Halloween party ideas 2015

Doc Koran Kejora : Illustrasi Operasi Mliter Di Tanah Papua

Seperti kata sukarno “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarahnya”, maka persoalan sejarah menjadi penting untuk dibahas kembali. Dengan melihat persoalan yang begitu banyak dipapua akan menjadi sangat penting untuk mencari persoalan pokok.

Sejak TRIKORA yang keluarkan oleh soekarno pada 19 desember 1969 di alun-alun Yogyakarta, awal praktek-praktek pelanggaran HAM kepada orang papua, memobilisasi militer besar-besar untuk melanggengkan Operasi besar-besaran di Papua. Tidak terlepas dari papua itu pada perjanjian internasioanal yakni Perjanjian Roma dan perjanjian new york pada 15 agustus dan 30 september 1962, orang papua tidak pernah terlibat dalam menyepakati perjanjian-perjanjian internasional itu dan pada penyerahanan kekuasaan pada 1 mei 1963 oleh PBB kepada Indonesia untuk melaksanakan PEPERA terjadilah Operasi besar-berasan yang dipimpinan soeharto, mirisnya PEPERA (Penentuan Pendapat Rayat) yang dilaksanakan pada tahun 1969 tidak demokratis dan melanggar HAM dimana diwakilkan 1025 orang dan PEPERA yang dilaksanakan dibawah bayang-banyang Ancaman intimidasi, terror, pembunuhan, dll. Sebelum pelaksanaan PEPERA yang lebih miris lagi adalah penanda tanganan kontrak karya Freeport pada 1967 sebelum PEPERA dilaksanakan.

Pelaggaran HAM 1962 sampai sampai saat ini kasus pelanggaran HAM di Papua tidak pernah terlesesaikan hingga saat ini, mulai dari operasi besar-besaran yang dipimpinan soeharto pada 1962 hingga sampai saat ini yaitu pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, terror,  dll, belum pernah menjadi wacana yang serius bagi pemerintah Indonesia untuk menyelasaikan persoalan HAM di papua.

Militer indonesia sebagai salah satu actor penyebab kekerasan di papua, mulai dari 1962 sampai saat ini operasi demi operasi dilakukan dan menyebabkan pelanggaran HAM. Proses penyelesian kasus HAM berat pernah diwacanakan oleh Indonesia ada  4 kasus yaitu BIAK berdarah 1998, Wamena berdarah 2003, Wasior berdarah 2001, abepura berdarah 2006. Dan pernah di ajukan bandingnya pada tahun 2005 yaitu hanya biak berdarah tahun 1998 tapi kalah di pengadilan negeri makasar 2005. Ini membuktikan kalau tidak pernah serius penuntasan kasus HAM berat di indonesia .

Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi dimana menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang diatur dalam konstitusi Negara dimana menjamin kebebasan berserikat, kebebasan berekspresi, kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum, dll. Dengan melihat realitas dipapua tidak seperti hukum yang berlaku diindonesia dimana penangkapan sewenang-wenang, pengeledahan tanpa ada perintah tugas, tidak ada kebebasan berkumpul dan berpendapat. Tidak hanya pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, terror, dll, tapi pencurian terhadap sumberdaya alam pun dilakukan oleh pemodal dilegetimasi dengan pemberian izin operasi dari indonesia.

Pembangunan yang dibanggakan jokowi dipapua adalah pembangunan infrastruktur, jalan, pelabuhan, badar udara, bbm satu harga, adalah syarat yang disiapkan untuk memperlancar arus Kapital. Selain itu pemekaran kabupaten juga menjadi salah satu syarat mempercepat arus Kapital.
Pemodal dengan modal yang begitu besar membangun perusahaan-perusahaan untuk mengeruk  SDA ( sumber daya alam ) untuk kepentingan pemodal sendiri maka Papua sebagai sasaran utama dan akan sangat rentan terjadi perampasan tanah, marginalisai, dll. untuk dibangunnya perusahaan raksasa yang membutuhkan lahan yang begitu luas, dampak dari pembangunan perusahaan akan berakibat buruk bagi ekosistem alam rusak, pencemaran lingkungan. 

Berlandaskan sejarah kemerdekaan yang sudah dirampas dan konsitusi Hukum internasional yang berlaku dalam EKOSOP, SIPOL, Deklarasi HAM, HAK-Hak masyarakat adat, dll serta kenyataan sosial yang membuat rakyat Papua menjadi trauma yang berkepanjangan dari kekerasan Militer sehingga berdampak bagi orang papua yang berpengaruh pada phisikis orang papua yang menjadi mental terjajah yang merasa tidak mampu, rendah diri, melihat bangsa lain lebih superior serta hilangya kebanggaan atas jatidiri orang papua sendiri yang dimana prakteknya melalui sistem pendidikan yang sentralitik, dan ekonomi dengan melihat potensi sumberdaya alam yang ada contohnya ; disuruh makan nasi padahal orang papua tidak menanan padi dengan dipaksa makan nasi.

Meskipun pemenuhan atas pelaku pelanggar HAM diadili dan pemerintahan yang baik dan adil dilakukan tetapi keinginan rakyat papua tidak ingin bersama dengan Indonesia, keinginan rakyat papua adalah berdiri sendiri sebagai sebuah Negara merdeka yang bermartabat yang berdiri sejajar sama seperti bangsa-bangsa lain didunia.


Oleh : Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Semarang.

Sebelum Anda membaca, pertama, Buku "Apa yang Diperjuangkan Sosialisme?", pernah dibedah oleh Lingkar Studi Kerakyatan, pada, Sabtu 07 Januari 2017; dan notulensinya Anda dapat membaca di Wordpres lingkarstudikerakyatan; dan di Website Arahjuang.

Kedua, buku ini didiskusikan dengan metode diskusi bergantian-Pertopik; dan tentu dengan cara metode ini tak dapat selesai dalam satu atau dua kali pertemuan. Maka, sampai saat ini buku "Apa yang diperjuangkan sosialisme?" belum selesai didiskusikan atas beberapa alasan yang menjadi kendala kolektivitas tak berjalan.

Ketiga, diskusi ini bermaksud mendalami ilmu, memahami apa itu kapitalisme, dan apa yang diperjuangkan oleh sosialisme. Tujuannya sebatas membangun pemahaman. 

Buku "Apa yang diperjuangkan sosialisme? menjelaskan bagimana kapitalisme bisa bertahan dalam suatu wilayah--negara ketiga, misalkan--untuk terus mengeruk kekayaan alam, menguras manusia untuk akumulasi kalitalnya? Kesimpulannya, Kapitalisme bisa bertahan dengan adanya Negara: Ilmu Pengetahuan; Hukum dan Pengadilan; UU dan Parlementer; Agama dan Budaya; Militerisme: Aparatur Ideologis dan Aparatus Reaksioner, dan Pendidikan.

Bagaimana Kapitalisme Bisa Bertahan?

Kapitalisme tidak mengenal hukum alam dan hukum hakikad manusia. Mengapa? Karena, pertama, kerusakan alam diakibatkan karena adanya sistim Produksi yang manusia memproduksi untuk mendapatkan keuntungan lebih. Tanpa mempertimbangkan dampak-dampak yang akan terjadi pada alam dan ekosistem, juga mengacam manusia punah, kapitalisme terus membuka lahan produksi barang dan jasa yang baru, dan pasar yang baru untuk terus bersaing antar pengusaha lain, untuk tetap mempertahankan dan terus menumpuk kapitalnya.

Sehingga, dampaknya, petani dan masyarakat kelas bawa terasing dengan keberadaan kapitalisme ditengah sosial-masyarakat. Alat produksi—termasuk tanah—dikuasai oleh pemilik modal, semakin meluas pengundulan, pencemaran udara dan air—manusia hampir punah dan tak punya harapan masa depan. Petani penggusuran hidup dibawa kemiskinan, dan untuk bertahan hidup, mereka harus menjual tenaga kerjanya kepada pemodal: menjadi buruh upahan.

Kapitalisme selalu mencari untung besar (surplus) dari modal yang kecil. Sehingga dalam statistika produksi sandang, pangan dan papan, lebih banyak dari jumlah populasi penduduk didunia. Namun, Menurut data resmi, 80% jumlah manusia di bumi hidup dalam kemiskinan. Karena, logika kapitalisme, sebanyak berapa yang diproduksi mendapatkan keuntungan berapa. Buruh pun dibayar dengan upah yang murah, tak sesuai dengan berapa jam kerja buruh dan berapa jumlah barang yang diproduksikan.  

Kapitalisme juga terus membiarkan kemiskinan dan jumlah pengangguran semakin tinggi. Biasanya, terjadi masif di Negara Ketiga. Mereka memelihara kemiskinan dan pengangurang—ditengah produktifitas makanan yang lebih dan lapangan kerja yang banyak—untuk distribusi barang dan konsumen—membuka pasar produksi barang di negara-negara ketiga. juga bagi penganguran untuk tenaga kerja buruh upahan.

Dampak dari persaingan antar perusahaan banyak menimbulkan kemiskinan dan pengangguran. Misalnya, tingkat produksi barang tak sesuai dengan kebutuhan manusia, namun semain banyak produksi barang, semkain memupuk keuntungan. Sehingga banyak karyawam buruh yang dipercat—semakin memperbaharui alat produksi dan mesin yang modern, semkain berkurang tenaga kerja-juga kerena over produksi.

Kemudian, dengan adanya kemajuan teknologi alat produksi, kapitalisme meproduksi alat teknologi yang bukan untuk memperbaiki manusia, justru menjaga dan mengamakna kepentingan akumulasi kapital. Misalnya, persaingan menimbulkan perang; akumulasi kapital menimbulkan represif, rasisme, penindasan perempuan, bergesernya fungsional militer, dst.

Nah, bagaimana kapitalisme bertahan?

Kapitalisme lahir dari feodalisme runtuh/revolusi borjuis. Ketika negara kerajaan menggantikan negara borjuasi (negara modern); ketika penguasa raja, kaum bangsawan dan tuan tanah menggantikan penguasa baru: borjuasi dan pemodal.

Negara Modern, Karl Marx, adalah alat penindasan atau instrument penguasa untuk menindas rakyat. Wajah Negara atau suprastruktur penguasa: ada hukum dan Pengadilan untuk menghukum dan mengadili rakyat dan meloloskan kepentingan akumulasi modal. Ada militer dan penjara untuk merepresif rakyat dan memenjarahkan kaum revolusioner, dan untuk menjaga aktifitas akumulasi modal: securiti perusahaan, mengamankan akses eksplorasi dan eksploitasi. Ada Agama dan Budaya untuk mengalienasikan rakat. Dan ada ilmu dan pendidikan untuk terus meningkatkan tenaga kerja produktif.

Dengan adanya suprastruktur tadi, penguasa terus menindas rakyat. Penguasah tunduk pada aturan kepitalisme; militerisme dijadikan sebagai alat untuk mengontrol dan merepresif.

Negara itu aparatur dari kelas berkuasa—militer, PNS, parlementer, menteri, jaksa-hakim,  mereka diberi upah yang bersar untuk setia dan tunduk dibawa penguasa. Penguasa terus melakukan rekrutment dan, ada pun sistim jenjang karir, kenaikan pangkat tinggi. Mereka itu Perwira tentara, Hakim, kepala Departemen, untuk bagaimana caranya, apa pun kata hukum, harus mempertahankan sistim yang ada.

Kemudian Kapitalisme pun membangun sandiwara Demokrasi. Rakyat dilibatkan dalam memilih pemimpin. Tetapi yang berhak mengambil keputusan adalah para penguasa. Mereka, atas nama rakyat, membuat keputusan ini dan itu untuk kepentingan mereka.   

Parlementar, Hukum dan Militer

Kapitalisme juga berfungsi pada lembaga Hukum dan Parlementar. Hukum di jalan, dijaga oleh Polisi; dibelakang polisi ada pengadilan. Seorang jaksa dan hakim tak dipilih oleh rakyat. Mereka direkrut oleh penguasa dan tentunya untuk kepentingannya. Apa lagi Perlement yang dipilih oleh rakyat dan kemudian disebut wakil rakyat. Tetapi mereka adalah berasal dari partai borjusi atau penguasa. Dan mereka harus tunduk pada aturan partai dan hukum negara. Sekalipun mereka disebut wakil rakyat, tetapi ketika sidang parlement—di negara ketiga—dijaga oleh aparatus bersenjatah.
Ada dua aparatus negera, pertama adalah Aparatus Ideologi Negara: Sistim Pendidikan, Hukum, Budaya dan Agama, beserta Hegemoni. Dan yang kedua adalah aparatus Represif, yakni militer dan penjarah. Kapitalisme membutuhkan Militer untuk memperluas dominasikelas penguasa: Penjajahan, represi, Infasi.

Militerisme adalah sisitim militer yang sangat disiplin, taat dan patuh pada tatatertip dan aturan yang, sebenarnya tak demokratis, dibuat oleh penguasa beserta petinggi militer, yang punya interaksi langsung dengan penguasa. Maka militer itu ibarat robot. Sehingga, militer itu sering menujukan agreesif dan represif. Militerisme juga membangun kelompok populasi dalam masyarakat, kelompok milisi sipil reaksioner, fundamentalis, juga memobilisasi rakyat untuk bangun hegemoni penguasa.

Sistim Yang Mengontrol Pikiran

“Untuk mempertahankan sistim kapitalisme bukan hanya dengan angkatan bersenjatah dan perlemen. Namun sebuah kontruksi struktur kontrol pikiran” Tulis Democratic Socialist Party dan Resistance (1998) bahwa kapitalisme mengajarkan untuk tidak berfikir.

Pertama, kapitalisme mempunya Ilmu pengetahuan sosial Borjis—bergagasan dari filsafat Idealisme yang reduksionis—yang dicerna kedalam Sisitim pendidikan, mengajarkan murid-murid untuk tunduk dibawa aturan dan menati wewenang dan media massa pun terus mengingatkan kepada mereka untuk tak lupa.

Kapitalisme menanamkan ilusi bahwa harus sekolah yang tinggi-tinggi, agar bisa menjadi orang kaya yang terkenal. Mereka hanya disibukan dengan belajar dan menghitung untuk mendapatkan peredikat yang baik.

Jadi sistim pendidikan berjutuan untuk mendoktrinasi pengetahuan kapitalisme untuk mereka terus taat pada wewenang dan tunduk pada aturan. Dengan begitu, mereka di reduksi, dan menjadi agen-agen budak intelektual yang terus memupuk modal bagi kapitalis dan bekerja untuk kaum pemodal.

Kapitalisme mempunyai, selain sistim pendidikan, juga mempunya media massa (cetak dan Oline) juga TV. Media massa terus mempropagandakan iklan-iklan kapitalisme, ilusi-ilus yang terus menggiring masyarakat kedalam konsumerisme. Media massa juga tak berpihak kepada rakyat. Mako Tabuni ditembaki oleh tentara di perumnas III Jayapura (2012), berita yang diangkat malah menyudutkan gerakan rakyat Papua. Bahasa media menyebutnya tokoh Separatis, Pemberontak. Para pembunuh (militer) dilindungi dan menyebutnya pahlawan. Atau Seorang Petani Surokonto-semarang ditembaki oleh Militer tak diberitakan. Justru yang diangkat adalah PT. Semen Baru Indonesia yang sedang beroperasi di lahan pertaniannya. Media tak Memikirkan soal hak hidup Petani Surokonto.

Mengapa Kapitalisme Menindas Kaum Perempuan?

Penindasan perempuan itu bukan sesuatu yang wajar, tetapi diperlukan oleh Kapitalisme. Historis sebelum kepitalisme, kecuali massa meramu dan berburu, peran perempuan sangatlah ditentukan oleh kepala keluarga atau Laki-laki untuk terus mewarisi harta benda milik si laki-laki. Konteks Papua, pembagian harta benda mengkuti darah (genetika), marga dan suku. Masyarakat Patriarkat. Maka, Poligami bagi orang Papua dulu, itu pun diakibatkan karena laki-laki memiliki harta warisan yang lebih, sehingga untuk mengurusi tanah dan ternak, juga untuk mewarisi (mengisi lokasi yang kosong) sehingga terjadilah poligami dengan sogan, tanah banyak yang kosong.

Hasil ternak dan Pertanian sangat subuar, juga mengangkat si laki-laki menjadi kepalah suku, atau marga kerena selain bijak, juga bisa menjamin orang lain (misalnya, anak yatim piatu, perempuan Janda dengan cara mengawininya, dan sebagainya). Begitu pula yang tejadi belahan dunia lainnya. Peran perempuan dipertanian milik tuan tanah sangat diperlukan; juga perempuan memproduksi generasi yang kemudian menjadi budak setia.

Sejak itulah muncul istilah sistim keluarga. Familia mempunyai arti dalam bahasa Latin, yaitu, famulus. Yang artinya budak rumah tangga. Familia artinya keseluruhan budak yang dipunyai laki-laki.

Sistim Kapitalisme pun sangat membutuhkan peran perempaun didalamnya. Perempuan buruh tak boleh membawa anak di tempat kerja karena Kapitalisme akan rugi untuk mempersiapkan tempat asuhan anak para buruh. Maka, dalam perkembangannya, kapitalisme menjadi perempuan sebagai ibu rumah tangga saja. Bagaimana Ia hanya bisa mengurusi rumah, masak, anak.

Perempuan rumah juga dapat pendidikan lewat media Massa, TV tentang bagimana setiap perempaun harus mengajarkan kepada anaknya untuk terus belajar dan berjuang, harus taat pada aturan, Hukum (mereka) dan segalah macamnya. Peran perempuan juga dapat memproduksi generasi pekerja bagi kapitalisme.

Kaum perempuan di negara Ketiga, mereka sangat terhipnotis dengan iklan-iklan produk kapitalisme yang menawarkan tentang kecantikan, awet mudah, dan segalah macamnya penawaran lewat TV dan Media Masa milik penguasah. Sehingga, disisi lain, seksisme itu sangat kental berkembang.
Bersambung...


FB
 REVEREVSI BUKU

Ditulis: antara Januari-Februari 1916
Diterbitkan: pada April 1916 di majalah Vorbote No 2. Diterbitkan juga dalam bahasa Rusia pada
Oktober 1916 di Sbornik Sotsial-Demokrata, No 1.
Penerjemah: Dipo Negoro (6 Juni 2013)
Penyunting: Ted Sprague
Sumber Terjemahan: "The Socialist Revolution and the Right of Nations to Self-Determination"

download e-booknya : DISINI


Imperialisme adalah tahapan tertinggi dari perkembangan kapitalisme. Kapital di negeri-negeri
maju telah berkembang melebihi batasan-batasan Negara-bangsa. Kapital telah membangun
monopoli yang menggantikan persaingan, dengan begitu menciptakan semua syarat objektif untuk
mencapai sosialisme. Oleh sebab itu di Eropa Barat dan di Amerika Serikat, perjuangan
revolusioner kaum proletar untuk penggulingan pemerintahan-pemerintahan kapitalis, untuk
pengambilalihan aset-aset borjuasi, adalah sesuatu yang mendesak hari ini. Imperialisme memaksa
massa ke dalam perjuangan ini dengan mempertajam antagonisme-antagonisme klas hingga ke
tingkatan yang sangat besar, dengan memperburuk kondisi-kondisi massa baik secara ekonomi �
hutang dan biaya hidup yang tinggi, serta secara politik � tumbuhnya militerisme, peperangan-
peperangan yang terus terjadi, meningkatnya reaksi, semakin kuat dan meluasnya penindasan
terhadap bangsa-bangsa dan penjarahan kolonial...


download e-booknya : DISINI

Che Guevara

13 Maret 2014 pukul 11:29

Judul Buku    : Che Guevara dan Revolusi Kuba
Penulis         : Mike Gonzales
Penerbit        : -
Tebal            : 95 Hal

Che dilahirkan secara prematur di Rosario pada 14 Juni 1928. Sang ayah kemudian memberi nama yang sama dengan dirinya, Ernesto Guevara. Nenek moyang Che dari garis ayah adalah Juan Antonio Guevara. Sedangkan ayahnya adalah keturunan Vieroy Liniers, bangsawan Argentina awal yang berperang melawan diktator Juan Manuel Ramos, tapi gagal dan melarikan diri di pengasingan sekitar tahun 1850 dan berakhir di California.

Pada bulan Maret 1953, Che berhasil menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar Medical Doctor-nya. Tapi, tidak seperti layaknya dokter, Che sama sekali tidak membuka praktik atau pun bekerja di rumah sakit. Che justru pergi dan melakukan perjalanan kembali seperti pernah dilakukan sebelumnya.

Perjalanan inilah yang di kemudian hari mempertemukan Che dengan Fidel Castro. Tepatnya, pada musim panas 1955 di Meksiko, saat Fidel masih dalam pengasingan. Keterlibatan Che dalam revolusi Kuba dimulai. Che menjadi dokter, meski sejak semula menolak dan menganggap dirinya sebagai pejuang. Memang dalam perjalanan selanjutnya keterlibatan Che bukan hanya sebatas mengobati dan merawat prajurit Castro yang terluka, tapi juga memanggul dan memberondongkan peluru ke pasukan musuh.

Peran Che yang demikian ini telah membawanya ke karier militer pasukan Castro dengan cepat. Setelah tiga tahun bergabung, Che sudah menjadi comandante (mayor, pangkat tertinggi dalam pasukan itu). Sampai kemudian Che memberikan kemenangan terhormat bagi rakyat Kuba pada 4 Januari 1959. Che selanjutnya bukan lagi sebagai warga Argentina, tapi jadi warga negara Kuba yang disahkan oleh Dewan Menteri Kuba pada 9 Januari 1959, dan sekaligus menjadikan �Che� yang dalam bahasa Argentina berarti �Bung� atau �Kawan Baik� sebagai nama depannya.

Che akhirnya menemui ajalnya dalam sebuah pertempuran di Bolivia, setelah sebelumnya dia mencurahkan perhatiannya untuk kemajuan Kuba dengan menjabat sebagai Direktur Bank Nasional, Ketua Departemen Perindustrian, selain tentunya menjadi delegasi Kuba dalam berbagai forum internasional.

download ebook : CHE GUEVARA DAN REVOLUSI KUBA

halaman 1
halaman 1
halaman 2

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats