Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Doc.AMP Bali


korankejora -  Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali  (AMP KKB) telah melaksanakan pendidikan politik dan perekrutmen anggota biro selama 22 - 23 Maret 2023.

Pendidikan politik ini diselenggarakan selama dua hari dan kemudian selanjutnya di lakukan Perekrutan kawan  kawan baru untuk memperkuat di setiap biro sesuai dengan kebutuhan organisasi komite kota. 

Suasana pendidikan


Dalam perekrutan ini, AMP komite pusat Kawan Ampix dan  Muno juga ikut hadir dalam kegiatan pendidikan politik selama dua hari.

Materi yang di bawakan Tentang Sejarah perjuangan bangsa Papua barat dan beberapa materi dasar dan ideologis lainnya sebagai landasan untuk memperkuat Ideologi. 




Perekrutan kawan- kawan baru ini juga sebagai kader- kader organisasi. ini juga bermaksut untuk terus medorong perasatuan sebagai mimpi rakyat papua dan untuk terus berjuang demi mewujudkan cita-cita bangsa Papua barat yang sejati yaitu Papua Merdeka. 

Kemudian, setelah pendidikan politik di tutup dengan doa hadir dan penciuman Bendera yang dipimpin oleh kawan Ketua AMP komite kota Bali.

Terlaksananya pendidikan dan rekrutmen anggota biroo biro ini. Suasana terasa damai dan waja gembirah terus menghampiri di honai tua, Pilamo jayawijaya.


Pewarta:
Martin Agiprop Kk bali



 

Doc. Koran kejora


Korankejora - Aliansi mahasiwa papua Komite kota lombok melakukan pendidikan politik Amp tahap l dan rekrutmen anggota untuk menjalankan roda organisasi terlaksana dengan baik dari tanggal 05 dan 06 november 2022 di mataram Lombok.

Pendidikan politik AMP KK Lombok Tahap Satu dilaksanakan dua hari yaitu pada tanggal 5-6 november 2022 dengan Aman dan lancar.

Peserta yang terlibat Mengikut pendidikan politik tahap ke - satu, 17 peserta yang terlibat dan menerima materi pendidikan politik  selama 2 hari berturut turut.

Amp lombok yang sebelumnya di pimpin oleh Nyamuk karunggu sebagai ketua, nifrans dan kawan kawan lainnya akhirnya telah menggati kepemimpinannya pada 29 lalu di mataram unram, di situasi yang kurang memihak.

Proses pemilihan Ketua Komite Kota Lombok, dilakukan secara demokratis oleh peserta dikpol.  Terpilih Ketua AMP KK Lombok : Bernard M,  Sekretaris I : Naldo W, dan Bendahara: OKIN, Dan Biro-Biro Lainnya. 

Pendidikan politik hari ini, 05 - 06 November  juga telah di buat dengan tujuan untuk merekrutmen anggota baru agar terlibat dalam organisasi amp dan terus melakukan perlawan serta mengkaderisasi guna melahirkan kader kader yang militan dan revolusioner.

Dalam pendidikan ini, keanggotaan di rekrut demi melengkapi biro biro untuk melakukan aktivitas politik dan menjalankan roda organisasi agar nafas oraganisasi terus hidup dan lahir banyak kader yang siap melakukan perlawanan.

Secara resmi, Pengurus Komite Pusat – Aliansi Mahasiswa Papua (KP-AMP) Muno Gobay, Herry meaga ketua Amp bali dan Ketua pengurus Lama Nyamuk Karunggu, Ikut serta mengesahkan.

Dalam rileas yang di terima oleh media ini, selain Open rekrutmen. Amp lombok yang di bentuk sejak 2021 itu, mengalami banyak tantangan, godaan, agar organisasi ini tidak di bagun, hingga sampai saat ini organisasi mejadi demor dan pincang, saat wacana pembubaran amp, di lakukankan oleh negara dan intel intel. Dalam storysnya Amp lombok, sejak berdirinya AMP  di kota mataram di tolak Oleh IMMPA serta individu yang mengaku senior.

Nyamuk juga megalami, intimidasi, kriminalisasi, teror entah dari negara melalui kaki tanganya TNi porli juga inter intel mahassiwa papua itu sendiri di lombok demi membubarkan organisasi tersebut.

Namun hal ini tidak menjadikan alasan untuk diam, Nyamuk terus nyalakan api perlawanan di pulau beribu gempa lombok bersama solidaritas yang berjiwa kemanusiaan demi mejaga nafas organisasi agar terus hidup dan kebebasan haris di berikan kepada rakyat papua.

Dalam pantauan media ini, Ruang yang berwarna kuning, antara pemateri dan peserta saling memanasi, mengoreksi agar diskusi terus hidup, nyaman, aman dan lancar.

"Selamat Bergabung di dunia berapi, tidak ada seorang pun yang dapat menolong kita selain diri kita sendiri, budayakan Membaca, menulis, diskusi, aksi, refleksi. jadilah cahaya bagi semua orang" ungkap muno di sela sela doa hadir.

Dalam pantauan korankejora, Pendidikan politik di tutup dengan doa hadir dan penciuman bendera


R Kutub
doc.amp @korankejora


Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Front Rakyat Indonesia Untuk West Papua (FRI-WP), Carkrawala Muda Kerakyatan (CMK) dan Serikat Pembebasan Perempuan (SIEMPRE); meyelenggarakan Diskusi Publik Refleksi 3 Tahun Rasisme. Pada kamis, 18 Agustus 2022 waktu 17.00 mulai dari pukul 18.30 sampai selesai, di kontrakan puncak Papua Yogyakarta.

Rasisme adalah prasangka buruk berdasarkan keturunan bangsa. sebuah paham ras diri sendiri  ras yang paling unggul dan melihat dari perlakuan negara Indonesia terhadap rakyat Papua bahwa orang Papua dianggap sebagai manusia yang tidak layak hidup dan primitif. Anggapan seakan mereka saja yang dapat layak hidup dan kami manusia OAP (Orang Asli Papua) bukan manusia tapi binatang begitu....Rasisme itu melihat dari negara-negara yang pernah Jajah seperti Indonesia. Rasisme sudah ada sejak bangsa Papua masuk dalam kolonial Indonesia. Rasisme itu produk dari kolonial itu sendiri. Indonesia sudah merdeka tapi masih terjajah oleh Amerika, Inggris, Jepang, dan China dan negara imperialisme lainnya.

PT Freeport mensejahterakan suku Amume dan Kamoro bahasa yang di bangun oleh negara colonial. Mana buktinya?

Yang jelas terjadi di Papua adalah genosida dan penggungsian, tidak sejahtera, sisi ekonomi sosial, pendidikan budaya, dll.

Rakyat Papua adalah korban rasisme sepanjang perjuangan rakyat Papua bukan pelaku Rasisme.

Dan Melihat dari sejarah prasangka yang menganggap seolah ras tertentu (dibandingkan ras lainya) memiliki sifat maupun kelakukan buruk sebagai bawaan hakikat, biologis, maupun turun-temurun, sekaligus perseksusi atau pun penindasan penindasan sistematis berdasarkan prasangka tersebut. Rasisme dalam beberapa kasus juga diiringi mitos kemahaunggulan ras ras dari pelaku rasisme tersebut muncul dari perbudakan modern pada masa awal kapitalisme oleh para kapitalis Eropa dan Amerika untuk memperbudak kaum kulit hitam Afrika di perkebunan-perkebunan wilayah mereka. Dalam perkembangan, rasisme bukan lagi hanya menggunakan superioritas biologis, namun juga perbedaan etnis, budaya, dan bahkan agama. Rasisme demikian juga berkembang di Indonesia.

            Sejak awal perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan colonial Belanda, Bangsa Papua tidak pernah terlibat dalam pembentukan Negara-Bangsa Indonesia, baik itu melalui sumpah pemuda maupun dalam rapat-rapat BPUPKI dan PPKI. Para nasionalis Papua memproklamasikan kemerdekan pada 1 Desember 1961. Namun ambisi rezim Soekarno untuk meluaskan kekuasannya ke setiap wilayah bekas Hindia Belanda menggagalkan proklamasi tersebut dengan melakukan dengan operasi militer Tri Komando Rakyat (Trikora) di Alun-alun Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961.

Kemudian melihat lagi rasialistik yang dialami oleh rakyat Papua selama perjuangan, dan kembali melihat beberapa bentuk rasisme yang terjadi terhadap orang asli Papua (OAP). Hal itu terjadi karena mindset yang dibentuk dari para imperialis.

Mulai dari hinaan bentuk fisik seperti warna kulit, rambut, dan bentuk fisik. Bahkan diskriminasi di tempat belajar, tempat kerja, pengadilan, hingga tindakan intimidasi oleh aparat keamanan. Hampir seluruh manusia kulit hitam dibelahan dunia di diskriminasi hanya karena warna kulit.

Merebaknya protes anti-rasisme seperti Black Lives Matter, Papuan Lives Matter, dan yang terkini Stop Asian Hate adalah akumulasi kemarahan terhadap diskriminasi rasial yang melanggar hak orang sejak berabad-abad lalu, yang menyebabkan berbagai kesenjangan yang merugikan sampai sekarang.

            Mari kita kulik lebih jauh apa yang dimaksud dengan rasisme dan mengapa harus dibasmi tuntas. Rasisme adalah perbedaan perilaku dan ketidaksetaraan berdasarkan warna kulit, ras, suku, dan asal-usul seseorang yang membatasi atau melanggar hak dan kebebasan seseorang.

Rasisme juga sering diartikan sebagai keyakinan bahwa manusia dapat dibagi menjadi kelompok terpisah berdasarkan ciri biologis yang disebut “ras”. Gagasan ini juga menyakini ada hubungan sebab akibat antara ciri fisik suatu ras dengan kepribadian, kecerdasan, moralitas, dan ciri-ciri budaya dan perilaku lainnya, yang membuat beberapa ras secara ‘bawaan’ lebih unggul dari yang lain.

            Lilian Green, pendiri North Star Forward Consulting ( Konsultasi Lanjut Bintang Utara ), organisasi yang merekomendasikan kebijakan, praktik, dan prosedur untuk melawan opresi sistemik di AS, menyebut bahwa rasisme punya empat dimensi: internal, interpersonal, institusional dan sistemik.

Rasisme internal mengacu pada pikiran, perasaan dan tindakan kita sendiri, sadar dan tidak sadar, sebagai individu. Contohnya seperti mempercayai stereotip ras yang negatif, atau bahkan menyangkal adanya rasisme.

Rasisme interpersonal adalah tindakan rasis dari seseorang ke orang lain, yang bisa mempengaruhi interaksi publik mereka. Misalnya perilaku negatif seperti pelecehan, diskriminasi, dan kata-kata rasis.

Rasisme institusional ada dalam institusi dan sistem politik, ekonomi, atau hukum yang secara langsung atau tidak langsung melanggengkan diskriminasi atas dasar ras. Ini menyebabkan ketidaksetaraan kekayaan, pendapatan, pendidikan, perawatan kesehatan, hak-hak sipil, dan bidang lainnya. Misalnya, praktik perekrutan diskriminatif, membungkam suara orang dengan ras tertentu di ruang rapat, atau budaya kerja yang mengutamakan sudut pandang kelompok ras dominan.

Rasisme sistemik melibatkan institusi atau entitas berwenang yang menegakkan kebijakan rasis, baik di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, perumahan, pemerintah, dan lain-lain. Ini adalah efek riak dari ratusan tahun praktik rasis dan diskriminatif yang masih berlangsung hingga kini.

Pemikiran rasis bisa membuat seseorang punya prasangka buruk terhadap ras tertentu. Prasangka buruk ini bisa berdampak negatif terhadap orang yang terdiskriminasi. Bahkan rasisme mengawali banyak peristiwa mengerikan dalam sejarah dunia, seperti pembantaian Yahudi oleh Nazi.

            Rasisme memandang mereka yang berbeda sebagai bukan manusia, tapi objek yang bisa diperlakukan semena-mena. Di negara yang terbelah konflik rasial, penyiksaan dan perlakuan buruk sering menimpa kelompok yang menjadi target perilaku rasis.

Misalnya, di AS, meski setengah dari orang yang ditembak dan dibunuh polisi berkulit putih, tapi jumlah orang kulit hitam yang ditembak tidak proporsional dibandingkan komposisi demografi AS. Jumlah orang kulit hitam kurang dari 13 persen populasi, tapi yang dibunuh polisi lebih dari dua kali lebih banyak dibanding orang kulit putih.

Setiap satu juta populasi orang kulit hitam, ada 30 orang tewas ditembak polisi. Jumlah ini timpang dengan statistik yang menyatakan dalam setiap satu juta populasi orang kulit putih, 12 orang tewas ditembak polisi. Data ini mengindikasikan dugaan rasisme atau diskriminasi terhadap orang berkulit lebih gelap.

Hal ini dapat di saksikan tiap hari dimana rakyat Papua mati di tangan Militer, di rumah sakit, kecelakaan lari, keracunan makanan, pembunuhan, dan meninggal akibat operasi militer Indonesia.

            Diskusi ini menimbulkan analisa terkait Papua, untuk menyeselesaikan rasisme yang terkontruksi dalam pemikiran sistemik birokratis Indonesia serta cara superior melihat kekuasaan rasialis maupun jalan keluar bagi rakyat tanah air Papua Barat, mengenai Hak Menentukan Nasib Sendiri sebagai akhir rasisme di Tanah air Papua Barat. 

Penulis adalah Agitasi dan Propaganda Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta.

Editor: Komite Pusat AMP AGI-PRO




Koran kejora - Telah Terlaksana Pendidikan Politik(Dikpol) tahap-I dan Restruktur( mengisi kekosongan Struktur) Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Makassar(AMP-KKM) Bendehara dan biro-biro lainnya, pada tanggal 19-21 April 2022. 

Pendidikan Politik ini diikuti oleh kawan-kawan calon anggota(CA), Anggota aktif AMP KKM dan Perwakilan Komite Pusat, kawan Mark Pahabol.

Dalam pendidikan politik Tahap 1 ini juga di ikuti juga penyusunan bagian struktur yang kosong yakni Bendahara dan biro biro untuk kerja kerja penyadaran

Atas kesepakatan kolektif  Komite Kota Makassar memutuskan bahwa bendehara kawan Yelvin Yare diganti dengan Mila Soll kemudian disusul dengan biro-biro yang kekurangan kawan. 

Selanjutnya untuk calon anggota(CA) yang telah mengikuti pendidikan Politik tahap-I, selamat bergabung bersama AMP KK Makassar .Tugas kita adalah belajar dan melawan untuk pembebasan nasional Papua Barat.


Reporter:

Agitasi dan Propaganda Amp kk makasar

Doc. Koran kejora Aliansi mahasiswa Papua, Amp kk malang.


Terlaksananya Pendidikan Politik tahap 1 Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Malang, pada 12-13 Februari 2022, Malang jawa timur. 

Dalam pendidikan politik tahap satu tersebut Peserta  Dikpol di bekali materi sejarah gerakan papua, sejarah gerakan mahasiswa, investigasi sosial (isak ) dll.

juga seuasi pendidikan politik, peserta/massa juga telah mengisi kekosongan dalam biro-biro  untuk bersama melakukan kerja-kerja Perjuangan demi mewujudkan cita-cita Rakyat Bangsa West Papua.

Dalam pendidikan politik tahap l, di hadiri beberapa pelopor komite kota juga Komite pusat Aliansi mahasiswa papua (KP AMP),

Pendidikan juga di laksanakan demi membangkitkan dan memajukan Pelopor Revolusioner, Progresif dan Militan sebagai kaum terdidik yang sadar serta semangat moril juang cinta atas Tanah dan Alam Leluhur Moyang tulang belulang Bangsa West Papua.

Melihat dinamika realita objektif di tanah air sedang tidak baik-baik saja, eksis penjajahan, wajah kolonialisme terus mendominasi Alam Papua, militerisme masif dan berbagai operasi militer di seluruh Tanah Papua. Hal ini menjadi beban moril Mahasiswa Papua dengan kesadaran yang seutuhnya agar tumbuh jiwa pemberontak yang berdiri dan melawan Imperialisme, Kolonialisme, Militerisme serta Seksisme.

Selamat bergabung untuk kawan kawan yang telah mengabil bagian.


"Panjang umur hal hal baik.

Panjang umur perjuangan".


Salam pembebasan.

Salam revolusi


Reporter

 Elroy W - Biro Agitasi dan Propaganda, AMP KK MALANG  


Photo saat Usai Diskusi
AMP KK Bali
Pembawa Materi: Joice U
Moderator: Zanches T
Notulensi: Yesaya G

Kronologis.

Diskusi Aneksasi bagi  bangsa Papua Barat 01 Mei 2020  yang di lakukan di kontrakan  Yamewa Bali tersebut didatagi Intel, TNI /PORLI  berpakayaan lengkap, Intel serta Banjar setempat hingga datang  membubarkan sebelum dua (2) jam kemudian akan memulai diskusinya, tindakan yang dilakukan Aparat juga  tanpa memberi surat pemberitahuan ke pada pihak pengghuni dan juga mendobrak pintu pagar tersebut tepat pada Pukul 13:14 WITA Siang di asrama Yamewa Bali.

sebelumnya tanggal 30 April 2020 malam memasuki tanggal 01 Mei 2020, tepat Pukul  12 :11 WITA malam pihak kepolisian mengutus beberapa intel datang memantau di Yamawe, sambil bernegosiasi degan warga setempat yang ada di sekitarnya, intel-intel tersebut juga memantau aktivitas pengghuni di asrama selama malam memasuki 1 mei itu dan memarkirkan mobil Polisi Patroli di samping Asrama Yamewa.

Kemudian Pukul 13: 44  tepat tanggal 1 Mei tersebut pihak aparat kurang lebih  sembilan (9) orang berpakaaian lengkap mendatagi  kontrakan Yamewa hingga membuat keributan di depan asrama untuk memancing situasi dan membuat penghuni Yamewa  dan warga setempat salih baku tidak senang,  kemudian sekitar beberapa menit kemudian Pukul 13: 51 WITA,  Polisi membuka pintu pagar yang sebelumnya di kunci tersebut, namun kami tidak memberikan izin untuk mereka masuk karena tidak ada surat izin yang mereka bawah sebagai barang bukti tersebut.

Numun Pukul 14: 03 WITA kemudian pagar yang di tutup tersebut di buka oleh pihak intel yang sebelumya sudah saling negosiasi degan banjar tersebut untuk merencanahkan hal yang tidak di inginkan, tepat Pukul 14: 03 WITA itu  juga;  kami telah diperhadapkan degan banjar-banjar yang telah di panggil oleh TNI/PORLI tersebut, kemudian  setelah pihak aparat membuka pintunya secara paksa dan saling bertatap muka dengan warga setempat . Kemudian ada pihak Aparat mencaritahu pihak tuan kontrakan Yamewa tersebut hingga menelpon dan menyuruh untuk datang  mengatasi masalah degan Mahasiswa Papua yang ada di Yamewa tersebut tepat Pukul 14: 14 WITA;  hingga terjadi di adu dombakan degan pihak warga setempat. Beberapa jam  di perhadapkan degan banjar setempat dan pihak kontarakan, sedangkan aparat hanya santai dan melihat hal ini semacam biasa.

Pada pukul 14: 25 WITA tersebut Pembicaraan mulai tidak terarah dan Intel-Intel memprovokasi warga masyarakat yang ada dan  juga provokasi tuan kontarakan agar dapat membenci pengghuni kontrakan Yamewa Bali. Pukul 14: 30  kemudian Banjar, Intel juga tuan kontakaan meminta nama-nama penghuni Yamewa katanya “degan alasan agar kami tahu siapa saja penguhi di sini dan berapa jumlanya” pada hal pernah memberikan kepada pemilik kontrakan, namun sempat mengatakan bahwa akan di kasih ketika pihak kepolisian, intel-intel pergi dan akan berbicara sesuai kekeluargaan setelah TNI/PORLI,  Intel bersama tuan kontarakan mereka pergi, dan negosiator mengatakan “kami tidak bisa kasih saat ini apalagi bicara, saat ini kami lagi trauma melihat mereka berpakaiyaan lengkap di depan Kita”.

Namun karena desakan oleh TNI/PORLI tersebut, tuan kontakan bersama beberapa intel menggeluarkan beberapa  kata yang tidak berkenan hingga pemilik kontrakan berbicara soal akan  berakhirnya kontrakan, hingga mau mengeluakan dari kontrakannya.

Namun Pukul 14: 37 WITA kemudian pembicaran sudah mulai tidak terarah sempat negosiator  mengatakan “kami bilang ini bukan berbicara masalah untuk kontrakan, meperpendek dan panjang tetapi ini masalah untuk membatalkan diskusi jadi jagan tarik kesana sini” kemudian tuan kontrakan pun mendesak untuk “ketua segera memberikan nama-nama dan identitas bahkan untuk tandatagan surat perjajian tetapi kami tolak karena semua identitas sudah pernah kami kasih di ibu kontrakannya tersebut akhinya beberapa kawan bubar dari kontrakan Yamewa”.

Kemudian karena melihat pembungkaman ruang demokrasi tersebut tepat Pukul 14:40 WITA Kemudian, mengahlikan tempat diskusi tersebut dan kemudian sebagian mengikuti diskusi tersebut yang akan dimulai Pukul 15: 00 WITA  tersebut dan beberapa kawan kawan menjaga kontrakan Yamewan karena beberapa intel belum pulang dari yamewa tersebut namun hingga Pukul 18:02 WITA malam kemudian, intel tersebut pergi dan meninngalkan asrama.

Namun unutk soal indentitasnya yang di minta oleh tuan kontrakannya akan lanjutkan pembahasannya tanggal dua (2) besok,. Setalah persoalan pembungkaman ruang demokrasi di Asrama tersebut dan pengalihan tempat dilakukan di Asrama selain Kontarakan Yamewa. Kemudian, dibawa ini adalah hasil diskusi menyikapi tentang 01 Mei 2020 sebagai hari Aneksai Bangsa Papua Barat yang ke-57 Tahun.

Diskusi di mulai pada pukul 15:00 WITA
Materi yang dibawakan tentang  “Sejarah aneksasi Bangsa West Papua oleh kolonial Indonesia [01 Mei 1963], sejarah kemerdekaan bangsa PapuaBarat, Manivesto perlengkapan kebangsaan Papua Barat, Operasi militer menjelang 01 Mei 1963, Alasan mengklaim Bangsa Papua Barat oleh Ir. Sukarno DKK. Pengaruh Imprealisme di Asia Tenggara, Perjanjian Ilegal The New York Agreement 15 Agustus 1962 dan The Roma Agreement pada 10 September 1962. Pengertian Intergrasi dan Aneksasi.

Hasil dari sesi diskusi

Dalam sesi diskusi ada beberapa pembahasan bahwa pada saat Proses Trikora juga merupakan beragam kontradiski yang terjadi soal militerisme dan kepentingan negara-negara yang ingin kuasai tanah bangsa West Papua. Dan lahirnya banyak cengkaraman gaya kolonial seperti rasisme hingga pada pembungkaman ruang demokrasi.

Kembali lagi bahwa soal perjanjian-perjanjian yang dilakukan tanpa keterlibatan rakyat Papua Barat dan secara tersembunyi dilakukan perjanjian-perjanjian atas nama rakyat bangsa Papua Barat. Selain itu,  tentang mengklaim wilayah Papua Barat,  Indonesia terus mengklaim terjadi sejak Tahun sebelum 1960-an. Dan itu juga bahwa proses perjanjian dijalankan dengan eksploitasi yang akan dikerut di wilayah Papua Barat mulai saat Belanda menguasai Papua Barat. Dengan secara nyata, sejarah dan gerakan rakyat Papua Barat dengan sesungguhnya di bungkam selama proses aneksasi bangsa Papua Barat. Dan ketentuan yang dibuat dijalanan melalui kondisi perjanjian yang manipulatif. Namun, itu dengan nyata di langgar secara politik dan budaya bangsa Papua Barat dari hukum Internasional maupun hukum kolonial Indonesia.Pembelajaran sejarah yang terstruktur harus memahami soal terbentuk-nya bangsa Papua barat, prasejarah rakyat Papua Barat dan sampai hingga ini tenatang gejolak kolonialisme. Perjuangan sejarah merupakan salah satu impek perjuangan untuk menikdaklanjuti tentang sejarah pradaban Papua Barat. Kembali lagi bahwa sejarah Aneksasi dan Intergaris perlu dipetakan untuk perjuangan keberlanjutan generasi saat ini dan memahami bangsa Papua Barat harus dibawa kemana. Dalam Sejarah Indonesia mengatakan bahwa Intergrasi Papua Barat adalah Indonesia mengusir Belanda dari tanah Papua Barat Namun rakyat Papua barat melihat bahwa itu adalah Aneksasi tanpa keterlibatan Rakyat Papua Barat.

Maka Pandangan Indonesia mengembangkan Ideologynya di Papua Barat terutama melalui pendidikan tentang soal sejarah Indonesia yang sebenaranya terhadap bangsa Papua Barat dan itu memang terlihat di dunia Pendidikan di Papua Barat. Ideologisasi merupakan konsep utama yang sedang dikembangkan oleh Indonesia di tanah Papua Barat seperti “harus menghapal Pancasila, Lagu Indonesia Raya, memakai Pakaian Merah Putih dll, meskipun di teritory Indonesia mempunyai sejarah tersendiri yang berbeda dengan bangsa Papua Barat yang tak terpisahkan. Jati diri-nya Indonesia terus di kembangkan di Papua Barat melalui beragam cara system Pemerintahan Indonesia. Selain itu, catatan sejarah yang tidak pernah akan dilupakan adalah seperti Operasi koteka Tahun 1970-an merupakan Militer melakukan Operasi Koteka dimana Koteka sebagai Pakaian adat harus di gantikan dengan Pakaian kain terutama di wilayah Pegunungan Papua Barat [Wamena, dll]. Inilah system Indonesia di tanah Papua Barat.

Selanjutnya, setalah 01 Mei 1963, ada juga terjadi soal PEPERA [Penentuan Nasib Sendiri] yang penuh dengan maipulasi tanpa mengikuti prosesdur Internasional untuk hak penentuan nasib sendiri; sebelum PEPERA 1969 dilaksana ada sekelompok orang dibawa ke Jakarta yang di pilih untuk melakukan MUSYAWARA, namun apa yang terjadi Pihak Indonesia  menamkan Ideologi Indonesia untuk saat ketika PEPERA berlanjut harus memilih bergabung bersama Indonesia (NKRI) dan sebagain yang tidak ingin memilih terjadi teror, Intimidasi, Penganiyaiaan serta beragam ancaman apabila tidak memilih Indonesia dan itu memang terjadi bahwa sebagian rakyat Papua Barat di hilangkan oleh Pihak Indonesia.

Sebuah kontek yang lebih baik adalah dalam pengembangan sejarah Papua Barat itu kembali pada rakyat Papua Barat untuk menuliskan, mendiskusikkan, serta memahami untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan bangsa Papua Barat untuk penyadaran yang luas tanpa pandang kelas. Pada hari ini, juga kita bisa merasakan soal 01 Mei ini mempunyai ketegangan kolonial di Papua Barat dengan militersime, eksplotasi, dan pembungkaman ruang demokrasi, rasisme, kekerasan fisik militerisme dan pengembangan pembodohan Ideology Indonesia di Tanah Papua Barat. Proses ini, merupakan ketidakadilan terjadi yang tanpa tiada akhirnya.

Dalam memepertahankan kemerdekaan itu dengan  sesunggungnya telah  di capai oleh rakyat Papua Barat sejak dahulu, tetapi bangsa lain menduduki Papua Barat dengan alasan penuh untuk kepentingan kekuasaan kekeyaan alam Papua Barat terutama negara-negara yang mempunyai beragam eksploitasi.

Tidak lupa bahwa tentang Kenendy serta Sukarno mempunyai cerita tersembunyi tentang sejarah Papua Barat dan kekuasaan sumber daya alam Papua Barat, kedua Pemimpin ini telah mengatur strategy menguasai Papua Barat seperti perjanjian eksploitasi alam di Papua Barat (PT.Freeport,dll), mengatur tentang Perjanjian The New York Agreement, The Roma Agreement serta menghadirkan UNTEA di Papua Barat, Melakukan PEPERA 1969 yang manipulatif.

Dengan cara itu, Maka hari ini harus di gagas soal bagimana mempertahankan sejarah perjuangan bnagsa Papua Barat di tangan Rakyat serta yang ingin mengtahui tenatang Papua Barat tersebut. Dengan beragam manipulasi yang dilakukan tenatang bangsa Papua Barat dan hari ini, desakan Rakayat Papua Barat tersu masih memperjuangkan Hak Penentuan Nasin sendiri sesuai Manivesto 1961. Dan sebagian dari rakayat Papua Barat memepunyai pertanayaan bahwa Apakah Papua Barat harus Refrendum ulang atau tidak, ataukah harus Pengakuan oleh Indonesia serta sekutunya yang telah manipulasi sejarah Papua Barat?. Ada beberapa tanggapan bahwa bila Refrendum harus di lihat dengan jumlah Populasi rakyat Papua Barat, ketentuan Refreendum dalam kepihakan, pengendali dan siapa yang harus bertanggung jawab. Sedangkan pengakuan adalah merebut kembali sejarah yang telah direbut kemudian di kembalikan ke tangan rakyat secara demokratis. Tetapi tahapan perjuangannya Merdeka antara Pengakuan dan Refrendum sama namun, proses perjuangannya sangat berbeda merebut itu. Maka, catatan penting juga soal Refrendum atau kah Pengakuan merupakan harus kodisikan dengan system kolonial Indonesia, Implementasi Internasional  dan arus deras kekuasaan bangsa luar di Papua Barat maupun konteks hari ini. Maka, subjek yang perlu di pahami dari kedua pandangan ini.

Dalam rabik sejarah bahwa 01 Mei merupakan hari buruh Internasional yang selalu dirayakan oleh belahan dunia dan bagi bangsa Papua Barat merupakan hari aneksasi yang kini berlanjut sedang dijajah Indonesia saat ini. Telusuri kembali saat Belanda berkuasa di Papua Barat selama 64 tahun (1898-1962) dan  penjajahan Belanda beda jauh dengan penjajahan Indonesia hari ini. Belanda mendidik Rakyat Papua Barat dengan cara halus tanpa kekerasan namun ekonomi dikuasai oleh Belanda serta mengkaliam Papua Barat bagian dari kerajaan Belanda, sedangkan Penjajahan Indonesia yang 58 Tahun (1961-2020) prakteknya di Papua Barat pendekataannya dengan militer dan kekuasaan ekonomi secara fisik.

Kedua kondisi ini, harus mampu untuk diliterasikan untuk pemahaman luas dan melawan system kolonialisme yang masih mencekam. Jadi, kewaspadaan dan pertimbangan ini terus menjadi reaksi bagi rakyat Papua Barat yang masih memperjuangkan Hak Penentuan Nasib Sendiri. Tidak pada tahapan ini saja, tetapi hari ini perjuangan TPNPB serta organ gerakan kiri yang sedang terus memperjuangkan untuk Hak Penentuan Nasib sendiri di tangan rakyat Papua Barat. Selanjutnya juga, selain 01 Mei; ada juga tentang Produk-produk kolonial seperti PONXX 2020 yang akan di jalankan di Papua Barat, pembangunan rumah ala penguasaa, pembangunan pos-pos militer yang berdekatan,pemekaran-pemekaran baru serta lainnya. Proses pengembangan sejarah itu sangat kontitusional bagi setiap orang untuk mempelajarinya dan membeda serta ontekstualisasikan sesuai prexisme rakyat Papua Barat.

Melihat hal ini di Papua Barat, semenjak sesudah di aneksasi oleh  Indonesia, semenjak itulah  orang Papua Barat masih di anggap primitif karena saat itu sebelumnya juga telah membuktikan saat The New York Agreement 15 agustus 1962 dan Roma Agreement 30 September  1962  tidak ada ketelibatan rakyat Papua Barat di dalamnya saat itu. Nah hal ini yang membuktikan juga bahwa aneksasi west Papua Barat tersebut di buat atas kepentinggan  kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme di atas tanah Papua Barat itu sendiri.

Hinggah hari ini bagi Rakyat  Papua Barat secara umum mengetahui Indonesia menganeksasi bangsa Papua Barat namun dalam sisi lain indonesia masih keliru dengan aneksasi,  hal ini harus diketahui  hingga memberi pelajaran kepada rakyat Papua Barat bahwa Rakyat Papua sendiri harus sadar dan menuliskan sejaranya, berdiskusi juga bercerita tentang semua pelaggaran HAM [Hak Asasi Manusia] yang terus terjadi di atas tanah Papua Barat

Anekasi ini juga memberi sebuah tantagan juga kewajiban yang harus di lakukan di Papua Barat, hal ini agar Rakyat Papua Barat terus menyuarahkan juga menolak semua produk-produk kolonial yang di jalankan di West Papua karena ini sebagai tanda penolakan terhadap Aneksasi tersebut karena ini merupakan pemaksaan yang telah di lakukan oleh kolonial Indonesia dan indonesia memandang ini sebagai integrasi serta menjalankan bisni Imprealisme, Kapitalisme, Kolonialisme di tanah Papua Barat.

Sekian dan Terimkasih!

Denpasar Bali, 1 Mei 2020


Photo saat Intel dobrak masuk 01 Mei 2020


kondisi kesehatan Suku Korowai. sumber gambar: majalah akar rumput

Siaran Pers

Selamatkan Korowai Sesuai Hak Sebagai Warga Negara Indonesia

Korowai memiliki kekayaan masalah yang begitu unik. Beragam masalah sudah cukup lama menyelimuti masyarakat di dataran Selatan Papua ini. Selama bertahun-tahun mereka hidup dan jauh dari kata berkembang dan maju. Penyakit yang paling sering mereka alami itu seperti anak Puti Hatil (3) menderita, yakni; bisul, malaria, gizi buruk, kulit gatal-gatal.

Masih banyak lagi penyakit lain, diantaranya; kaki gajah (filariasis), batuk berdahak, demam, kelaparan, dan lain sebagainya. Penyakit yang disebutkan diatas, semua kalangan masayarakat, dari usia kecil sampai tua mengalami hal yang sama. Mereka ini terkesan punya kewajiban untuk  harus mendapatkan penyakit.

Kelihatan, macam ada sesuatu yang “melarang” mereka hidup sehat dan mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan karena isu kanibalisme yang selama ini menghantui orang, akan tetapi memang tidak ada orang yang tergerak hati untuk hidup bersama dan siap sedia untuk melayani mereka.

Sebenarnya itu soal kepedulian yang amat minim. Orang tidak berani masuk dan hidup dengan mereka dengan waktu yang cukup lama. Banyak orang yang sering pergi kesana, tetapi bukan untuk melayani dan hidup dengan mereka sama-sama. Orang pergi hanya untuk foto dengan mereka dan potret Lou Logobul Of milik masayarakat. 

Sungguh, mereka tidak bisa mencari kesembuhan segampang mereka mencari pisang, parut sagu dan berburuh binatang liar sebagai makanan utama. Barangkali, daun gatal adalah satu-satunya ramuan tradional yang bisa mereka andalkan selain tua-tua adat.

Mereka hanya bisa mendengar dari para penginjil, bahwa di daerah lain punya Pustu, Puskesmas dan rumah sakit yang dilengkapi dengan obat-obatan, suntik dan segala peralatan medis lainnya. Bakal dilengkapi pula dengan perawat dan dokter yang punya semangat untuk hidup bersama masyarakat. Namun mereka tidak tahu semua itu yang bagaimana dan seperti apa sebenarnya.

Mereka itu tahu Pustu, Puskesmas, sekolah dasar itu dari bangunan yang tidak berfungsi dari hasil karya misionaris dan pemerintah. Selain itu, mereka tahu karena melihat langsung dari bangunannya yang dipenuhii rumput dan pohon, tapi juga karena dikuasai oleh hewan dan binatang liar.

Mereka juga tahu kalau orang diluar itu tahu baca, menulis dan menghitung dari seorang  fotographer, peneliti antropolog, pembuat film dokumenter, tetapi mereka tidak tahu kapan mereka akan melihat itu bahkan bisa sekolah langsung. Ketika mendengar itu, mereka punya keinginan besar untuk merasakan itu, terutama TK, SD, SMP, SMA/SMK dan sampai di perguruan tinggi.

Tetapi mereka tidak tahu wujudnya, prosesnya bahkan juga  tidak pernah merasakannya. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan, mereka hanya mengharapkan, mengharapkan dan mengaharapkan. Maksudnya mengharapkan orang yang mau tinggal lama-lama di Korowai, yang bisa melayani mereka di bidang kesehatan dan pendidikan.

Orang Korowai tidak tahu itu siapa yang akan datang dan tinggal lama-lama untuk melayani mereka.  Saat ini kondisi fisik mereka butuh perhatian khusus. Mereka harus dan wajib diperhatikan seperti masyarakat Indonesia di wilayah lain. Sebab, mereka adalah warga negara yang memiliki hak sejak lahir sampai saat ini.

Saat ini, masih banyak orang terus menderita di tengah hutan, Selatan Papua itu. Jarak antara masyarakat dan semua pihak sangat langkah. Sehingga, dapat dipastikan bahwa secara umum kesehatan masyarakat di Korowai  tidak akan pernah membaik. Mereka akan terus mengalami penyakit yang sulit diatasi oleh masyarakat sendiri.

Kontak hubungan dengan orang Barat dapat terjadi pada 1978 di Yaniruma, perbatasan antara Korowai – Kombai. Peristiwa itu sama seperti orang Papua di wilayah lain yang menjalin komunikasi dengan orang asing dan pendatang. Tetapi kemajuan di daerah ini sangalah lamban bahkan sama sekali belum menunjukkan perubahan yang begitu signifikan.

Jika dibangdingkan, wilayah lain Papua sekalipun dikenal daerah tertinggal dari semua sektor pembangunan,tetapi minimal bisa lihat perubahannya. Namun prihatinya masyarakat di wilayah ini sangat disayangkan. Persoalan dasar di daerah ini dua hal, pendidikan dan kesehatan. Tetapi keduannya, tidak memiliki akses yang terbuka bagi mereka. Sungguh ini amat ironis.

Bayangkan, dari tahun 70-an misionaris Gereja Reformasi, Johannes Veldhuizen banyak mendirikan pos-pos pendidikan dan kesehatan di Kouh, tapi semua sudah tidak berjalan lagi. Pos-pos tersebut hilang tanpa jejak yang jelas. Pelayanan kesehatan dan pendidikan di Kouh mati total, saat pemerintah Indonesia mengambil alih kekuasaan di Irian Barat dari tangan Belanda.

Kemenangan Indonesia dalam pelaksanaan PEPERA 1969, membawah malapeta bagi masyarakat Korowai-Kombai. Dimana pos kesehatan rawat jalan dan pos-pos pendidikan darutan tidak berjalan lantaran misionaris Belanda itu meninggal Yaniruma. Kepergian itu membawah semua niat baik untuk hidup bersama dan terus melayani masyarakat.

Semua hilang di telang hutan dan waktu saat Indonesia mulai masuk di daerah Kouh,Korowai-Kombai. Indonesia mendorong pendudukan pertama dengan memekarkan 1 administrasi pemerintahandistrik di Kouh dan dikepalai oleh Daminikus Amutapai. Memasuki 2000, kini banyak pemekaran yang muncul bagaikan jamur dimusim hujan.

Meski demikian. kesehatan masyarakat tetap semakin parah. Banyak rang yang lahir tetapi banyak juga yang meninggal dunia. Buta aksara pun demikian, banyak anak-anak kecil yang seharusnya sekolah tetapi dari waktu ke waktu mereka tinggal berburuh di hutan. Belum adanya sekolah, mengakibatkan semua orang di Korowai  tidak sekolah.

Persoalan kesehatan dan pendidikan di wilayah ini hanya menjadi permasalahan penting dalam merumuskan program pembangunan jangkah pendek,menengah dan panjang di masing-masing kabupaten, provinsi Papua dan pemerintah pusat. Namun mereka terkesan menjadi objek pembangunan semata, sama sekali tidak menikmati  manfaat sebagai warga negara yang mempunyai hak untuk hidup layak, sehat, dan mendapatkan akses pendidikan yang secukupnya.

Syukur, karena pada 23 Oktober 2017, pemerintah pusat melalui menteri kesehatan dikabrkan akan menyambangi di dataran rendah ini. Pemerintah daerah, baik dinas kesehatan Papua dan kabupaten Yahukimo, Boven Digoel, Asmat, Mappi dan Pegunungan Bintang juga disebut-sebut akan menghampir masyakarat sesuai pemekaran kampung dan distrik masing-masing.

Hal ini disusul dari kasus Puti Hatil yang menjadi viral akibat luka di pipi kiri yang terbolong. Banyak media dan sejumlah pihak terkait senantiasa mendiskusikan kasus Puti yang tak kunjung sembuh cepat. Buah Hati bapak Daniel Hatil (30) itu masih dirawat di Rumah Sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura.

Bocah kecil asal kampung Afimabul itu masih belum oprasi, karena HBnya masih rendah. Ia bersama ibunya Lanol Mauf (24), adiknya Bertha Hatil (1) dan Thomas (15) masih berada di rumah sakit dari 03 Oktober – sekarang. Luka Puti, sungguh mengetuk mata, telinga dan hati semua pihak yang selama ini belum mengetahui kesehatan masyarakat di wilayah persimpangan 5 kabupaten ini.

Kali ini, pemerintah patut diapresiasi karena dalam waktu dekat akan ke Danowage, selanjutnya akan kelilingi setiap pemukiman masyarakat di dataran rendah itu. Dinas kesehatan berencana akan menyewah pesawat yang begitu mahal. Dikabarkan, bahwa pemerintah akan mengirim tim terpadu yang berasal dari dinas kesehatan Papua dan 4 kabupaten (Yahukimo, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi).

Bakal dari wilayah Meepago,yakni kabupaten Paniai dan Intan Jaya juga dikabarkan siap membantu. Selain itu, dikabarkan juga kalau meneteri kesehatan RI akan kesana bersama rombongan tim yang diutus langsung dari presiden Joko Widodo. Pemerintah akan hadir dengan SDM dan sarana prasarana termasuk bahan makanan.

Di dalam tim terpadu itu, akan ada perawat, dokter dan selaga peralatan medis yang diperluhkan. Disamping itu akan menempatkan petugas selama 7/8 bulan. Namun tim terpadu itu rupanya tidak melibatkan semua pihak yang terkait, mislkan tim peduli, pemerhati kesehatan dan pendidikan, LSM, Akademisi, Tokoh Agama dan pihak lain yang mempunyai peran pentingnya.

Menjelang kunjungan menteri kesehatan RI, Nila Moeloek dan tim terpadu ke Korowai; kami,Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan Rimba Papua (TPKP Papua) menyampaikan dengan hormat:

1. Pemerintah perluh perhatikan secara penuh selama Puti Hatil menjalani pengobatan di Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH), Waena, Jayapura. Singkatnya, dengan harapan agar dapat mengalokasikan dana,jika tidak keberatan dari dana KPS, DAK, dan lainnya. 

2. Membiayai dan mengobati keluarga Puti Hatil, yakni Bapak Daniel Hatil, Ibu Lanol Mauf, Adik Bertha Hatil dan Thomas, termasuk membiayai kebutuhan makan dan minum selama di rumah sakit. Berobat terlebih dahulu, sebelum mereka ke kampung.

3. Melibatkan semua pihak dalam tim terpadu, untuk gotong royong mendorong kesehatan dan pendidikan masyarakat di suku Korowai.

4. Menempatkan petugas medis, perawat dan dokter lebih dari 7/8 bulan dengan catatan mendirikan Pustu dan Puskesmas di setiap basis pemukiman warga yang ada di setiap kampung dan distrik.

5. Mendaftarkan secara resmi, SD Simson Samuel Awom Brukmakot yang dibangun oleh Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedaat Papua), ke dinas pendidikan pemuda  dan olah raga di kabupaten Yahukimo. Menjadikan sekolah tersebut berbasis asrama yang dilengkapi segala sarana dan prasarana.

6. Menempatkan guru yang memiliki kepedulian, semangat melayani yang kuat, siap hidup bersama masayarakat pedalaman, baik di SD darurat yang dibangun Kopkedat Papua maupun Donowage yang sedang menjalankan proses belajar mengajar. Tetapi juga menempat guru untuk semua basis sekolah yang sudah tutup dan tidak ada aktivitas belajar mengajar.

7. Pemerintah memperhatikan semua anak-anak Korowai, Kombai, Kopkaka dan empat suku lainnya, yang tersebar di Jayapura,Jawa, Bali, Manado, dan Wamena. Mereka adalah orang-orang pertama yang harus dan wajib diperhaikan terutama biaya pendidikan sampai mendapat gelar sarjana.

8. Membuka lapangan terbang (bukan infrastruktur jalan dan jembatan) ke setiap kampung atau daerah yang sulit dijangkau oleh semua pihak terkait. Sehingga kedepan mempermudah akses bagi pemerintah, pemerhati kesehatan dan pendidikan tapi juga untuk masyarakat sendiri.

9. Pemerintah pusat, provinsi dan masing-masing kabupaten wajib memberikan kebijakan khusus di bidang kesehatan, pendidikan infrastruktur lapangan terbang, serta membangun perumahan sehat dan sanitasi  air bersih dengan menyusun program jangkah pendek, menengah dan panjang.

10. Jika pemerintah berkenan, membagi alokasi dana dari Otsus, APBD, APBN, DAK dan lainya pada dua jalur:
a. Pertama, bagi satu ke kas pemerintah daerah dari 5 kabupaten untuk menjalankan tugasnya di wilayah yang tertinggal ini.
b. Kedua, kasih ke setiap penginjil (penginjil dan misionaris) dan komunitas peduli kemanusiaan yang sementara bekerja bakal merangkap sebagai guru dan tenaga medis yang bukan resmi.

11. Jika 10 poin diatas tidak mempertimbangkan secara bijak. Kami berpikir begini Ibu Bapak yang kami cintai dan banggakan: “lebih baik kita tidak tidak usah bicara banyak, tidak pergi menghampiri mereka, diam seribuh kata bahasa, dan merenungkan baik sampai 37 tahun lagi. Barulah kembali menyinggung dan selamatkan mereka lagi. Semoga mereka kita menganggap yang utama dan terutama seperti kita anggap kita sendiri dan orang penting.”

Catatan akhir: Jika ada kekeliruan dengan siaran pers ini, silahkan menghubungi contact person atau alamat ini. Nomor Handphone: 0821 8935 1093 (Yan Akobiarik), 0813 1406 0428 (Norberd Bobii), dan 0821 9978 6700 (Soleman Itlay). Alamat email: dani.tribesman@gmail.com. Alamat halaman atau groaup di Facebook: Kopkedat Papua dan TPKP Rimba Papua. 

Demikian siaran pers dan pernyataan, kami sampaikan dengan penuh harapan agar bekerja sama sampai titik perubahan jatuh di seluruh dataran rimba Korowai, Papua.
Jayapura, 20 Oktober 2017

Hormat Kami,
Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat Papua) Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan Rimba Papua (TPKP Papua)


Yan Akobiarik             Soleman Itlay
Ketua                      Sekertaris



Pembebasan kolkot Ternate: sedang gelar lapak baca di kampus FKIP.

Ternate, 4 September 2017, kampus FKIP dilangsungkan agenda (Lapak Baca) yang
dilaksanakan oleh kawan-kawan Pembebasan Nasional. Agenda tersebut adalah bagian
dari program organisasi menuju pendidikan politik nantinya.

Dimulai pada pukul 08.00-15.52 wit. Lapak Baca sudah mulai berlangsung. Semua kawan-
kawan diwajibkan membawa buku bacaan yang dibutuhkan dalam agenda tersebut,
diantara kawan-kawan yang datang juga diberikan tanggung jawab untuk melibatkan
simpatisan ikut terlibat membaca, begitupun dalam persiapan-persiapannya, Lapak Baca
ini juga disisipkan dengan formulir dan selebaran sebagai bahan Rekruitment anggota
baru. yang hadir dalam agenda tersebut selain kawan-kawan Pembebasan sendiri juga
ada beberapa mahasiswa baru maupun dari anggota organisasi panguyuban, minat
membaca masih sangat sedikit orang, tidak pasti jumlahnya sebab ada yang datang
sedikit membaca langsung beranjak pergi, dan silih berganti. Disaat membaca seiring
juga dilangsungkan diskusi, apa maksud dari tujuan dilaksanakannya Lapak Baca
tersebut kepada setiap mahasiswa yang datang. Begitupun dengan setiap buku yang
dibaca bila tidak mengerti berlangsung diajak diskusi, selain itu berbagi cerita dan
pengalaman dalam berorganisasi.

Jumlah bacaan (BUKU) yang digunakan sebagai bahan bacaan adalah beragam judul,
mulai dari ilmu sosial, panduan berorganisasi dan berjuang, terutama bacaan-bacaan
sejarah masyarakat, serta beberapa buku novel dari Pramoedya Ananta Toer dan Marxim
Gorky. Sekitar 40-an buku, yang dipakai belajar. Sebagai catatannya, buku tersebut bisa
dibaca langsung dan gratis tanpa pungut biaya, bila dibawah harus dilengkapi nama
peminjam, alamat, dan juga dibayar sebagai modal akan dilangsungkan agenda kembali.
Dengan berlangsungnya (Lapak Baca) tersebut tidak ada masalah apa-apa, hingga
berakhirnya pada pukul 15.52 wit. Dan kawan-kawan akhirnya merapikan semua buku-
buku, dan bergegas kembalikan buku pada tempatnya.

Keterangan:

Kronologis di buat oleh Waode Mayani, dan setelahnya dirubah redaksionalnya oleh
Rudhy Pravda


Penulis: Maikel Pigai*

“Mengapa orang asli papua hidupnya bergantung dan terus bergantung?” Begitu pertanyaan seorang kawan saya ketika berjumpa di suatu kesempatan.

“Hhmmmm,” 

“Semua tersistem yang dikendalikan oleh penguasa kapitalis.” Hanya itu jawaban saya.

Ketergantungan

Pertanyaan ini memang sulit sekali untuk kita jawab secara kasat mata. Apa lagi sebagai pemula, ketika menganalisis persoalan yang ada. Tetapi setidaknya saya akan memberikan sedikit pandangan tentang dampak ketergantungan ekonomi borjuis di Papua.

Lingkungan masyarakat Papua, secara khusus terkait dengan dampak dan akibat dari ketegantungan oleh ekonomi kapitalis yang bergulir secara transparan dan dinamis. Memang tak semudah itu kita menganalisanya. Setelah mempelajari sedikit demi sedikit, salah satu masalah utama kita orang Papua akibat terciptanya ketetantungan adalah adanya Otonomi Kusus (Otsus) bagi Papua.

Dengan masuknya Otsus sesudah reformasi 1998 di Indonesia, masyarakat kita semakin hari dimanjakan oleh penguasaan kapitalis di Indonesia.
Bagaimana tidak?

Salah satu dampak dan akibat yang sedang terjadi adalah mulai tersingkirnya cara hidup dan pandangan hidup kita yang lama (budaya), yang dahulunya dipraktekan dan dilakukan oleh orang tua-tua kita dulu menjadi kehidupan dimana kita diperhadapkan dengan sistem yang begitu luar biasa hebat (membunuh).

Orang tua kita dulu, untuk menghasilkan sistem ekonomi dalam sistem kesukuan, pastinya membuat sebuah usaha dalam masyarakat. Misal, kebun, pelihara ternak, dan lain-lainnya yang mampu membangkitkan ekonomi dalam masyarakat itu.

Tetapi paska masuknya Otsus di Papua, semakin hari semakin banyak uang yang beredar dalam masyarakat kita. Diperparah dalam tubuh pemerintah daerah kita sendiri.

Akibat paling fatal adalah orang asli Papua menjadi konsumerisme tertinggi di Indonesia (apa lagi di Papua?).

Disamping itu, pada tubuh pemerintah daerah kita sendiri atau sistem borjuis-borjuis lokal, malah membenarkan siasat itu terjadi.

Ketergantungan itu pun mengerucut juga pada tingkatatan kita mahasiswa. Setidaknya kita mahasiswa Papua se- Jawa dan Bali.

Yang rillnya adalah ketika bantuan-bantuan dana dari pemerintah yang hampir setiap tahunnya di salurkan. Semakin berjalannya waktu, kita yang intelektual sendiri diciptakan ketergantungan yang begitu fatal. Akibatnya penguasaan dan kesadaran akan persoalan, kesadaran akan ekonomi bersama, yang juga pernah dilakukan oleh orang tuah kita dulu semua luntur ditelan sistem kapitalis ini.

Alternatif dan Tawaran Pemikiran!


Saya sebenarnya masih awam. Tidak begitu pahami secara mendalam. Tetapi tawaran pemikiran ini mudah-mudahan bisa diterima oleh kita orang Papua, terlebihnya mahasiswa Papua.

Pertama, membuat sebuah planing yang mampu merangkul semua golongan mahasiswa Papua. Entah dari gunung hingga pantai dan bagaimana kita membicarakan dan mendiskusikan sistem kapitalisme yan sedang menghancurkan Papua.

Kedua, dengan melihat persoalan yang kompleks di masyarakat kita, kita sebagai generasi muda penting untuk memahami, bagaimana membentuk seseorang atau kelompok yang revolusioner dan progresif. Minimal mampu menanggal sistem-sistem tersebut.

Ketiga, Sitem feodal dan sistem komunal yang terbawa hingga tingkatan mahasiswa kita, penting untuk membuka ruang, bagaimana memikirkan langkah menuju masyarakat yang sosialisme. Sosialisme dalam hal ini adalah menciptakan sistem kekerabatan dan penguasaan ekonomi yang berputar hanya di lingkungan mahasiswa Papua saja, minimal. 

Keempat, dari berbagai suku yang ada di Papua, lebih khusus di tingkatan mahasiswa, penting untuk didiskusikan lagi, bagaimana mengkritisi sistem kinerja para borjuis lokal yang menyalurkan dana kepada mahasiswa, dan mencari alternatif untuk membangun sebuah pemahaman baru tentang pembagian dana tersebut. Karena ini kita sudah melampaui batas-batas perbudakan yang sedang digantungkan nasib kita kepada pusat dalam hal ini Jakarta.

Kelima, untuk menghancurkan sistem ini memang tidaklah mudah, penting sekali untuk kita mendiskusikan terus-menerus bagaimana membongkar para borjuis-borjuis kecil di tingkatan mahasiswa. Minimal lewat diskusi terbuka dan biasa.

Penulis adalah  aktivis AMP Komite Kota Yogyakarta
Diberdayakan oleh Blogger.