Halloween party ideas 2015

 

Gambar Ils.oleh Danil Pravda

"The International Solidarity Movement for Liberation"

Oleh: Danil Pravda

PENINDASAN NEGARA (BANGSA) MAYORITAS ATAS BANGSA MINORITAS.


Ditengah masifnya serangan militer dari negara yang memegang tampuk kekuasaan, rakyat (bangsa) tertindas hanya mampu bisa bertahan dan tersenyum diatas tumpukan mayat yang diberondong oleh peluru. Tak banya yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup, melakukan perlawanan dengan cara menyampaikan setiap penderitaan yang dialami oleh mereka sendiri dengan harapan, bahwa pemerintah negara (Kolonialis) dapat segera menghentikan pertumpahan darah atau perdamaian, sewalaupun itu masih kecil kemungkinannya.

Bagi pihak pemerintahan negara yang berkuasa, tentu tidak akan pernah menyerah begitu saja, selama masih ada rakyat yang mereka injak-injak memiliki kesadaran untuk bersuara dan membangun gerakan perlawanan, selama itu juga peluru dan pasukan militer diperbanyak.

Dalam pandangan kekuasaan yang otoriter seperti di Israel dan Indonesia, HAM dan Demokrasi tidak pernah ada artinya jika itu menghalangi agenda dan program Imperialisme. Suatu Program yang bertujuan untuk menguasai Pasar Dunia dan Sumber Daya Alam, dengan cara menjajah wilayah (Negara) Bangsa Minoritas yang lemah akan tingkat keamanannya.

Peristiwa tersebut mengambil perhatian dari berbagai kalangan aktivis, Organisasi, dan Individu Merdeka diberbagai negara (Asia-Eropa) yang peduli akan HAM dan Demokrasi. Mereka terus membangun gerakan solidaritas dari hari ke hari, lewat mimbar bebas. Mengecam tindakan militer yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat; menangkap, memukul, menginjak, menembak, bahkan membunuhnya dengan cara yang begitu keji. Seperti yang dialami oleh Rakyat Palestina dan Bangsa West Papua saat ini.

Tidak ada solusi yang lain untuk mengakhiri operasi dan penjajahan yang menggunakan kekuatan angkatan militer, yaitu dengan "Memberikan Hak Menentukan Nasib Sendiri Bagi Bangsa-Bangsa Tertindas". Sebab, Konflik tersebut sudah terlalu banyak memakan korban, dan sudah masuk dalam kategori Pelanggaran HAM Berat hingga Kejahatan Kemanusiaan yang tak pernah terselesaikan. Jika tidak, Rakyat Palestina dan Papua akan musnah. 

#Free_Palestine

#Free_Papuan

#Against_Militarism

#Against_Imperialism



London � Koordinator Diplomat Internasional West Papua, Benny Wenda diberi penghargaan �the Presidents Award� dalam acara penutupan Pameran Buku Book Fair di gedung Chamber of Commerce, Concordia, Karibia pada Sabtu (14/6/2014) lalu. 

Seperti yang diliput situs Karibia, Caribseek News, acara tahunan ke-12 yang diselenggarakan St.Martin Book Fair itu memberi simpati dan dukungan besar kepada perjuangan West Papua untuk merdeka dari penjajah Indonesia.

Benny Wenda dalam acara itu ikut mempresentasikan situasi genosida, kejahatan penjajahan, dan rasial yang sedang terjadi di West Papua. Ia juga turut menyanyikan lagu-lagu berbahasa Lani.
 �Orang-orang Karibia sangat menderita di bawah kuk perhambaan dan banyak negara-negara Afrika juga mengalami kejahatan apartheid dan kolonialisme. Sekarang rakyat saya merupakan orang-orang terakhir di dunia yang masih menderita di bawah perbudakan moderen, apartheid dan kolonialisme. Kami membutuhkan dukungan Anda hingga akhir kemerdekaan.�kata Wenda seperti yang dikutip di situs resmi Free West Papua Campaign.

Ia mendapat tepuk tangan dan simpati yang besar dari para tamu acara itu. Lasana M. Sekou, seorang pengarang puisi dan penulis terkemuka di daerah itu menyampaikan pernyataan dukungan besar bagi bangsa Papua.

