanya dan sadar pula akan hal kemanusiaan yang saat ini pula, lagi dan sedang mendukung perjuangan Pembebasan Nasional Papua Barat menuju ideal absolut.

Nasionalisme Bangsa Papua Saat Ini

Pengertian Nasionalisme menurut kamus besar bahasa Indonesai (KBBI) adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: -- makin menjiwai bangsa Indonesia, kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.

Nasionalisme Indonesia tetaplah nasionalisme Indonesia, Nasionalisme Indonesia tidak bisa di jadikan nasionalisme bangsa West Papua, demikian pula Nasionalisme bangsa West Papua tak dapat pula di paksakan untuk di hilangkan/dihapuskan dari jiwa orang-orang Papua, begitupun sebaliknya nasionalisme Indonesia tak dapat di hilangkan/dihapuskan dari jiwa orang-orang Indonesia pula. Indonesia adalah bangsa yang besar dan memiliki etnis dan bahasa yang sangat heterogen mulai dari batavia (Jakarta) sampai dengan Amboina (Tidak Papua), dan pada hakikatnya Nasionalisme Bangsa Indonesia pun tak sama dengan Nasionalisme Bangsa West Papua. begitupun Papua adalah sebuah bangsa yang besar sama persis denagan Indonesia, memiliki etnis dan bahasa yang sangat heterogen pula, dan Bangsa Papua adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat layaknya bangsa-bangsa lain yang ada di bumi ini, namun kemerdekaan rakyat bangsa West Papua tersebut telah di hancurkan dengan atas nama Nasionalisme Indonesia. Namun Nasionalisme Indonesia sama sekali tak di anggap oleh orang-orang Papua sejak Papua di aneksasi masuk ke dalam bingkai negara kesatuan repulik Indonesia (NKRI) pada 1 Mei 1963 sampai dengan saat ini.

Oleh sebab itu, Separatis adalah bagian daripada Nasionalisme rakyat bangsa West Papua itu sendiri, sebab separatisme sudah ada sejak 1963 sampai dengan saat ini. Oleh sebab itu watak separatisme telah dan sudah tumbuh subur dalam jiwa seluruh rakyat bangsa West Papua, jika saja asumsi pemerintahan kolonialisme (Indonesia) bahwa, kelompok separatis hanya terdiri dari kelompok kecil saja yang ada saat ini, maka asumsi tersebut sangatlah keliru. Seluruh rakyat bangsa West Papua hanya cinta akan tanah air West Papua tidak Indonesia, Nasionalisme bangsa lain tak dapat di hapuskan atau di paksakan untuk di lupakan oleh bangsa lain pula. Nasionalisme Papua tetaplah nasionalisme Papua, itu hakikatnya.

*Penulis adalah aktivis Self Determination, anggota AMP Bandung
_________________
Sumber Referensi:

http://kammi.org/index.php/2017/01/19/nasionalisme-kemanusiaan-dan-hak-kemerdekaan-seluruh-bangsa/

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats