Halloween party ideas 2015

Photo oleh Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali,
usai Nonto Film bersama

"AMP KK BALI: Diskusi dan Nonton Film Dokumenter Sejarah Perjuangan Rakyat Papua (PDP)"
kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagiaman harus kita melawan. Oleh Nelson Murib

Denpassar- Pada tanggal, 05 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali, menyelenggarakan diskusi dan nonton film dokumenter mengenai "Sejarah Perjuangan Rakyat Papua: Presidium Dewan Papua (PDP). Tempat di Asrama Puncak Bali, dengan peserta sekitar 31 orang, mulai kegaiatan dari pukul 19:00 hingga selesai WITA. Pematik oleh Nelson Murib (Biro Pendidikan Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali).

Hasil Diskusi:

Pertemuan pemutaran film dokumenter di mulai dari pukul 19:00 sampai selesai WITA. dengan pembukaan oleh Pematik Nelson Murib. Video dokumenter tersebut berdurasi 56 Menit.  Setelah film dokumenter berakhir, memulai pada tahapan menyikapi isi dari video dokumter tersebut. dan di arahkan oleh Nelson Murib serta meminta kepada peserta untuk menyikapi video dokumneter Presidum Dewan Papua (PDP) tersebut bahwa pertama apa yang kita dapat dari video dokumneter PDP? dan juga boleh bertanya tentang perjalanan Sejarah bangsa Papua Barat?  dan Juga, bisa di tambahkan mengenai film dokumenter tersebut juga. Dengan itu, Pertanyaan-pertanyaan ini saya berikan secara formal untuk kawan-kawan menyikapai sesuai apa yang kawan-kawan lihat secara forum.

Pertama oleh Nelson Murib sebagai kata pengantar bahwa " kita punya tanah, kita punya tempat, kita punya lahan tapi orang luar masuk lalu mereka bikin kebun padahal itu kita punya tanah bahkan kita menjadi penonton di kita punya tanah sendiri dan hal seperti itu, bagiaman harus kita melawan".

Dan yang kedua oleh Gilo mengatakan bahwa "saya tertarik dengan video dokumenter tersebut karena ada pertanyaan besar bahwa "MENGAPA PAPUA INGIN MERDEKA? dengan itu, apakah kita bangsa Papua sudah menjadi bagian dari Indonesia atau tidak. maka secara garis perjuangan, kita bisa renungkan lagi dari sejarah-sejarah yang kita nonton bersama itu. dan Apakah kita ini memang benar-benar untuk memperjuangkan dan memanusiakan rakyat Papua  atau tidak, karena apa yang kita perjuangkan adalah hal kemerdekaan. 

Dokumenter video tersebut menerangkan bahwa adanya kepentingan ekonomi,  politik dan kekuasaan.  bahkan Papua itu tidak sama sekali bagian dari Indonesia. Dengan catatan itu juga, kemerdekaan Indonesia mempunyai batasan wilayah dari Sabang Hingga Ambo tidak termasuk dengan Papua. serta ada juga, yang menggatakan dalam film dokumenter  Papua itu, Papua masih primitif,  Papua Masih latarbelakang, Papua Masih Bodoh, maka perlu kita sikapi bahwa mengapa Papua Ingin Merdeka atas pertanyaan-pertanayaan di atas? dan perlu di sikapi juga kenapa bangsa Indonesia bisa katakan seperti demikian.  dan Kenapa sekarang bangsa Papua masih berjuang terus atas dasar-dasar sejarah yang telah kita tonton, itu yang pembelajaran untuk kita yang  generasi-generasi sekarang.

Bangsa Papua masuk dalam Indonesia itu? atas kepakasaan oleh Indonesai, Amarika dan Belanda untuk kepentingan ekonomi, politik, kekauasaan. Maka kita perlu pertanyakan dengan Indonesia sejarah kita sudah final atau sudah sah? itu yang pelajaran untuk kita semua generasi Papua yang sekarang. bahkan, kita tidak akan berjuang hanya sekedar namun, atas dasar sejarah bangsa Papua.  Dan meurut saya Indonesia memasukan Papua itu secara Aneksasi sehingga kita membutuhkan untuk merenungkan kembali dan apa yang harus kita buat untuk pembebasan nasional Papua Barat?. Seperi dalam film dokumenter bahwa  ada puisi yang mengutip, Biar Rohnya Theys pergi,tetapi perjuangannya itu tetap mendasari ke kita punya generasi.  Apakah  jika  kebutuhan sekarang kita perjuangakan hanya tentang ekonomi, politik, kesejahteraan dalam bingkai Indonesia maka secara spontan tidak akan pernah bisa kita merebut perjuangan kebebasan nasional Papua Barat untuk mencapai kemerdekaan sejatinya. 

Dari itu juga, situasi Indonesia semakin buruk karena Indonesia sekarang cenderung mementingkan Pemodal, di mana setiap Pulau-pulau yang ada di Indonesia telah di gadaikan kepada para Inverstor dan para saham bahkan di tingakat IMF, yang kini terlihat jelas adanya, hotel-hotel, pabrik-pabrik, perusahan-perusahan, reklamasi dan lain-lain. sehigga terjadinya keterpinggiran terhadap rakyat, itu pun terasa terhadap rakyat Papua sendiri pada era ini.

 Dan dari kepentingan ekonomi, politik, kekuasaan merupakan ideologi Indonesia yang sangat mempengaruhi pada perjuanagn sejati orang Papua merebut kemerdekaan. Serta Kepintaran Indonesia dalam membunuh nasionalisme orang Papua melalui Nasionalisme Indonesia sendiri seperti adanya Bela Negara, Pancasila, Merah Putih, dan lain-lainnya. dengan itu, perlu memepertahankan perjuangan sejati bangsa Papua Barat kembali pada pernyataan dokumenter video tersebut "Megapa Papua Ingin Merdeka?. Biar nasionalisme Papua Barat tetap tumbuh dan hidup dalam rakyat Papua dan pada genersai sekarang.  Ada dua pertanyaan yang bisa kita renungkan bersama, Pertama apa kah bangsa Papua dengan Indonesia itu telah sah atau tidak sah? kedua perjuagan Papua jangan atas dasar sakit hati, kepentingan atau pun cara atau model-model tertentu dalam perjuangan Papua untuk merdeka? karena itu akan mendatangkan malah petaka dalam perjuangan rakyat Papua Barat." 

Ketiga Oleh Hanewa bahwa" Kemerdekaan kita telah merdeka sejak 1 Desember 1961, dan sekarang adalah kita perlu merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua melalui genersai kita. Keberadaan rakyat Papua untuk masa kini ada di bawa penekanan Indonesia sehingga mengerakan perjuangan membutuhkan kekauatan bersama".

Keempat oleh Ika bahwa "sejarah perjuangan bangsa Papua barat telah buktikan bahwa kemerdekaan bangsa Papua Barat itu ada, yang mana para leluhur bangsa Papua Barat telah mencatat sehingga untuk emosional perjuangan menjadi kekuatan bersama pada generasi ini untuk mempertahankan garis perjuangan bangsa Papua Barat. Dan serta, kita bangsa Papua barat terus jaga persatuan nasional dalam memperjuangkan hak politik bangsa Papua Barat hingga merebut kemerdekaan sejati dari genersai ke generasi melalui semagat sampai membara".  dan moral pemerintahan Indonesia di tanah Papua tidak berlaku sama sekali sesuai akar persoalan tanah Papua Barat; apa lagi rakyat Papua yang masih memepertahanakn ideologi Indonesia di tanah Papua  yang ahirnya tidak bisa banggakan dalam nasionalisme bangsa Papua Barat malah menambahkan penindasan dalam berbagai Intimidasi yang berlebihan pada pemusnahan etnis bangsa Papua barat".
 
 Kelima oleh Abet Bahwa " Setiap sejarah yang telah di dokumenterkan, dokumnetasikan merupakan kewajiban kita untuk mencatat karean itu bagian dari kewajiban bagi mahaisiswa dan rakyat bangsa Papua Barat  sebagai landasan dasar. dan sebelum kemerdekaan bangsa Papua Barat, gejolak pergerakan kemerdekaan bangsa Papua itu telah ada. Indonesia mengklaim tanah bangsa Papua Barat atau perebutan tanah bangsa Papua barat pada tahun 1949 untuk kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan atas tanah West Papua. hasil klaim itu bagi saya tidak adil karena katika mereka klaim suatu negara itu membutuhkan proses dan kontitusi PBB itu sendiri. tetapi Indonesia, Belanda, Amerika Serikat klaim sewenang-wenang mereka tanpa melibatkan orang Papua sendiri untuk membicarakan masalah klaim tersendiri. Untuk itu lebih tepatnya, genersai kita perlu memahami tentang sejarah di mana bangsa Eropa, Belanda, amerika, Indonesai atas Tanah Bangsa Papua barat mulai dari tahun 1500-an, 1900-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga tahun 2000-an merupakan tugas bagi kita generasi penerus meluruskan sejarah bangsa Papua Barat dalam persatauan nasionalisme Papua barat".

Ke enam oleh Enis bahwa " Sejarah merupakan bagian dari generasi kita; tidak ada selain dari genersai kita dan perlu  akan mempelajari sejarah bangsa Papua sendiri, bahkan waktunya untuk kita mempelajari sejarah bangsa Papua itu sendiri dari setiap Individu. Melihat secara kedalam, perlu membicarakan sejarah bangsa Papua dan membuat sejarah bagian dari kehidupan sebagai pedoman di Papua dalam membagun persatuan ideologi rayat Papua Barat. dalam posisi dari bergerlya di hutan hingga pada tahapan sipil kota. Karena dasar perjuangan sekarang ada pada tahapan genersai kita bagian dari meluruskan sejarah bangsa Papua Barat. melalui dokumenter video sendiri rakyat bangsa Papua telah membangkitkan nasionalisme bangsa Papua Barat melalui kawan-kawan Theys tahun 1990-an- 2000 hingga pada tahapan Mako Tabuni 2008 yang memiliki kharismatis perjuangan menghidupkan kembali perjuangan sejati. Dasar dari Mahasiswa dan Rakyat Papua adalah ada pertanyaan apa yang perlu dilakukan? apa yang perlu di tuntaskan? agar perjuangan menjadi terarah dan tersampaikan secara luas".

Ketuju oleh Yesaya bahwa " Indonesia, Amerika, belanda memaksa rakyat Papua masuk ke dalam Indonesia pada tahaun 1963 melalui UNTEA yang tidak demokratsi tanpa keterlibatan rakyat West Papua. sehingga antara tahun 1965, 1966 rakyat transmigran menguasai tanah Papua Barat tanpa atas dasar hukum rakyat Papua Barat. Ketika Rakyat Transmigran Indonesia atas Papua; rakyat Papua di jadikan terbelakang, menjadi objek atas tanah sendiri (orang kedua atas tanah sendiri),  pemberian gula-gula manis dari jakarta ( seperti pemekaran-pemekaran provinsi, kabupaten-kabupaten, kota-kota dll), OTSUS dan program-program yang membunuh nasionalisme rakyat Papua bahkan perjuangan pembebasan. Kehadiran itulah, tercipta gula-gula manis di atas tanah bangsa Papua Barat dalam rakyat Papua itu sendiri".

Kedelapan oleh Ardy bahwa "Rakyat Papua membutuhkan kesadaran yang akanya sejarahnya sendiri terlepas dari hegemoni, egois dan fakum atas perjuangan pembasan nasional melainkan memperjuangkan serta merebut kembali perjuangan secara universal untuk rakyat bangsa Papua barat. dengan itu, menyimak sejarah bagian dari kekuatan adalah bagian dari dasar perjungan dan pelaku utama atas dasar sejarah kita". Kesembilan oleh Wolker bahwa "Sejarah Rakyat Bangsa Papua Barat kita telah mengetahui, Rakyat Indonesia telah mengetahui, dan Rakyat Internasional telah mengetahui. maka perlu di pertanyakan sekarang yang menghambat perjuangan itu siapa? sebenarnya kita rakyat Papua tidak perlu  medapatkan penderitaan, penyiksaan dan berbagai intimidasi. tetapi kita rakyat Papua sendiri yang memperpanjangkan penderitaan, penyiksaan, dan berbagai intimidasi terlalu panjang. Padahal kita telah berjuang dari lama sekali, sampai sekarang ini. Kalo di lihat secara mendalam tingkatan pemerintahan di tanah Papua sampai rakyat itu sangat di sayangkan. Meskipun pemerintah sudah mengeriti tetapi permasalahan terjadi pada tingkatan masyarakat. seperti pememimpin sekarang selama dalam jabatan akan menikmati dengan jabatannya dan tidak ada suara kebenaran untuk rakyat Papua; malah ketika jabatannya berhenti dalam pemerintahan, para pejabat ini akan mencari sensasi bicara masalah Papua, sehingga memperlambat perjuangan adalah orang Papua yang ada dalam pemerintahan ini".

Kesembilan Oleh Jeeno bahwa " dari pondasi sejarah kita membutuhkan persatuan nasional untuk menguatkan pondasi perjuangan pembebasan nasional dan memang perjuangan tidak dapat di lakukan sendiri-sendiri, perjuangan itu bukan satu suku dua suku atau satu orang dua orang yang ingin merdeka tetapi untuk seluruh tanah Papua dari sorong hingga Samarai. Jika memang Papua Ingin Merdeka harus dari Sorong sampai Samarai angkat suara untuk merdeka. dan melihat dari latar belakang perjuangan-perjuangan yang sudah ada.

Kemudian sejarah menjadikan sebagai alat evalusai bagi kita dengan tahapan perjuangan itu sendiri untuk masa kini dan masa yang akan datang. Ketika rakyat Bersatu dan suarakan apa yang rakyat inginkan maka disistulah kemenangan akan mutlak didapatkan karena persatuan nasional punya kekuatan yang sangat kuat. sehingga kemerdekaan itu akan datang di tanggan rakyat Papua. Melihat kedalam, dahulu Indonesia dapat dapat di jajah oleh bangsa luar seperti jepang, Belanda yang 350 tahun jajah indonesia; cara jajah jepang, Belanda itulah Indonesia juga membuktikan jajah atas rakyat dan tanah bangsa Papua. catatan untuk itu adalah meskipun Indonesia menjajah Papua dengan caranya mereka;Rakyat Papua harus terus mempunyai rasa persatuan dalam nasionalisme Papua tetap hidup dari genari ke generasi mencapai hak kemerdekaan".

Kesepuluh Oleh Darson bahwa " Setiap ego dalam perjuangan Papua merupakan hambatan dalam perjuangan Papua Barat yang di lahirkan oleh pemimpin-pemimpin tertentu. Dengan itu, bagi generasi kita tetap konsisten untuk memperjuangkan pembebasan nasional dalam persatuan  dan dasar-dasar sejarah yang ada, fakta-fakta yang ada, kita memperjuangak secara bersama.