�Orang-orang Karibia, seniman, penulis, dan akhirnya pemerintah kita mengangkat ke permukaan, memegang rekor luar biasa dalam kekalahan rezim Apartheid di Afrika Selatan dan pembebasan  penjara Madiba, Nelson Mandela. Bahkan ketika kita berjuang untuk memperbaiki kesalahan dan memperbaiki kehidupan kita sendiri dalam suatu negara dan wilayah, bangsa yang lain, di wilayah lain dari pulau kami, memanggil kita untuk menaikkan baner sekali lagi, untuk bertemu di angin puyuh tersebut sekali lagi. Kami menjawab, oi, karena ini juga siapa kita sebagai �Orang-orang Karibia.� kata Sekou.

Pada acara tersebut Benny Wenda juga bertemu dan saling menyapa dengan Gubernur setempat, dan beberapa Menteri dan kepala-kepala departemen disana. Benny menyampaikan bahwa orang-orang Karibia menyambut dan mendukung perjuangan bangsa Papua.


Tahanan Politik PAPUA
Pada tanggal 2 april 2014, Amnesti Internasional di Kerajaan Inggris akan melakukan sebuah demonstrasi di kantor Duta besar indonesia di inggris. Oleh sebab itu AI akan menuntut kepada Indonesia untuk membebaskan tahanan politik di papua barat tanpa syarat. Seluruh penduduk teritorial Paua Barat disubjekan pelanggaran hak asasi manusia yang ada, maka dituntut untuk menyelesaikan dan membebaskan masyarakat pribumi papua barat yang masih di tahanan. 

Masyarakat pribumi papua barat dibunuh secara kriminal dan sampai ditahan aktivis pejuang damai hanya karena mengibarkan bendera bintang kejora, dilarang segala atribut atau lambang, atau dihalangi demonstrasi, dan ditutupi mediasi publik. Sering Indonesia tidak pernah mengijinkan organisasi internasional atau wartawan asing dilarang masuk ke papua.

Amnesti Internasional bukan untuk ambisi Indonesia untuk mengambil posisi status di Papua barat, tetapi kami berpikir ke hubungan masyarakat papua yg sedang berjuang sebagai bagian dari perjuangan politik tanpa kekerasan dan aktivitas budaya tanpa resiko kekerasan hak asasi manusia.
Pemilihan DPR bulan april dan pemilihan Presiden bulan Juni yang akan laksanakan oleh Negara Indonesia tahun 2014, maka Amnesty mengharapkan bahwa Presiden harus yang ramah melihat masalah itu, dalam kesempatan pemilihan Presiden itu juga segera memberikan toleransi kepada Papua untuk kebebasan berekspresi dan bebaskan semua Tahanan Politik Papua tanpa syarat dan bermartabat. 

Diharapkan Demo serentak di nusantara.
Waktu : 12.00-13.00 Tanggal : Rabu, 2 april 2014
Tempat : Di depan Kantor Duta Besar Indonesia UK38 crosvenol square london w1k.2hw Informasi selanjutnya hubungi dan konfirmasi Paul Hainsworth ( Country Coordinator, Indonesia dan Timor Leste), Email : pa.hainsworth@me.com


Himbauan Demontrasi Amnesti Asli



Organisasi bangsa-bangsa yang tidak terwakili (UNPO) bekerjasama dengan Nonviolent Radical Party, Transnational dan Transparty, mengadakan acara side event pada Jumat, 14 Maret, di Palais des Nations di Jenewa yang berjudul ''Pelanggaran Hak Azasi Manusia di Indonesia''. Acara menyoroti tentang pelanggaran HAM yang dialami oleh kelompok minoritas dan populasi penduduk asli di negerinya.

Jenewa, 14 Maret 2014 � Pada Sidang Dewan HAM PBB ke 25, Organisasi bangsa-bangsa yang tidak terwakili (UNPO) bekerjasama dengan Nonviolent Radical Party, Transnational dan Transparty (NRPTT) mengadakan acaraside event pada Jumat, Maret 14, di Palais des Nations di Jenewa, Swiss, berjudul ''Pelanggaran Hak Azasi Manusia di Indonesia''. Side Event menyediakan diskusi panel ahli tentang situasi hak azasi manusia di Aceh, Maluku Selatan dan Papua Barat, kurangnya perlindungan hukum di Indonesia dan menyediakan sebuah bentuk diskusi mengenai kemungkinan jalan keluar untuk solusi damai.