Kesebelas oleh Natalis bahwa " perjuangan bangsa Papua saat era ini sangat berbeda dengan perjuangan masa silam. perjuangan masa silam, saat PDP (Presidium Dewan Papua) dapat menyatukan berbagai wadah organ di Papua mulai dari dewan adat, ketua wialayah, LSM, YLBH, ELEMA dan lain-lainnya kecuai saat itu TPN-PB tidak di libatkan; tetapi perjuangan masa kini, genersai kita berhadapan dengan berbagai klas atau wadah, klas anak-anak aibon, klas mama-mama Papua, Klas Tani, Klas Buruh, Klas Nelayan, Klas Kaum Miskin Kota, Klas AMBER (Pendatang di Papua), Klas Pmemerintah dan tambah lagi dengan berbagai wadah organ yang waktu silam itu; sehingga kita membuthkan persatuan nasional untuk merebut klas-klas itu dan memperjuangkan perjuangan sejati atas tanah bangsa Papua Barat sendiri menuju pembebsan bersama.

Kesimpulan

Dari setiap Gagasan yang di bahas, rakyat Bangsa Papua Barat membutuhkan persatuan nasional untuk merebut perjuangan sejati bangsa Papua Barat atas filosofi dasar sejarah Papua dan Perlu mempelajari dan mempraktekan sebagai merebut hak kemerdekaan atas bangsa Papua Barat. Dari itulah, bangsa Papua akan tetap memepertahankan harga diri, martabat,  kebangsaan. Perjuangan dasar bangsa Papua adalah ada pada genersai era-modern ini; untuk merebut pembebasan nasional dalam revolusi bangsa Papua Barat .

Jabat Erat!!
Salam Pembebasan nasional Papua Barat

Penulis Adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahaiswa Papua Komite Kota Bali

Photo oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta, Ketika Usai
Nonto dokumenter Film
AMP KK Jakarta: Dokumenter Film Sejarah Perjuangan Rakyat West Papua di LBH Jakarta

Modertor: Helena Kobogau**

Jakarta- Pada hari Kamis, 31 Mei 2018 Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta. Menyelenggarakan Diskusi  dan Pemutaran Film dokumenter mengenai Sejarah Perjuangan Rakyat Papua Barat : Presidium Dewan Papua (PDP).  Mulai Pemutaran Dokumenter Film dari Pukul 17:30-20:00 WIB. dengan anggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta  dan partisipan sekitar 30-an Orang. Lokasi tempat di LBH Jakarta, dengan Pematik: Mukael Kudiai dan Moderator: Helena Kobogau.

Ini kronologis singkatnya:

Sejak sore sekitar pukul 16:30 waktu setempat, sebelum kegiatan dimulai puluhan aparat kepolisian lengkap dengan atribut keamanan.  Telah menjaga di depan pintu masuk kantor LBH Jakarta sebelum kegiatan pemutaran film dokumenter di mulai. Dan aparat kepolisian melakukan persiagaan di depan kantor LBH Jakarat. Setelah satu Jam kemudian tepat Pukul 17:50 WIB aparat meninggalkan kawasan kantor LBH.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa papua Komite Kota Jakarta,
saat Aparat Militer Kepolisian di Depan Kantor LBH Jakarta


Pemutaran Film dan Diskusi dimulai tepat pukul 17:60 setelah parah militer aparat keoplisian meninggalkan tempat LBH Jakarta. Setelah Aparat Kepolisian meninggalkan tempat ada pun, Intel Kepolisian mengikuti diskusi sebanyak Tiga (3) Orang Intel Kepolisaian dan satu (1) orang intel dari satuan Militer Kopasus yang juga masuk dan ikut diskusi Tersebut.

Photo Oleh Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta,
 selama pemutaran Film Berlanjut di LBH Jakarta

Sekitar sejam nonton bersama dan selesai Nonton tepat Pukul 19:00 WIB dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh  Mikael Kudiai hingga pukul 20:00 WIB selesai sesuai waktu yang telah di tentuan.

Berikut hasil diskusinya:

Beberapa argument atau pendapat menarik muncul di dalam hasil diskusi seperti, proses instruksi tidak tegas saat dimana pengalihan kekuasaan militer Hindia-Belanda dalam proses melakukan dekolonisasi di Papua yang di samapaikan oleh Kawan (Roy). Dan juga, sangat keliru ketika Papua dijadikan bagian dari Indonesia, dan dalam hal ini yang saya amati dalam film yang kita nonton memberikan gambaran bahwa kepentingan ekonomi dan politik sajahlah sehingga Indonesia mengklaim Papua Barat sebagai bagian wilayah dari Indonesia. Kemudian Oleh Kawan (Gideon) mengapa kami masih berjuang dan orang tua kami telah mendahului kami sampai kami disini hanya kami ingin DIAKUI SEBAGAI SEBUAH NEGARA YANG BERDAULAT DAN MERDEKA  Ungkapnya.

Lanjutdari kawan (Roy) perjanjian antara Indonesia dan Belanda tidak memasukkan Papua karena administrasi dari Holandia, yang harus diamati adalah kesimpulan bahwa Indonesia hanya dari Sabang sampai Amboina saja dan tidak termasuk Papua namun yang perlu dilihat adalah mengapa Soekarno berubah pikirannya lagi inginkan klaim Papua. dan di tegaskan lagi Juga,  sisi lain perlu untuk dilihat lagi, apakah perna negara lain juga melakukan Pepera atau tidak?

Persoalan Papua sangat kompleks, oleh sebab itu Belanda harus buka diri karena sebagai wilayah jajahannya, maka Belanda harus berterus terang saat proses persiapan menuju sebuah negara sampai terbentuknya negara Papua itu sendiri 01 Desember 1961.

Belajar juga dari perjuangan Presidium Dewan Papua (PDP) tahun 2000 terutama soal persatuan yang pernah dibangun sangatlah penting. Terutama soal persatuan nasional yang mengakar hingga ke seluruh rakyat Papua.

Perjalanan perjuangan PDP yang diketuai oleh Theys Eluai menjadi pelajaran penting juga buat kebutuhan mendesak gerakan kita saat ini, terutama situasi internal Papua hari ini dalam mendorong bersama agenda perjuangan pembebasan nasional Papua.

Disksusi dan Nonton Film dokumnter berjalan dengan lancar dan catatan sejarah  merupakan bagian dari untuk memeperjuangan pembebsanan nasional bagi rakyat Papua Barat dalam melihat prekpektif Papua menuju pada kembalinya kemerdekaan bangsa Papua Barat.

Penulis adalah Ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Jakarta


Gambar Ilustrasi oleh AMP KK Yogyakarta Setelah usai
"Diskusi dan Bedah Film ALKINEMOKIYE"
Liputator: Julia Opki***

Yogyakarta, 27 Maret 2018 bertempat di Asrama Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP-KK Yogyakarta) mengadakan diskusi dan bedah film “Alkinemokiye” yang dihadiri oleh 48 orang mahasiswa/i.  Kegiatan dimulai pada pukul 19.10 WIB sampai pukul 23.30 WIB dan diakhiri dengan foto bersama para peserta diskusi dalam  pemutaran film “Alkinemokiye”.

Film dokumenter “Alkinemokiye” yang berdurasi kurang lebih satu (1) jam, yang menceritakan tentang kondisi buruh PT.Freeport yang tidak mendapatkan upah minim serta tidak setara dengan keselamatan kerja (nyawa) mereka dalam bekerja pada tahun 2011, dan juga perbandingan upah yang bagai langit dan bumi antara, para petinggi penguasa PT. Freeport yang hanya berpangku tangan dan menerima hasil yang begitu tinggi. Hal ini juga yang menjadi penyebab para buruh PT. Freeport melakukan demostrasi dan mogok kerja yang kemudian juga dibalas dengan represifitas militer yang diturunkan oleh perusahaan PT. Freeport untuk menghentikan demonstrasi yang berujung pada tewasnya beberapa buruh PT. Freeport.

Film tersebut juga menceritakan tentang perjuangan TPN/OPM yang kesadaran penuh akan PT. Freeport yang menjadi akar penindasan, pembantaian, pemerkosaan dan penyiksaan berjutaan orang Papua, serta secara langsung memenjarakan ideologi politik ‘Papua Merdeka’ dengan menyetir negara Indonesia untuk melakukan kolonisasi yang diawali  dengan operasi militer yang dilakukan diseluruh wilayah Papua.

Setelah film selesai dilanjutkan oleh moderator, Bingga, yang kemudian dijelaskan oleh pemantik, Aworo salah satu kader AMP, tentang sejarah sistem ekonomi-politik yang dimonopoli Individu/kelompok tertentu, Kapitalis, yang dahulunya sudah ada di Papua.

Ulasan  dari Pemateri

Sekitar tahun1920-an terdapat perusahaan minyak yang dipegang oleh Amerika Serikat, Jepang serta beberapa negara kapitalis yang memiliki saham mencapai 60% ,serta Belanda namun memiliki saham lebih kecil. Penemuan mineral emas awalnya ditemukan oleh 3 orang pendaki dari Belanda setelah itu Belanda melakukan pendekatan ke Amerika Serikat untuk bekerja sama, tetapi Amerika Serikat menolak karena Amerika Serikat membaca bahwa akan sangat menguntungkan jika memanfaatkan Indonesia untuk merebut Papua dan dengan leluasa menguasai mineral emas yang terkandung di Papua.

Didalam pihak Amerika Serikat sendiri juga terdapat dua kubu yaitu John F Kennedy yang baru dilantik sebagai presiden Amerika Serikat yang memandang bahwa presiden Indonesia, Ir. Soekarno merupakan seorang nasionalis yang patut dijadikan presiden seumur hidup, tetapi di pihak Allan Dulles, agen terbaik CIA pada masa itu, menganggap bahwa Ir. Soekarno sebagai seorang komunis yang akan menghambat kepentingan ekonomi kapitalis untuk menguasai perekonomian di Indonesia, terlebih khusus pertambangan emas yang akan dibangun di Papua. Sehingga pada saat setelah pertemuan John F Kennedy dan Ir. Soekarno bertemu lalu Kennedy kembali ke Amerika kemudian setelah mau balik kembali, ia dibunuh dan sampai sekarang belum diketahui pelaku penembakannya. Di sisi lain Allan Dulles memainkan politiknya dengan memakai para petinggi militer di Indonesia untuk melakukan pembantaian terhadap kaum PKI (Partai Komunis Indonesia) yang menelan jutaan korban, hal ini juga dapat dilihat sebagai stimulus untuk melancarkan kepentingan ekonomi kapitalis di Indonesia, termasuk juga di Papua sendiri.

Ini adalah sejarah dan pembacaan yang dipaparkan oleh pemantik, kemudian diskusi mengalir begitu saja, ada seorang kawan simpatisan dari Indonesia yang mengajukan beberapa pertanyaan yang juga ditanggapi antusias oleh kawan-kawan AMP KK Yogyakarta, terkait dengan dampak yang sudah diberikan oleh PT. Freeport kepada orang Papua khususnya di bagian kabupaten Timika. Pertanyaan tersebut kemudian dijelaskan oleh salah seorang kawan dari Papua yang memang hidup langsung di daerah sekitar Kokonau (dekat pembuangan limbah PT. Freeport)  menurutnya dampak PT. Freeport ini sangat berpengaruh sekali terhadap kesehatan masyarakat di sana serta juga pola berpikir masyarakat setempat yang juga agak lambat. Di lain sisi memang ada dana bantuan yang diberikan oleh PT. Freeport tetapi hal ini tak lain hanya memanjakan dan membuat masyarakat di sekitar semakin ketergantungan terhadap PT. Freeport dan ia juga menjelaskan bahwa hal ini merupakan sebuah sistem kapitalis yang juga merampas kekayaan secara liar dan menyisihkan sedikit terhadap orang Papua itu sendiri.

Ada juga adegan cuplikan dalam film tentang dimana tentara orang Papua menyiksa orang Papua sendiri yang menjadi pertanyaannya, seorang kawan dari AMP, Jo menjelaskan bahwa sejak 1 Desember 1961 Papua telah mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara yang berdaulat tetapi selang 18 hari kemudian TRIKORA dikumandangkan oleh Ir. Soekarno melalui agresi militer yang terus digencarkan dari 1961-1990an yang dimana terjadi penyiksaan, pembantaian, pembunuhan, pemerkosaan besar-besar yang merupakna pelanggaran HAM berat yang tidak pernah diselesaikan dari hal-hal ini juga yang menjadi trauma besar para orang tua untuk berbicara tentang ideologi politik Papua serta sebagian orang tua juga ada yang melarang anaknya berbicara atau menyinggung tentang masalah Papua, hal ini juga yang menjadi penyebab kenapa generasi muda Papua menjadi acuh tak acuh dalam perjuangan politik Papua sehingga mereka juga menganggap bahwa perjuangan politik rakyat Papua lainnya adalah perjuangan separatis, sehingga ia bisa melakukan kekerasan terhadap sesama orang Papua yang berbeda ideologi politiknya, karena sistem kolonialisasi tidak hanya merampas suatu daerah tetapi juga dengan menyetir pemikiran manusianya. Ungkapnya.

Beberapa kawan-kawan dari Indonesia, khususnya dari organisasi Pembebasan yang juga tergabung dalam PPRI dan FRI-WP mendukung jelas-jelas sikap politik terhadap bangsa Papua untuk merebut kembali kemerdekaan yang telah mereka raih, dan juga mereka berharap bahwa bangsa Papua harus berjuang bersama untuk melawan salah satu akar permasalahan terbesar di Papua yaitu dengan memberhentikan kontrak kerja Freeport yang merupakan dalang dari kolonialisasi Indonesia di tanah Papua, yang juga dibarengi dengan agresi militer yang juga untuk kepentingan para kapitalis yang  ingin menanamkan modal di sana sehingga berdampak pada pemenjaraan Ideologi politik Papua merdeka. Ditambahkan lagi oleh seorang kawan yang mengatakan bahwa Papua merupakan Surga sekaligus neraka yang ada di dunia ini, karena ia menyimpan begitu banyak kekayaan alam yang sangat melimpah tetapi hal ini juga merupakan sumber bagi penindasan rakyat Papua sendiri dimana para kapitalis dengan rakusnya semakin mengguritakan saham-sahamnya di Papua.

Penulis adalah Kader Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta




Sumber Foto: Screenshot dari film di Youtube
Penulis: Zusan  Griapon*


Aku Ingin Menciummu Sekali Saja merupakan salah satu karya film yang disutradarai oleh Garin Nugroho. Film-film miliknya memang mengundang penonton untuk berpikir kritis dalam memahami setiap adegannya.



Film ini sengaja dibuat Neorealisme atau penggabungan antara cerita (kisah nyata) tanpa tambahan  embel-embel tertentu atau interpretasi tertentu. Ciri-ciri khusus dari neorealisme adalah menggunakan dominan artis non –profesinonal, pencahayaan alami serta tempat alami. Waktu pembuatan Film ini pun, saat gejolak politik di West Papua masih debar dirasakan pada tahun 2001. Film ini menarik karena membuat banyak intrepetasi atau penafsiran dari masyarakat West Papua, Indonesia bahkan dunia yang menyaksikannya.


‘Seorang remaja, Arnold (octovianus R. Muabuay) terpanah melihat gadis (lulu tobing) berurai air mata turun dari kapal di dermaga sebuah kota di papua. Ia terus mengikuti semua kegiatan gadis itu, hingga membuat cemburu sahabatnya, Sonya (sonya S. Baransano). Kisah ini diletakan dalam konteks pergolakan sosial-politik papua yang ingin merdeka, meski boleh dibilang tidak ada hubungan antara kisah tadi dengan pergolakan politik di papua, kecuali bahwa ayah Arnold adalah salah seorang aktivis penggerak pembebasan nasional west Papua. Tokoh sang gadis juga dibiarkan misterius hingga ke akhir film, penonton tidak pernah diberi tahun apapuan tentang gadis ini’. Sedikit tentang sisnopsis yang telah disediakan oleh sutradara.

Adapun analisis film :

Aspek sosial budaya

Film ini menceritakan banyak hal tentang interaksi masyarakat sehari-hari, menyelipkan juga unsur gereja (persekutuan seiman ) Kriten Khatolik di kota Jayapura. Menceritakan tentang gereja sebagai tempat mengakui dosa, tempat meratapi kesedihan, serta tempat refleksi untuk jemaatnya. Gereja juga sebagai tempat yang seharusnya membela hak-hak masyarakat yang sedang mengalami peninandasan. Namun dalam film tersebut gereja disitu sebagai tempat penghiburan setiap jemaat yang ingin mengakui dosa lalu memberitakan bahwa harus ada perdamaian dari setiap hari yang terluka.

Menceritakan juga aktivitas keluarga dari Arnold yang hidup dalam kesederhananaan dengan mengkonsumsi  makanan pokok yang hidup di pinggiran pantai (sagu dan ikan ).
Pada aspek budaya terlihat ketika masyarakat Papua berkumpul di Pusat kota Jayapura dengan berbagai atribut pakaian, asesories papua, mereka hadir saat-saat dimana Alm. Theiys H. Eluay sangat kuat perannya dalam mempersatukan suku-suku di Papua. Budaya kami memang memiliki beberapa perbedaan namun bagi manusia West Papua , satu nasionalisme yang mempersatukan. Salah satu bentuk benda nasionalis yang terpapar jelas di dalam film tersebut adalah bendera bintang fajar. Bahkan pada pengatar film ini garin menyuting satu adegan alm. Theys Eluay mencium bendera ini sebelum adegan pertama dari film ini mulai. Adegan ini juga seakan memberi makna sebagai ciuman terakhir alm. Theisy dalam film sebelum akhirnya beliau dibunuh.

Aspek politik

Theys Hile Eluay, tokoh Dewan presidium Papua. Sumber: Internet
Dalam film yang di edarkan 2003, bahkan beberapa adegan dalam film ini justru menceritakan tentang ayah arnold yang merupakan aktivis pembebasan West Papua selalu hadir dalam konggres papua, dalam konggres menyiapkan proklamasi negara West Papua. Media masa cetak maupun TV mengabarkan bagaimana seorang Theys ditangkap, dan diperiksa di kepolisian. Masa tegang tersebut membuat masyarakat west Papua tegang. Mereka menuntut tokoh adat dan masyarakat Papua untuk dibebaskan. Beberapa adegan memperlihatkan masyarakat Papua yang hendak pergi untuk aksi demonstrasi dihadang oleh orang tak di kenal , lalu di pukuli hingga tak bernyawa, ayah Arnold yang merupakan penari burung kasuari melihat hal tersebut lalu lari ke dalam hutan dan bersembunyi dalam baju burung tersebut. Saat itu ayah dari Arnold sedang diincar oleh beberapa orang tak dikenal yang menyerang rombongan truk. Adegan penyerangan truk juga dapat menjelaskan pembungkaman demokrasi di Papua, lalu menceritakan tentang banyak orang  west Papua yang telah dipukuli dan disakiti namun tidak ada media yang meliput atau laporan tentang hilangnya manusia west Papua. Keadaan ayah Arnold juga menginformasikan bagaimana sebenarnya alam dapat turut membantu menjaga dari ancaman niat jahat orang jahat.

Sosol Ibu Pertiwi. Sumber gambar: Internet
Sosok Lulu Tobing sebagai perempuan non-papua yang turun dari kapal putih di pelabuhan Jayapura, terlihat pada wajahnya keletihan, dan gunda yang dirasakannya saat tiba di pelabuhan. Di satu sisi Arnold dan Sonya sedang bermain di pelabuhan dan Arnold pun terpanah pada keindahan sosok lulu. Dalam diskusi lulu ditafsirkan sebagai ibu pertiwi yang sedang bersusah hati seperti lirik lagunya, dalam perannya juga lulu tampak takut dan terus berdoa, dilain sisi Garin memperlihatkan situasi papua yang memanas karena keadaan politik. Arnold yang merupakan anak dari seorang aktivis sekaligus harapan bapa dan mamanya untuk peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di west Papua. Namun Arnold terpukau dengan kecantikan Ibu Pertiwi, air matanya membuat Arnold benar-benar ingin menciumnya. Meskipun Arnold sebagai remaja yang masih polos tidak mengerti apakah itu air mata tipuan atau memang air mata kesedihan karena papua seakan tinggal menunggu waktu terlepas dari NKRI.  Dalam perjalanan keindahan Ibu Pertiwi menghipnotis Arnold hingga Arnold pun memberanikan diri untuk datang ke temat tinggal Ibu Pertiwi (lulu) untuk mencium air matanya, saat bersamaan adegan lain menceritakan bahwa alm. Theys Eluay di temukan tewas. Ciuman yang dilakukan Arnold mampu membuat Ibu Pertiwi kembali senang, karena ciuman itu bisa berarti ciuman kembali menjalin kasih bersama di pangkungan Ibu Pertiwi. Ketika Theiys meninggal seakan situasi politik di Papua mengalami perubahan yang sangat dratis, kesedihan menyelimuti hati setiap manusia west Papua. Pemimpin bangsa kami telah pergi sekarang kami hanya bisa merajut mimpi, dengan ciuman itu juga sebagai simbol terjalin kemestraan, sehingga diwujudkan dengan peran Lulu Tobing yang kembali pulang dengan menumpangi kapal putih dengan hati gembira. Namun, pesan lainnya bahwa ayah dari Arnold setelah sekian lama di hutan keluar dan menunjukan dirinya walaupun dirinya dalam ancaman dibunuh.

Aspek Pendidikan dan Perempuan

Film ini juga menceritakan tentang Pendidikan di sekolah formal, ketika ayah Arnold sebagai guru disana menceritakan tentang tentara komando west Papua juga memberikan refleksi mengenai Bangsa Papua. Pendidikan ini sangat penting untuk membangun kesadaran dan kepercayaan diri bagi manusia west Papua. Manusia west Papua mengalami kehilangan jati diri karena segala sesuatu tentangnya telah dibumi hanguskan oleh kejahatan negara. Sehingga di isi dengan pendidikan mengenal Indonesia yang tidak pernah di lihatnya. Pendidikan dalam keluarga juga turut membantu pengetahuan anak, bagaimana peran ayah dan ibu untuk memberikan pengertian atau mengajak diskusi mengenai persoalan Bangsa Papua saat ini.

Aspek Perempuan, mama dari Arnold merupakan sosok perempuan penyayang dibuktikan dengan selalu menemani dan berdoa untuk keadaan bangsa Papua. Mama juga mengerti keadaan dari bapa Arnold yang merupakan aktivis. Arnold pun terus diingatkan dengan kasih sayang tentang keadaan west Papua hari ini. Mama dari Arnold juga dalam film ini, pernah ditegus oleh bapanya karena menangis, menurut budaya orang asli Papua, tanah adalah mama, sebagai penyedia segalanya. Sehingga jika mama (perempuan ) menangis maka tanah ini tidak akan keras lagi, tidak akan subur lagi melainkan pecek dan tidak dapat di olah.

Perempuan lainnya adalah Sonya, Sonya adalah sosok remaja west Papua yang sedang jatuh cinta dan masih sangat labil.

Sonya menanamkan rasa kebencian terhadap perempuan non-Papua karena penindasan yang terjadi, dibuktikan melalui pengakuan dosanya di gereja.



Sonya memperlihatkan betapa diskriminasi yang terjadi terhadap perempuan papua sangat kental terjadi. Perempuan Papua dengan keadaan fisik , kulit lebih gelap, rambut keriting seakan tidak memiliki tempat di Televisi, model-model, iklan, film dan sebagainya. Hal ini juga yang dapat mengikis rasa kepercayaan diri dari perempuan Papua, rasa minder yang mendalam. Namun Pastor(di Gereja) memberikan saran untuk mengampuni dan hidup dengan cinta kasih.


Sosok Perempuan ketiga adalah Lulu Tobing (pada aspek politik sebagai Ibu Pertiwi). Ibu pertiwi ini juga dapat dikaitan dengan sejarah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipimpin oleh Perempuan yaitu Megawati soekarno putri pada tahun 2001.


Sosok Lulu Tobing juga dapat menjelaskan keadaan presiden saat itu yang meratapi keadaan bangsa Indonesia tanpa bangsa Papua, bahkan ketika ciuman yang diberikan Arnold (meskipun karena nafsu) membuat hati sang Ibu Pertiwi senang karenanya. Mungkin ciuman penghianatan yang dilakukan oleh ibu Pertiwi berhasil kepada Arnold yang justru mengharapkan ciuman mesra. Diskriminasi terhadap perempuan Papua akan terus berlanjut jika tidak ada pembebasan nasional west Papua.


Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Juga aktivis self-Determination

Komentar Anda

[disqus][facebook]
Gambar tema oleh duncan1890. Diberdayakan oleh Blogger.
Koran Kejora View My Stats