Side Event didahului dengan demonstrasi di depan kantor PBB oleh anggota Aceh (ASNLF), Maluku Selatan (RMS) dan Papua Barat (NGRWP) untuk memberikan perhatian terhadap pelanggaran HAM berat yang dilakukan di Indonesia dan juga impunitas yang tak diragukan.

Moderator acara oleh Antonio Stango dari Nonviolent Radical Party, dimulai dengan gambaran tentang situasi HAM Indonesia oleh Martha Meijer, pegiat aktivsis HAM independen yang berbasis di Belanda dengan fokus pada Indonesia, impunitas dan dampak nilainya. Setelah menjelaskan kepada audienn tentang sejarah Indonesia, beliau juga mempresentasikan analisis dari isu-isu hak asasi manusia saat ini melalui tiga jenis indikator: indikator struktural, proses dan hasil. Dia menyimpulkan bahwa HAM di Indonesia melanggar dalam banyak hal, sebagai individu, kelompok penindasan dan intimidasi serta pelaku yang sering tidak bertanggung jawab.

Yusuf Daud, perwakilan dan wakil ketua Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF), melanjutkan panel dengan sebuah diskusi tentang pembantaian yang telah terjadi di Aceh sebagai bagian dari kejadian masa lalu dan sekarang melalui operasi militer oleh pemerintah Indonesia. Kemudian beliau mendesak masyarakat internasional untuk mengutuk serta meminta pertanggungjawaban Indonesia atas pelanggaran HAM yang dilakukan, dan selanjutnya disebut di Republik Indonesia agar menghormati dan melindungi hak asasi manusia dan juga mengusut serta membawa pelanggaran HAM dimasa lalu ke pengadilan.

Willem Sopacua, perwakilan Maluku Selatan dan wakil Presiden dari Republik Maluku Seletan (RMS), diikuti dengan pidato pada pelanggaran hak-hak politik, sipil, sosial dan ekonomi yang terjadi di Maluku Selatan dari tahun 1950 hingga sekarang yg seringkali dilakukan oleh instrumen negara sebagai reaksi terhadap aspirasi penentuan nasib sendiri. Dia juga meminta Indonesia dan komunitas internasional untuk mematuhi kewajiban HAM internasional mereka, untuk mengakhiri impunitas dan memberikan keadilan bagi korban.

Louis Nousy, juru bicara untuk pemerintah Nasional Republik Papua Barat, kemudian mengambil bagian dalam membahas perjuangan kemerdekaan Papua Barat sejak menjadi bagian dari Indonesia. Dia menceritakan tentang penangkapan, penghilangan paksa, dan penyiksaan masyarakat adat orang Melanesia karena terlibat kegiatan politik dan perjuangan melawan eksploitasi sumber daya alam mereka. Ia juga menyoroti kesulitan pengungsi Papua Barat yang telah berusaha untuk melarikan diri dari penganiayaan politik dan menyerukan implementasi yang benar dari kewajiban HAM di tingkat nasional dan internasional.

Acara ini diakhiri oleh pernyataan penutup dari Antonio Stango yang menekankan pentingnya mencari resolusi damai untuk konflik yang terjadi terus menerus.
Laporan lengkap tentang acara side event tersebut akan disediakan segera.

Untuk mengunduh pidato Martha Meijer klik:
http://www.unpo.org/downloads/843.pdf

Untuk mengunduh pidato Yusuf Daud klik:
http://www.unpo.org/downloads/844.pdf

Untuk mengunduh pidato Willem Sopacua klik:
http://www.unpo.org/downloads/841.pdf

Untuk mengunduh pidato Louis Nousy klik:
http://www.unpo.org/downloads/845.pdf

Sumber:
http://unpo.org/article/16953

Berikut ini lampiran foto-foto


                        



Moana Carcasses Katokai Kalosil menyampaikan pidatonya dihadapan sidang Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 25 (IST)

Jayapura, 5/3 /2014 � Selasa, 4 Maret 2014, pukul 12.15 waktu Jenewa, Perdana Mentri Vanuatu, Moana Carcasses Katokai Kalosil menyampaikan pidatonya dihadapan sidang Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 25.  Dihadapan para pemimpin negara-negara anggota PBB ini, Moana menyampaikan keprihatinan tentang situasi yang dialami rakyat Melanesia di Papua. Moana juga mempertanyakan komitmen dalam sidang HAM PBB yang dari tahun ke tahun seakan buta dan tuli terhadap masalah Orang Asli Papua. Di akhir pidatonya, Moana menegaskan komitmen pemerintahannya untuk terus memperjuangkan hak-hak dasar bangsa Papua di atas tanahnya sendiri.
Pidato PM Vanuatu ini bisa disaksikan di laman UN Web TV.
Berikut transkrip pidato PM Vanuatu yang diterjemahkan oleh Jubi. Transkrip berbahasa Inggris bisa diakses di laman West Papua Daily
-

REPUBLIK VANUATU
Pidato oleh
YANG MULIA MOANA CARCASSES KATOKAI KALOSIL


PERDANA MENTERI REPUBLIK VANUATU
DI HADAPAN SIDANG TINGKAT TINGGI DEWAN HAK ASASI MANUSIA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA YANG KEDUA PULUH LIMA
JENEWA, SWISS
4 MARET 2014
Tuan Ketua Sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB


Tuan Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki Moon


Delegasi-delegasi yang terhormat


Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Republik Vanuatu amat bersyukur untuk dapat menyampaikan pidato pada pertemuan hari ini.
Saya datang kemari untuk bergabung dengan para pemimpin dunia guna membahas dan mengangkat keprihatinan mengenai tantangan hak asasi manusia yang berbeda-beda yang melanda jutaan warganegara tak berdosa di seluruh penjuru dunia, mulai dari negara-negara kepulauan dan di dalam negara-negara di semua benua.
Tuan Ketua, fokus dari pidato saya di sini dan hari ini terdiri dari dua hal penting tapi menyangkut masalah-masalah yang amat penting bagi seluruh penduduk negara saya. Pertama, saya hendak memusatkan perhatian atas hak masyarakat adat untuk memraktikan ritual adat dan spiritual mereka di dua pulau kami di Provinsi Tafea, Selatan Vanuatu. Dan kedua, saya akan memaparkan kepada sidang sebagian masalah yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia di Papua yang telah mencapai tingkat yang sangat meresahkan bagi masyarakat demokratis di seluruh dunia.
Tuan Ketua, perjuangan negara saya untuk meraih kemerdekaan politis di tahun 1980 ditandai dengan berbagai aksi protes sosial dan munculnya berbagai gerakan politis di negara kami. Kami bangsa Melanesia diperintah oleh Inggris dan Perancis di tanah kami sendiri. Sebelum tahun 1980 kami tidak memiliki status negara di negeri kami dan kami juga bukan warganegara Perancis atau Inggris. Selama 3 empat dasawarsa, kami dibenturkan dengan aturan asing. Dengan demikian kami harus berjuang untuk membentuk identitas sebagai bangsa merdeka yang hidup di negeri kami secara bermartabat. Kemerdekaan adalah tujuan kami. Ini adalah dorongan kuat yang menggerakan para pemimpin kami untuk meraih sesuatu yang tidak lebih kurang dari kemerdekaan politis. Kami tidak berjuang untuk kemerdekaan karena secara keuangan dan ekonomi kami sudah siap. Kami tidak berjuang untuk kemerdekaan karena tuan-tuan penjajah membunuh bangsa kami. Tidak. Kami berjuang untuk kemerdekaan politis karena Tuhan kami telah memberikan hak untuk bebas. Kebebasan adalah hak yang tidak tergadaikan. Itu adalah hak asasi manusia. Dan Vanuatu dinyatakan merdeka pada 30 Juli 1980.
Tiga puluh tiga tahun sesudah kami merdeka, saya senang untuk menyatakan bahwa Perancis telah mulai menunjukkan niat baiknya kepada masyarakat adat kami yang pergi mengunjungi dua dari pulau-pulau yang amat sakral, Umaepnune (Matthew) dan Leka (Hunter) di bagian Selatan negeri kami guna memenuhi kewajiban adat dan spiritual mereka. Ritual dan upacara-upacara adat terus dilangsungkan di pulau-pulau lain di Provinsi Tafea setiap tahunnya meski sebelumnya ada pelarangan yang diterapkan oleh Pemerintah Perancis terhadap masyarakat adat kami untuk bepergian ke Pulau-pulau suci Umaepnune dan Leka guna memenuhi kewajiban adat dan kultural mereka.
Tuan Ketua, sekarang saya ingin membahas tantangan-tantangan hak asasi manusia yang sudah bersifat kronis dan telah berdampak serius bagi masyarakat adat Melanesia di Tanah Papua sejak 1969. Dan saya berbuat ini dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati.
Negara saya dalam forum ini hendak menggemakan apa yang menjadi keprihatinan atas situasi hak asasi manusia di Tanah Papua. Kami sangat prihatin tentang cara dan sikap komunitas internasional yang mengabaikan suara orang Papua, yang hak asasinya telah diinjak-injak dan secara keras ditekan sejak tahun 1969.
Tuan Ketua, Anda memimpin sidang dalam organ PBB yang paling mulia: Dewan HAM PBB. Tetapi apa yang kita buat saat hak-hak bangsa Melanesia di Tanah Papua ditindas oleh campur tangan dan kehadiran militer? Sejak Pepera tahun 1969 yang bersifat kontroversial itu, Bangsa Melanesia di Papua telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia yang terus terjadi yang dilakukan oleh aparat keamanan Indonesia. Dunia telah menyaksikan litani penyiksaan, pembunuhan, perampasan, perkosaan, penyerbuan militer, penangkapan sewenang-wenang dan perpecahan masyarakat sipil akibat operasi intelijen. Komnas HAM telah menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan tersebut tergolong kejahatan terhadap kemanusiaan menurut UU no. 26/2000 (KOMNAS HAM 2001, 2004).
Dalam suasana ketakutan dan penindasan protes politik, dan pengabaian masyarakat internasional secara terang-terangan termasuk PBB dan negara-negara berkuasa sejak 1969, senyatanya ras yang terlupakan ini masih berani mendambakan persamaan dan keadilan. Namun demikian negara-negara demokratis tetap bungkam seribu bahasa.
Tuan Ketua, sebagai warga Melanesia, saya datang kemari untuk menyerukan adanya tindakan segera. Ketidakadilan di Tanah Papua adalah ancaman atas prinsip keadilan dimanapun di dunia. Saya tidak tidur ketika saya tahu bahwa di tahun 2010 Yawan Wayeni, yang dikenal sebagai seorang pemberontak direkam oleh aparat keamanan saat rebah di pinggir kolam bersimbah darah dengan usus memburai dari perutnya. Saya prihatin ketika di tahun 2010 Telengga Gire dan Anggen Pugu Kiwo diikat oleh TNI dan secara keji disiksa. Sungguh-sungguh memprihatikan saat saya melihat tayangan video saat sekelompok laki-laki Papua diikat dan ditendang oleh para prajurit TNI tak berseragam yang seharusnya melindungi mereka. Saya gelisah karena antara Maret 2011 dan Oktober 2013, 25 orang Papua telah dibunuh dan tidak ada tindakan untuk membawa pelaku ke meja hijau. Sungguh memalukan bagi saya, warga Melanesia, saat mengetahui bahwa sekitar 10% dari populasi Papua telah dibunuh oleh tentara Indonesia sejak 1963. Meski 15 tahun proses reformasi Indonesia telah berlangsung, saya juga cemas bahwa bangsa Melanesia akan segera menjadi kaum minoritas di tanah mereka sendiri.
Tuan Ketua, dalam dunia yang kini begitu erat terhubung dengan teknologi baru, seharusnya tidak ada lagi dalih mengenai kurangnya informasi mengenai situasi hak asasi manusia yang menimpa orang Papua selama lebih dari 45 tahun. Carilah internet dan riset kalangan akademisi dan LSM-LSM internasional, dan Anda akan menemukan fakta-fakta dasar yang menggambarkan pelanggaran hak-hak orang Melanesia di Papua secara brutal. Tetapi mengapa kita tidak membahasnya dalam Sidang ini?
Mengapa kita memalingkan muka dari mereka dan menutup telinga kita terhadap suara-suara sepi orang Papua, yang banyak di antaranya telah menumpahkan darah demi keadilan dan kebebasan yang mereka dambakan. Banyak yang menjadi martir yang telah dianiaya dan dibunuh secara keji karena mereka menyuarakan suara-suara yang tak terucapkan dari jutaan manusia yang kini hidup dalam ketakutan di lembah-lembah dan puncak-puncak gunung di Papua. Mereka menuntut pengakuan dan persamaan hak serta penghormatan atas hak-hak asasi manusia mereka dan hak untuk hidup secara damai. Akankah sidang Agustus nanti mendengarkan rintihan mereka dan ambil langkah untuk melindungi hak-hak asasi mereka dan mengakhiri segala kesalahan masa lalu itu?
Saya telah mendengarkan dengan seksama suara seorang mantan PNS Tuan Filep Karma dan mahasiswa Yusak Pakage yang masing-masing divonis penjara 15 dan 10 tahun. Mereka berseru dari balik terali besi dan menyerukan agar negara-negara di Pasifik bersuara menentang ketidakadilan yang menimpa mereka. Kami ini anak-anak pejuang yang gigih berjuang selama Perang Dunia II di Pasifik dan yang telah berhasil membawa damai dan keamanan di belahan bumi Pasifik. Kini saatnya kami berkewajiban untuk membawa damai bagi kampung-kampung dan masyarakat-masyarakat adat Papua dengan memperjuangkan hak-hak dasar mereka yang bagi sebagian terbesar dari kita di sini telah kita terima begitu saja secara cuma-cuma.
Saya sungguh merasa bersemangat karena perkara ini sekarang telah sampai di meja Komite Hak Asasi Manusia Parlemen Eropa dan kami berharap ada tindakan-tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusia bagi saudara dan saudari kami di Papua. Selanjutnya saya menyerukan kepada pemerintah negara-negara maju, khususnya negara-negara Afrika dan negara kepulauan Karibia dan Pasifik agar mengutuk tindakan pelanggaran hak asasi manusia ini. Saya ingin menyuarakan kembali kata-kata Martin Luther King Jr., yang mengatakan dalam pidatonya di tahun 1963 bahwa, tidak ada hal di dunia ini yang lebih berbahaya daripada sikap pengabaian yang polos dan ketololan yang disengaja. Kita negara-negara demokratis tidak boleh mengabaikan erang kesakitan bangsa Papua.
Tuan Ketua, keprihatinan yang kami angkat ini lebih daripada sekedar perkara menjaga 70% kekayaan minyak dan gas di Papua. Ini adalah perkara status politis. Keprihatinan kami di sini lebih daripada sekedar perkara ekonomis dimana 80% kekayaan hutan, laut dan tambang tetap menjadi milik Papua. Ini adalah perkara penghormatan atas hak asasi dan eksistensi bangsa Melanesia. Perhatian kami tidak menyangkut berapa banyak mereka disuap dengan sendok emas, melainkan seberapa jauh mereka dihargai hak-haknya sebagai sesama warganegara. Dan sejauh mana masyarakat sipil diberi hak untuk menyampaikan pendapat mengenai mutu pemerintahan di tanah mereka sendiri karena inilah yang menjadi ukuran suatu demokrasi yang hidup dan berkembang.
Tuan Ketua, akses harus diberikan kepada ahli-ahli hak asasi manusia PBB, wartawan internasional and LSM internasional untuk mengunjungi Papua.
Dari berbagai sumber sejarah telah nyatalah bahwa bangsa Melanesia di Papua adalah kambing hitam perang dingin dan menjadi tumbal untuk memenuhi selera akan kekayaan sumber alam yang dimiliki Papua. Tuan Ketua, jika Utusan Sekjen PBB waktu itu, Tuan Ortiz Sanz telah mengibaratkan Papua sebagai kanker dalam tubuh PBB dan tugas beliau adalah menghilangkannya, maka dari apa yang telah kita saksikan ini amat jelaslah sekarang bahwa kanker ini tidak pernah dihilangkan tetapi sekedar ditutup-tutupi. Suatu hari, kanker ini akan didiagnosa. Kita tidak boleh takut jika PBB telah membuat kesalahan di masa lalu. Kita harus mengakui kesalahan kita dan memperbaikinya.
Tuan Ketua, sebagai penutup, pemerintahan saya berkeyakinan bahwa tantangan hak asasi manusia di Papua harus dibawa kembali ke dalam agenda PBB. Saya menyerukan agar Dewan HAM PBB mempertimbangkan untuk mensahkan resolusi mengenai keadaan hak asasi manusia di Papua. Mandat sebaiknya mencakup penyelidikan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua dan memberikan saran bagi penyelesaian politik secara damai di Papua. Hal sedemikian akan membantu upaya Presiden Yudhoyono dalam mengupayakan dialog untuk Papua.
Terimakasih sekali lagi atas kesempatan untuk menyampaikan pendapat saya dalam forum ini.
Long God Yumi Stanap. Dalam Tuhan kami berpijak. Terimakasih.

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats